Sabtu , Oktober 24 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Faedah di balik larangan ikhtilath
KLIK UNTUK BERINFAK

Faedah di balik larangan ikhtilath

Faedah di balik larangan ikhtilath

Tatkala Islam memerintahkan sesuatu maka pasti ada manfaat dan maslahat yang besar bagi manusia. Demikian pula tatkala Islam melarang untuk melakukan sesuatu berarti di sana ada bahaya dan kerusakan yang akan terjadi tatkala menerjangnya.

Tidak diragukan lagi bahwa terjadinya degradasi moral berupa fitnah syahwat di masyarakat dewasa ini disebabkan karena keluarnya para wanita ke medan kerja,  sekolah, pasar dan tempat lainnya. Hal ini berdampak kepada terjadinya pembauran antara laki-laki dan perempuan yang dikenal dalam agama Islam sebagai ikhtilath.

Ikhtilath antara laki-laki dan perempuan ada tiga macam:

  1. Ikhtilath antara sesama mahrom yang diizinkan oleh syari’at (Lihat surat an Nisaa’: 23, an Nuur: 31).
  2. Ikhtilath yang mendapat dosa karena ada tujuan tertentu seperti berzina dan merusak moral serta kehormatan (QS. al Israa’: 32).
  3. Ikhtilath dengan ajnabi (orang yang bukan mahrom) di tempat belajar, bekerja, di jalan-jalan, rumah sakit, kendaraan angkutan dan lain-lain yang mengantarkan kepada terfitnahnya laki-laki dengan perempuan dan wanita dengan para pria. Jenis yang ketiga ini dilarang dalam syari’at karena akan mengantar kepada ikhtilat jenis kedua sebagaimana dalam qoidah ushul fiqh:

اَلْوَسَائِلُ لَهاَ حُكْمُ الْمَقَاصِدِ     , وَسِيْلَةُ الْمَقْصُوْدِ مَقْصُوْدَةٌ

“Perantara hukumnya sama dengan tujuan”.  “Perantara untuk mencapai tujuan hukumnya sama dengan tujuan”.

Alloh Ta’ala berfirman :

وَقَرْنَ فِى بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ ٱلْأُولَىٰ 

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu (QS. al Ahzab: 33). Dalam medan ibadah pun ikhtilath ini dilarang sebagaimana sabda Nabi :

خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

Sebaik-baik shaf lelaki adalah awalnya dan yang paling jelek adalah akhirnya dan sebaik-baik shaf wanita adalah akhirnya dan sejelek-jeleknya adalah awalnya (HR. Muslim 1013). Ummu ‘Athiyyah rodhiyallohu ‘anha berkata :

كُنَّا نُنْهَى عَنِ اتِّبَاعِ الْجَنَائِزِ وَلَمْ يُعْزَمْ عَلَيْنَا

Kami dilarang mengiringi jenazah dan tidak diwajibkan atas kami (HR. Muslim 2166).

Jika ditilik secara seksama akan diperoleh manfaat dan faedah yang besar dari larangan ikhtilath, diantaranya:

  1. Meninggikan harkat dan martabat kaum wanita

Dengan menetapnya seorang wanita di dalam rumah, maka dia telah mengagungkan perintah Alloh sehingga kecintaan Alloh pun dapat ia raih. Berbeda dengan jika ia memilih lebih suka di luar rumah maka ia telah menyukai apa yang tidak disukai Robbnya sehingga tidak satu pun manusia yang akan memuliakannya. Alloh Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ ۚ

Dan Barangsiapa yang dihinakan Allah Maka tidak seorangpun yang memuliakannya (QS. al Hajj: 18).

Pelecehan terhadap wanita justru  terjadi tatkala wanita ingin seperti para pria dalam semua hal dan tidak mau mengikuti koridor syar’i.

2. Membendung  terjadinya perzinaan dalam masyarakat

Wanita adalah aurat dan tatkala ia keluar syaiton akan menghiasinya sehingga memfitnah banyak manusia. Oleh karena itu hancurnya moral suatu ummat tidak lain karena wanita dan harta. Rasululloh r bersabda:

فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِى إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِى النِّسَاء

Takutlah kepada dunia dan wanita karena fitnah yang pertama kali menimpa bani Isroil adalah karena wanita (HR. Muslim 3989).

3. Bentuk pelaksanaan amanah Alloh

Generasi muda sangat membutuhkan kasih sayang dan asuhan lembut dari seorang ibu untuk pembentukan kepribadiannya. Tatkala hal itu tidak dijumpai di  rumahnya maka ia akan mencari figur-figur teladan yang nota bene akan merusak akhlak dan agamanya.  Dengan menetapnya seorang ibu di dalam rumahnya maka akan mudah melaksanakan amanat yang dipikulkan Alloh kepada mereka. Rasululloh r bersabda:

وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ

Wanita adalah pengurus terhadap anggota keluarga suaminya dan anaknya dan ia akan ditanya tentang mereka (HR. al Bukhori 7138, Muslim 1829).

4. Menjaga akhlaq dan moral generasi muda

Sekolah atau kuliah yang hanya berorientasi gelar, pekerjaan, harta, ketenaran dan produk materialistis lainnya tidak akan menghasilkan lulusan kecuali sesuai dengan pola pendidikan tersebut. Apalagi dalam proses pendidikan tersebut tidak ada batasan antara laki dan perempuan. Ditambah lagi tidak sedikit guru perempuan yang berpakaian ala kadarnya setiap hari berpose di depan murid-muridnya yang sudah baligh dan dalam masa pubertas. Bagi mereka yang lemah imannya tidak usah ditanyakan lagi bagaimana mereka menyalurkan syahwatnya. Alhasil, hanya kerusakan akhlaq yang bisa dipetik. Rasululloh r bersabda:

إِذَا عُمِلَتِ الْخَطِيئَةُ فِى الأَرْضِ كَانَ مَنْ شَهِدَهَا فَكَرِهَهَا كَمَنْ غَابَ عَنْهَا وَمَنْ غَابَ عَنْهَا فَرَضِيَهَا كَانَ كَمَنْ شَهِدَهَا

Jika dikerjakan dosa di muka bumi maka bagi yang menyaksikannya kemudian ia membencinya (dalam riwayat lain: ia mengingkarinya) maka ia seperti orang yang tidak menyaksikannya dan barangsiapa yang tidak menyaksikannya sedangkan ia meridhoinya maka seolah seperti orang yang menyaksikannya (dalam dosa) (HR. Abu Dawud 4345, Shohihul Jaami’ 702).

Maka sudah semestinya kaum muslimin berfikir dan menerapkan sekolah yang memisahkan antara laki dan perempuan sebagaimana yang diperintahkan oleh Alloh dan RasulNya untuk bisa mewujudkan keturunan yang sholih dan sholihah.

5. Memberikan kesempatan para pria sebagai kepala keluarga untuk dapat memperoleh pekerjaan dan penghasilan.

Islam tidaklah melarang kaum perempuan untuk bekerja apalagi jika tidak ada yang memberikannya nafkah asalkan memenuhi syarat-syarat syar’I yaitu aman dari fitnah, berpakaian syar’I dengan menutup seluruh tubuhnya dengan baju kurung, berjalan di bagian pinggir, tidak memakai wangian, dan tidak ikhtilath di tempat kerja.

Adapun bagi mereka yang masih mempunyai suami atau wali yang berkewajiban memberikan nafkah maka sebaiknya ia tidak memilih berkerja di luar rumah untuk menjaga kehormatan diri dan  agamanya disamping agar kaum lelaki bisa mendapatkan lapangan pekerjaan yang lebih luas.

Akhirnya kita memohon kepada Alloh agar memperbaiki urusan kaum muslimin. Wallohul musta’an.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Tampil Beda dengan Syaiton

Tampil Beda dengan Syaiton Sesungguhnya Alloh menguji para hambaNya di dunia dengan musuh yang selalu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *