Senin , Oktober 26 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Adab / Etika Meruqyah
KLIK UNTUK BERINFAK

Etika Meruqyah

Etika Meruqyah

Ruqyah adalah mengobati orang yang sakit dengan membaca sebagian al Qur’an al Karim dan nama serta sifat Alloh serta do’a-do’a yang disyari’atkan dengan tujuan agar penyakit tersebut hilang (Mukhtasor Ruqyah Syar’iyyah hal.4).

Meruqyah diperbolehkan dengan tiga syarat:

  1. Menggunakan kalamulloh (al Qur’an), asmaNya dan sifatNya.
  2. Hendaknya menggunakan bahasa arab atau bahasa lain yang dipahami maknanya bukan dengan ucapan-ucapan yang tidak jelas (atau mengandung kesyirikan).
  3. Hendaknya meyakini bahwa ruqyah tersebut tidak dapat memberikan pengaruh kecuali dengan izin Alloh (ad Dinul Kholish 7/120).

Meruqyah diperkenankan untuk semua penyakit baik yang menimpa jiwa, hati maupun anggota badan.

  • Meruqyah hati yang sakit karena tertimpa musibah atau suatu kesedihan adalah dengan membaca (sebagaimana dalam riwayat Muslim 918):

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا

  • Tentang cara meruqyah sengatan dijelaskan dalam hadits Abdulloh bin Mas’ud ia berkata: “Tatkala Rasululloh sholat, di saat beliau sujud tiba-tiba disengat oleh kalajengking pada jarinya. Kemudian Rasululloh salam sambil berkata: ”Semoga Alloh melaknat kalajengking tersebut, ia tidak meninggalkan nabi atau selain nabi kecuali disengatnya”.Lalu beliau meminta bejana yang berisi air dan garam kemudian memasukkan jari yang tersengat ke dalam rendaman air dan garam sambil membaca :”Qul huwallohu ahad” dan al Mu’awwidzatain (Al Falaq dan an Naas) sampai normal kembali (Shohih Sunan Ibnu majah 1030).
  • Adapun meruqyah luka atau sayatan yang ada di anggota badan dengan cara mengambil air liur dengan jari telunjuk kemudian meletakkannya di tanah. Setelah itu ditempelkan di luka tersebut seraya mengucapkan:

بِسْمِ اللهِ تُرْبَةُ أَرْضِنَا بِرِيقَةِ بَعْضِنَا يُشْفَى سَقِيمُنَا بِإِذْنِ رَبِّنَا

Bismillah, dengan tanah bumi kami, dengan air liur sebagian kami akan disembuhkan orang yang sakit diantara kami dengan izin Robb kami (HR. al Bukhori 5746).

Berkata Ibnul Qoyyim : “Tanah yang murni memiliki tabiat lebih dingin lagi basah dibandingkan dengan semua obat dingin yang murni sehingga dinginnya tanah akan berinteraksi dengan panasnya penyakit tersebut lebih-lebih lagi jika tanah tersebut dicuci dahulu kemudian dikeringkan” (Tibbun Nabawi 135).

  • Jika di dalam tubuh sendiri ada yang dirasakan sakit maka cara meruqyahnya adalah dengan meletakkan tangan pada bagian tubuh yang sakit kemudian membaca : “Bismillah (tiga kali) dan mengucapkan tujuh kali :

 أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

Saya berlindung kepada Alloh dan kekuasaanNya dari kejelekan apa yang aku rasakan dan khawatikan (HR. Muslim 2202).

Apabila yang merasakan sakit tersebut adalah keluarganya atau orang lain maka usapkanlah pada bagian yang sakit tersebut dengan tangan kanan seraya mengucapkan:

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ  أَذْهِبِ الْبَأسَ واشْفِ أَنْتَ الشَّافِى لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا.

Wahai Robb manusia, hilangkanlah penyakit tersebut, sembuhkanlah karena Engkau adalah Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dariMu, kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit (HR. Muslim 918 dan yang lainnya).

Adapun Adab dan tata cara meruqyah penyakit ‘ain (pandangan mata jahat atau dengki dari jin atau manusia) dan kesurupan baik karena sihir maupun yang lainnya adalah dengan cara:

  1. Menumbuk tujuh lembar daun bidara diantara dua batu kemudian menuangkannya air ke dalamnya lalu membaca berturut-turut : Ta’awwudz , Surat al baqarah (ayat 102, ayat 161-166, ayat 255 (ayat kursi), ayat 285- 286, Ali Imran (ayat 18-19, ayat 26-27, ayat 173-175), al A’raaf: (117-122) , Yunus (79-82), Thaha (65-70), As Shaffat (ayat 1-10), al Ahqaf (ayat 29-32), al Jin (ayat 1-9),  kemudian membaca Bismillah kemudian surat al kaafirun, al ikhlas, al falaq, dan an naas. Setelah itu air tersebut diminumkan tiga kali kemudian sisanya digunakan mandi. Tidak mengapa dilakukan berkali-kali sampai pengaruh kesurupan tersebut hilang (as shorimul Battar 109-117). Diperbolehkan juga membaca ayat-ayat al Qur’an yang lain karena ia obat dari semua penyakit (QS. Al Israa’:82).
  2. Membaca surat al fatihah, ayat kursi, dua ayat terakhir dari surat al Baqarah, surat al falaq dan an Naas tiga kali atau lebih sambil mengusap kepala atau wajah si sakit seraya meniupkannya. Atau dengan membaca do’a-do’a ruqyah berikut:

 

  • أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ (7x) [1]
  • أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ [2]
  • أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ[3]
  • أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ غَضَبِهِ وَشَرِّ عِبَادِهِ وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَنْ يَحْضُرُونِ[4]
  • أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ الَّتِي لَا يُجَاوِزُهُنَّ بَرٌّ، وَلَا فَاجِرٌ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ، وَذَرَأَ وَبَرَأَ ، وَمِنْ شَرِّ مَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ، وَمِنْ شَرِّ مَا يَعْرُجُ فِيهَا، وَمِنْ شَرِّ مَا ذَرَأَ فِي الْأَرْضِ، وَمِنْ شَرِّ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا، وَمِنْ شَرِّ فِتَنِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَمِنْ شَرِّ كُلِّ طَارِقٍ إِلَّا طَارِقًا يَطْرُقُ بِخَيْرٍ، يَا رَحْمَنُ[5]
  • بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ مِنْ كُلِّ شَىْءٍ يُؤْذِيكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ اللَّهُ يَشْفِيكَ بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ[6]
  • بِاسْمِ اللَّهِ يُبْرِيكَ وَمِنْ كُلِّ دَاءٍ يَشْفِيكَ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ وَشَرِّ كُلِّ ذِى عَيْنٍ[7]
  1. Hendaknya setelah selesai membaca masing-masing do’a tersebut lalu ditiupkan ke tubuh si sakit.
  2. Bagi orang yang meruqyah hendaknya harus membekali dirinya dengan takwa, niat yang ikhlas, memiliki aqidah yang shohihah, dan kuat iman serta tawakkalnya kepada Alloh Ta’ala karena do’a-do’a ruqyah tersebut sekedar senjata dan senjata tergantung siapa yang memainkannya (Zadul Ma’aad 4/154).
  3. Hendaknya orang yang meruqyah membuang rasa ‘ujub, takabbur dan riya’ jika sang pasien tersebut sembuh karena yang menyembuhkan adalah Alloh bukan dirinya.
  4. Bagi orang yang meruqyah orang yang kesurupan jin hendaknya menghindari pelanggaran-pelanggaran syar’I tatkala meruqyah, diantaranya:

a. Berkhalwat dengan pasien wanita dan menyentuh tubuhnya atau melembut-lembutkan dalam berbicara (QS. Al Ahzab: 32).

b. Menjadikan ruqyah sebagai profesi.

c. Menerka-nerka perkara ghaib semisal mengatakan bahwa jin yang ada di dalam tubuh si sakit tersebut bisu tidak bisa bicara!?

d. Mempercayai semua yang dikatakan jin tersebut seperti perkataan sebagian jin: “Saya dikirim oleh si fulan/fulanah” dengan tujuan mengadu domba sesama manusia. Hal itu karena sifat jin jahat kebanyakan pendusta.

e. Berlebihan dalam memukul si sakit sehingga menimbulkan luka, mencekik atau menyakiti si sakit dengan sengatan listrik. Seharusnya bagi orang yang meruqyah untuk menyuruh jin tersebut keluar terlebih dahulu sambil mendakwahkannya (as Shohihah 485).

Syaikh Islam berkata : “Kesurupan dapat terjadi pada manusia karena syahwat, hawa nafsu dan mabuk cinta dari sang jin sebagaimana ini juga terjadi pada sesama manusia. Kadang-kadang mayoritasnya adalah karena faktor marah dan  benci seperti diganggu oleh manusia atau mereka menyangka bahwa manusia tersebut sengaja menganggu mereka baik itu dengan mengencingi mereka, menuangkan air panas atau membunuh teman-teman mereka sekalipun manusia tersebut tidak sengaja/tidak tahu. Karena diantara bangsa jin juga ada yang jahil atau dzholim sehingga mereka membalasnya secara berlebihan. Terkadang juga karena usil dan nakal seperti bangsa manusia… Apabila jin melampaui batas terhadap manusia maka hendaknya dijelaskan tentang hukum Alloh dan RasulNya, ditegakkan hujjah kepadanya, disuruh mengerjakan yang ma’ruf dan dilarang dari yang mungkar sebagaimana dakwah kepada manusia” (Majmu’ fatawa 19/39, 42). Oleh karena itu diperbolehkan untuk berbicara dengan sang jin sekedar untuk mendakwahinya.

f. Meruqyah secara berjama’ah dengan menggunakan pengeras suara.

Berkata Lajnah Daaimah : “Meruqyah hendaknya dilakukan langsung pada si sakit bukan dengan menggunakan pengeras suara atau lewat HP karena hal tersebut menyelisihi amalan Rasululloh dan para sahabatnya…” (Fatwa no. 20361, tanggal 17/4/1419H).

 


[1] HR. Abu Dawud (3106), at Tirmidzi (2083), Shohihul Jaami’ (322).

[2] HR. al Bukhori (3191).

[3] HR. Muslim (2708)

[4] HR. Abu dawud (3893), at tirmidzi (3528), Shohih.

[5] HR. Ahmad (3/319) As Shohihah (840)

[6] HR. Muslim (2186)

[7] HR. Muslim (2185)

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah Bulan romadhon…bulan yang membawa suka cita bagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *