Kamis , Oktober 22 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Pendidikan Islam / Guru, antara Profesi dan Da’i…
KLIK UNTUK BERINFAK

Guru, antara Profesi dan Da’i…

Guru, antara Profesi dan Da’i…

Tatkala seseorang menyebut profesi “guru” maka sepintas akan  terbayang  bahwa ia sekedar profesi biasa seperti halnya yang lain. Dahulu tidak sedikit yang menganggapnya profesi melelahkan, mata pencaharian kelas menengah ke bawah dan identik dengan banyak hutang sehingga sering disematkan “Pahlawan tanpa tanda jasa”.  Seiring dengan bergulirnya waktu dan perhatian pemerintah yang semakin besar terhadap kesejahteraan guru, profesi ini naik daun dan menjadi incaran pemburu-pemburu sertifikasi yang cukup menggiurkan. Apalagi lapangan kerja di era ini membutuhkan manusia yang memiliki skill khusus bukan hanya yang sekedar pintar “berteori”. Praktis, profesi guru adalah salah satu alternatif di tengah susahnya mencari pekerjaan.  Ironinya asumsi ini justru muncul dari sang guru sendiri. Ia menganggap profesinya tidak terlalu istimewa dan berharga bahkan ia pun tidak menganjurkan anaknya menjadi seorang guru. Benarkah demikian…?

Profesi  Guru dan Pendidik  adalah Risalah

Guru adalah induk profesi karena profesi apa pun yang dilakoni manusia pasti hasil dari jerih payah seorang guru. Guru bukanlah profesi  kebanyakan orang yang sekedar mencari upah dari waktu dan tenaganya namun sejatinya profesi tersebut adalah profesi da’i ,pewaris  Nabi dan Rasul dalam menyambung risalah kepada manusia.  Dari Abu Darda’ ia mendengar Rasululloh ^ bersabda:

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِر

Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi dan para Nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham, mereka hanya mewarisi ilmu barangsiapa yang mengambilnya maka ia telah mengambil  bagian yang besar” (HR. at Tirmidzi  2682 dan dihasankan oleh Syaikh Albani dalam al Misykah 212).

Berkata Ibnul Qoyyim: “Sabda Nabi “Ulama adalah pewaris Nabi” merupakan dalil  bahwasanya mereka adalah orang yang paling dekat dengan para Nabi dalam keutamaan, kedudukan dan martabat. Karena orang yang paling dekat dengan harta warisan tentunya ahli warisnya” (Miftah dar As Sa’adah 1/66).

Dari Abu Umamah al Bahili Rasululloh ^ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى معلم النَّاس الْخَيْرَ

Sesungguhnya Alloh, para malaikatnya serta penduduk langit dan bumi sampai semut kesudi sarangnya dan ikan bershalawat bagi pengajar kebaikan pada manusia (HR. at Tirmidzi Shohih al Jaami’ 811).

Berkata Syaikh Sholih al Munajjid : “Guru merupakan penjaga (agama), pendidik generasi penerus, pemakmur sekolah yang berhak mendapat pahala jihad, ucapan syukur para hamba dan pahala dari Alloh di hari kebangkitan. Namun pembicaraan tentang mereka adalah problematika tersendiri dan  mereka memiliki kegundahan dan kesusahan, cita-cita dan derita, kewajiban dan tanggung jawab” (Nashoih Lil Mu’alimin, Muqaddimah).  

Berkata Syaikh Doktor Utsman Ibnu Hasan: “Seorang guru da’i akan menjaga peranan pentingnya dan bertekad melakukan tugasnya sebagai bentuk ibadah dan risalah yang harus disampaikan. Ia semangat atas hal tersebut baik pada jadwal resmi maupun tidak. Madrasah atau Universitas hanya sebagai wadah yang Alloh mudahkan untuk menunaikan kewajiban ini. Oleh karena itu ia tidak pernah berhenti  dari kewajiban ini sekalipun berbeda wadah dan spesialisasi. Nabi Yusuf adalah seorang da’i baik itu di rumah al ‘Aziz (Raja Mesir) sebagai pelayan, di penjara sebagai tahanan maupun tatkala menjadi menteri di kerajaan. Perbedaan ranah tugas dan keadaannya tidaklah menjadikan ia berhenti menjadi seorang da’i” (al Mu’allim Bainal wajibil wadzhify ila wajibi ar Risaly hal. 10).  

Profesi Guru dan Pendidik juga  Amanah…

Mengajar dan Mendidik termasuk amanah yang sangat besar sebagai tuntutan dari zakat ilmu  yang dimiliki seseorang. Alloh Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya (QS. an Nisaa’: 58).

Rasululloh bersabda: “Tidak akan bergeser dua kaki hamba pada hari kiamat sampai ditanya tentang umurnya dalam hal apa dihabiskan, tentang ilmunya dalam hal apa ia amalkan, tentang hartanya dariama diperoleh dan kemana dibelanjakan dan tentang badannya dalam hal apa ia rusakkan” (HR. at Tirmidzi 2531, Shohih at Tirmidzi 1969). 

Amanah bagi seorang guru adalah menjaga semua hak, kewajiban dan segala sesuatu yang bersifat materi maupun maknawi baik itu terhadap Alloh dan manusia lain baik itu kantor, murid maupun wali murid.

Amanah guru sejatinya adalah memberikan hak profesinya dengan mengerahkan semua usahanya untuk memberikan pelajaran dan manfaat kepada muridnya dan tidak menyembunyikan ilmu kepada mereka.

Amanah seorang guru terhadap kantornya adalah multazim dengan syarat dan perjanjian yang telah dibuat, jam mengajar yang telah ditentukan, menjunjung nama madrasah dengan profesionalitas kerja, kredibilitas dan inovasi.

Adapun Amanah guru terhadap muridnya adalah dengan bersemangat memberikan pengajaran  dan pelajaran, mencurahkan nasehat buat mereka, menumbuhkan kreatifitas mereka, mendukung mereka untuk cinta membaca dan menela’ah, menyukai kebaikan buat mereka seperti layaknya orang tua yang selalu mendampingi mereka.

Amanah guru terhadap wali murid yakni dengan mengadakan hubungan dengan mereka, memberikan laporan terhadap mereka tentang perkembangan anak-anaknya dan mengatasi masalah-masalah yang muncul  pada diri murid bekerja sama dengan orang tua mereka (Makalah Min Sifatil Mu’allim as Sidqu al Amanah, DR. Thoha Faris).

Nafkah Guru/Pendidik antara dunia dan akhirat…

Masalah mencari nafkah untuk menghidupi diri sendiri, keluarga maupun orang tua merupakan masalah syar’i  bukan hanya sekedar duniawi.

Dari Ka’b bin ‘Ujroh t ia berkata: ‘Seorang laki-laki melewati nabi r kemudian para sahabatnya melihat bagaimana kuat dan rajinnya laki-laki tersebut lalu mereka berkata: ‘Wahai Rasululloh r seandainya hal ini di jalan Alloh’. Rasululloh r bersabda:

إِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى وَلَدِهِ صِغَارًا فَهُوَ سَبِيْلُ اللهِ وَإِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى أَبَوَيْنِ شَيْخَيْنِ كَبِيْرَيْنِ فَهُوَ فِي سَبِيْلِ اللهِ وَإِنْ كَانَ يَسْعَى عَلَى نَفْسِهِ يَعِفُّهَا فَهُوَ فِي سَبِيْلِ اللهِ وَإِنْ كَانَ خَرَجَ رِيَاءً وَمُفَاخَرَةً فَهُوَ فِي سَبِيْلِ الشَّيْطَانِ

Jika ia keluar berkerja untuk menghidupi anaknya yang masih kecil maka dia fi sabilillah (di jalan Alloh), jika ia keluar berkerja untuk kedua orang tuanya yang telah lanjut usia maka ia fi sabilillah, jika ia keluar bekerja untuk menjaga kehormatan dirinya dari meminta-minta maka ia fi sabilillah dan jika ia keluar karena riya’ dan sombong maka ia di jalan syaiton (HR. At Thobroni dalam Al Mu’jam Al Kabir 19/129. Berkata Al Mundziri: “rentetan perawi haditsnya shohih dan dishohihkan oleh Syaikh Albani dalam Shohih At targhib 1692).

Dari Anas bin Malik Rasululloh r bersabda: “Tidaklah seorang muslim menanam tanaman atau pohon kemudian dimakan oleh burung, manusia atau hewan ternak melainkan akan menjadi shodaqoh (baginya) ” (HR. al Bukhori dan Muslim).

Adapun hadits dari Abu Hurairah bahwasanya Rasululloh r bersabda: “Barangsiapa yang mempelajari ilmu agama yang seharusnya untuk mencari wajah Alloh, ia tidak mempelajarinya melainkan hanya untuk mendapatkan bagian dunia maka ia tidak akan mencium harumnya surga pada hari kiamat” (HR. al Hakim 1/85, Abu Dawud 3664); ancaman ini hanya untuk orang yang tujuannya dunia semata tanpa melihat akhirat. Adapun yang menginginkan akhirat dengan ilmunya namun ia mendapat upah dari dunia maka tidaklah masuk dalam ancaman tersebut. Para fuqaha menjelaskan tentang bolehnya menggabungkan niat seperti dalam  haji :

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلا مِنْ رَبِّكُمْ

Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu (QS. al baqarah: 198).

Maka harus dibedakan antara orang yang mengambil dunia agar konsentrasi untuk amalan akhirat dengan orang yang melakukan amalan akhirat untuk tujuan dunia, renungkanlah karena banyak orang yang salah paham” (al Mirqoh Syarhul al Misykah, Mula ‘Ali al Qory 1/287).

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah:

وجماع هذا : أن المستحب : أن يأخذ [يعني : المال] ليحج ، لا أن يحج ليأخذ ، وهذا في جميع الأرزاق المأخوذة على عمل صالح ، فمن ارتزق ليتعلم ، أو ليعلِّم ، أو ليجاهد : فحسن ، كما جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : ( مثل الذين يغزون من أمتي ويأخذون أجورهم مثل أم موسى ترضع ابنها ، وتأخذ أجرها ) ، شبههم بمن يفعل الفعل لرغبة فيه كرغبة أم موسى في الإرضاع ، بخلاف الظئر المستأجر على الرضاع إذا كانت أجنبية .وأما من اشتغل بصورة العمل الصالح لأن يرتزق : فهذا من أعمال الدنيا ، ففرق بين من يكون الدين مقصوده والدنيا وسيلة ، ومن تكون الدنيا مقصوده ، والدين وسيلة ، والأشبه : أن هذا ليس له في الآخرة من خلاق ، كما دلت عليه نصوص ، ليس هذا موضعها .

“Kesimpulannya yang dianjurkan adalah mengambil (mencari) harta untuk berhaji bukan haji untuk mencari harta. Hal ini pada semua rizki yang diperoleh dari amal sholih. Barangsiapa yang mencari rizki untuk belajar, mengajar atau berjihad maka itulah yang baik sebagaimana yang datang dari Nabi beliau r bersabda: “Permisalan orang-orang yang berperang dari ummatku dan mendapatkan upah (ghanimah) semisal Ibunya Musa yang menyusui anaknya dan mendapatkan upahnya”. Nabi menyerupakan mereka dengan orang-orang yang melakukan suatu pekerjaan karena menyukainya sebagaimana cintanya Umi Musa menyusui anaknya berbeda dengan tukang-tukang menyusui sewaan yang bukan ibunya. Adapun orang yang menyibukkan diri dengan bentuk amalan akhirat untuk mencari rizki, ini termasuk amalan dunia maka bedakanlah antara yang menjadikan agama adalah tujuan dan dunia sekedar perantara dan antara orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan dan akhirat sebagai perantara. Yang benar, perbuatan ini (berhaji untuk mencari uang) tidak akan mendapat bagian di akhirat sebagaimana dalil-dalil yang datang dan bukan di sini pembahasannya” (Majmu’ al Fataawa 26/19,20).

Wallohul Muwaffiq.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Menyoroti Pola Hidup Boros

Menyoroti Pola Hidup Boros                 Perkembangan kehidupan manusia yang semakin komplek dan maju cenderung untuk …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *