Senin , Desember 10 2018
Breaking News
Home / Belajar Islam / Fiqih / Fiqih Ramadhan Bag.2 : Hukum Berpuasa Pada Bulan Ramadhan

Fiqih Ramadhan Bag.2 : Hukum Berpuasa Pada Bulan Ramadhan

Fiqih Ramadhan Bag.2

Hukum Berpuasa Pada Bulan Ramadhan

Berpuasa pada bulan ramadhan hukumnya wajib bagi tiap-tiap muslim yang balig, berakal, sehat dan mukim (tidak dalam keadaan bepergian), dan ia salah satu rukun islam yang lima.

Puasa ramadhan diwajibkan pada tahun 2 hijriyah, awal mula diwajibkannya, seseorang dibolehkan memilih antara berpuasa dan memberi makan fakir miskin. Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berpuasa selama 9 ramadhan menurut ijma’ ‘Ulama.

imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

وكان فرضه في السنة الثانية من الهجرة ، فتوفي رسول الله وقد صام تسع رمضانات

“Puasa ramadhan diwajibkan pada tahun ke dua hujriyah, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal dan beliau telah berpuasa 9 ramadhan

Dalil-dalil wajibnya berpuasa bersumber dari Al-qur’an, Sunnah dan Ijma’ ‘Ulama :

A. Dalil dari Al-Qur’an

Firman Allah Subhanahu Wata’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah : 183)

B. Dalil-dalil dari sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, ia berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda :

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ ، وَ إِقَامِ الصَّلَاةِ ، وَ إِيْتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَ حَجِّ الْبَيْتِ ، وَ صَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun di atas lima : persaksian bahwa tidak ada Rabb yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, naik haji, dan puasa pada bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Thalhah bin ‘Abdullah radhiallahu ‘anhu, ia berkata :

أن أعرابيا جاء إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم ثائر الرأس – وفيه – فقال: أخبرني بما فرض الله عليّ من الصيام، فقال: رمضان إلا أن تطوع شيئا.

“Seorang arab pedalaman datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam keadaan rambutnya yang kusut, laki-laki itu berkata : ‘Beritahulah aku apa yang diwajibkan atasku dari puasa.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menjawab, Puasa Ramadhan, kecuali kalau engkau mau puasa sunnah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

C. Dalil ijma’ ‘Ulama

Para ‘Ulama telah sepakat bahwa puasa merupakan salah satu rukun islam yang wajib diketahui, orang yang mengingkarinya telah dinyatakan kafir oleh para ‘Ulama.

Perintah wajibnya berpuasa telah melalui tiga tahapan :

  • Tahapan pertama : Puasa ‘Asyura, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, memerintahkan untuk berpuasa pada hari ‘asyura’, sebelum adanya kewajiban berpuasa pada bulan ramadhan.

Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma berkata :

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ، فَلَمَّا قَدِمَ المَدِينَةَ صَامَهُ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

“Dulu, orang-orang Quraisy berpuasa di hari ‘Asyura di masa jahiliyyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berpuasa di hari tersebut (di masa jahiliyyah). Ketika beliau tiba di Madinah, beliau mengerjakan puasa ‘Asyura dan memerintahkan kepada para sahabat untuk berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Tahapan kedua : Kewajiban berpuasa pada bulan ramadhan, akan tetapi diperbolehkan memilih antara berpuasa dan fidyah (memberi makan fakir miskin).

Allah Ta’ala berfirman,

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) untuk membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 184)

  • Tahapan ketiga : Kewajiban puasa ramadhan, dan tidak ada pilihan memberi makan fakir miskin.

Allah Ta’ala berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185) 

Hikmah diturunkannya perintah puasa secara bertahap :

Supaya mudah diterima, karena dalam berpuasa terdapat kesusahan, seorang yang berpuasa akan meninggalkan  makan dan minum dari sejak terbitnya fajar shadiq sampai terbenamnya matahari.

 

Referensi :

  1. Shahih Fiqhussunnah, Syaikh Abu Malik Kamal Salim
  2. Tadhihul Ahkam, Syaikh ‘Abdullah Al-Bassam
  3. Talkhish Kitab Shiyam Min Syarh Mumti’, Syaikh Shulthan Asy-Syamri
  4. Al-Yaqut Wal Marjan Fi Ahkam Syahri Ramadhan, Syaikh Luthfi Shalih Al-Katsiri
  5. Fiqhussunnah, Sayid Saabiq -Rahimahullah-.

 

Selesai ditulis ba’da isya’, malam ahad 29 Rajab 1439 H / 14 April 2018, Ponpes Al-Mahmud Aik Ampat, Lombok Barat

Bahrul Ulum Ahmad Makki

Please follow and like us:
0

About Bahrul Ulum Ahmad Makki

Riwayat pendidikan : SDN 7 Kediri Lobar, MTs-MA Pondok Pesantren Selaparang NW kediri Lombok Barat,Ma'had Imam Syafi'i Cilacap, Ma'had Aly Al-Irsyad Surabaya, Takmily LIPIA Jakarta, Darul Hadits Republik Yaman ( Syaikh Abul Hasan Al-Ma'riby dan Syaikh Muhammad Al-Imam Ma'bar), Universitas Yemenia - Yaman, Universitas Muhammadiyah Surabaya ( Pascasarjana )

Check Also

Hukum Mencela Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Hukum Mencela Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Lanjutan Syarah Lamiyah Ibnu Taimiyah Bait ke-4) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Please like this page and share it