Kamis , Oktober 22 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Adab / Etika Mengucapkan Salam
KLIK UNTUK BERINFAK

Etika Mengucapkan Salam

Etika Mengucapkan Salam

Sudah menjadi tradisi bagi kamu muslimin di Indonesia tatkala hari raya untuk bersilaturrohim kepada keluarga dan sanak kerabat serta para sahabat. Tentunya interaksi awal dari kebiasaan tersebut adalah mengucapkan salam kepada siapa saja yang ditemuinya di jalan. Bagaimana adab dan tata cara mengucapkan salam yang sesuai dengan syari’at. Marilah kita ikuti ulasan berikut ini.

a. Mengucapkan salam hukumnya sunnah sedangkan menjawabnya adalah wajib. Rasululloh bersabda: “Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, tidaklah kalian beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah kalian saya tunjukkan sesuatu yang jika kalian melakukannya kalian akan saling mencintai ? Sebarkanlah salam diantara kalian” (HR. Muslim 54).

Dalil wajibnya menjawab salam adalah firman Alloh Ta’ala (yang artinya) :

Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa (QS. An Nisaa’: 86).

b. Tata cara mengucapkan salam dijelaskan dalam hadits Abu Hurairoh bahwasanya ada seseorang melewati Rasululloh yang sedang duduk kemudian ia mengucapkan : السلام عليكم maka Nabi berkata: “Sepuluh pahala”. Kemudian lewatlah yang lain seraya mengucapkan : السلام عليكم ورحمة الله maka beliau berkata :” Dua puluh pahala”. Lalu lewatlah orang ketiga seraya mengucapkan السلام عليكم ورحمة الله وبركاته maka beliau berkata: “Tiga puluh pahala” (HR. at tirmidzi 2689, Shohih al Adab al Mufrod 986).

c. Jika seseorang mengucapkan salam kepada orang banyak maka yang utama bagi orang-orang tersebut adalah menjawabnya. Namun jika salah seorang saja yang menjawab maka yang lain tidak berdosa.

Ali bin Abi Tholib berkata:Cukup bagi sekelompok jama’ah yang lewat untuk mengucapkan salam seorang saja dan bagi yang menjawab salam satu orang juga” (HR. Abu Dawud 5210, Irwaul Ghalil 778).

d. Dianjurkan untuk mengulangi salam tiga kali jika belum di dengar atau orang yang disalami sangat banyak.

Dari Anas bin malik bahwasanya Nabi jika beliau berkata sesuatu beliau mengulanginya tiga kali dan jika ada sekelompok orang yang datang kemudian salam kepada beliau maka beliau menjawabnya tiga kali (HR, al Bukhori 6244).

e. Termasuk sunnah adalah mengeraskan dalam mengucapkan salam dan menjawabnya.

Dari Tsabit bin ‘Ubaid ia berkata : “Aku mendatangi majelis yang di sana ada Abdulloh bin ‘Umar kemudian beliau berkata: “Jika kamu salam maka perdengarkanlah karena ia adalah salam yang diberkahi lagi sangat baik” (HR. al Bukhori dalam ‘al Adabul Mufrod 1005, Syaikh Albani berkata: “Shohih”).

Berkata Imam an Nawawi : “Minimal bagi seorang muslim yang menunaikan sunnah salam ini untuk mengangkat suaranya sehingga bisa memperdengarkan orang yang disalami. Jika ia tidak memperdengarkannya maka ia tidak dikatakan menyebarkan salam. Jika seperti itu maka tidaklah wajib menjawabnya karena kewajiban menjawab salam tersebut jika suaranya diangkat sehingga orang yang disalami mendengarnya” (al Adzkar hal. 354-355).

f. Termasuk sunnah orang yang berkendara mengucapkan salam kepada orang yang jalan, Orang yang berjalan kepada orang duduk, Orang yang sedikit kepada orang yang banyak dan orang yang muda kepada yang tua.

Rasululloh bersabda: “Orang yang berkendara salam kepada orang yang berjalan, yang berjalan kepada yang duduk dan yang sedikit kepada yang banyak” (HR. Muslim 2160).

Dalam riwayat Bukhori :”Orang yang muda kepada yang tua”. Hikmahnya adalah agar orang yang berkendara tersebut tawadhu’ dan tidak sombong dan besarnya hak orang yang lebih banyak atas orang yang lebih sedikit dan orang yang lebih tua terhadap yang muda (al Fath 11/19).

Adapun jika mereka semua berkendara atau berjalan kaki atau umurnya sebaya maka yang lebih afdhol adalah yang paling dahulu mengucapkan salam sebagaimana hadits Jabir : “Jika dua orang yang berjalan bertemu maka yang lebih dahulu mengucapkan salam yang lebih afdhol” (HR. al Bukhori dalam “al Adab” 994, Silsilah as Shohihah 1146).

Berkata Ibnu Rusyd : “Apabila yang berkendara orang tua sedangkan yang berjalan yang lebih muda maka yang lebih muda yang dahuluan mengucapkan salam” (al Fath 11/17).

g. Jika ada dua orang berjalan kemudian keduanya dipisahkan oleh batu, pohon, dinding atau dinding maka hendaknya mengucapkan salam jika bertemu lagi (HR. Abu dawud 5200, Syaikh albani berkata: Shohih mauquf dan marfu’).

h. Bolehkan mengucapkan salam kepada seorang wanita ajnabi ? Berkata Sholih bin Ahmad bin Hambal : ”Saya bertanya kepada ayahku, apakah boleh salam diucapkan kepada perempuan? Beliau menjawab: “Jika ia wanita lanjut usia maka tidak mengapa, adapun kalau masih muda jangan diucapkan” (al Adab as Syar’iyyah 1/352).

Namun apabila perempuan tersebut banyak maka tidak mengapa sebagaimana hadits Asma binti Yazid, ia berkata: “Pernah Rasululloh melewati kami sekelompok wanita kemudian beliau salam kepada kami” (HR. Abu Dawud 5204, Syaikh Albani berkata: “Shohih”).

i. Dianjurkan mengucapkan salam kepada anak kecil untuk mengajarkannya adab-adab Islami. Dari Anas bin Malik bahwasanya ia pernah berjalan bersama Rasululloh, kemudian beliau melewati anak kecil dan mengucapkan salam kepadanya (HR. al Bukhori 6247).

j. Bolehnya merendahkan suara salam kepada seseorang yang di sekelilingnya ada orang yang sedang tidur.

Dari Miqdad bin alAswad ia berkata: “Rasululloh pernah datang di malam hari kemudian mengucapkan salam yang tidak membuat orang yang tidur menjadi terbangun dan orang yang masih terjaga bisa mendengarnya”(HR. Muslim 2055).

k. Bolehkah salam menggunakan isyarat? Pada asalnya salam menggunakan isyarat dilarang karena itu merupakan kebiasaan ahli kitab. Namun jika tidak mampu dilakukan karena suatu sebab semisal orang yang disalami sedang sholat, orangnya tuli atau yang mengucapkan salam bisu maka diperbolehkan.

Dari Suhaib ia berkata: “Saya pernah melewati Rasululloh yang mana beliau sedang sholat. Kemudian saya mengucapkan salam dan beliau menjawabnya dengan isyarat” (Shohih Abu Dawud 818). Isyarat ini bisa dengan telapak tangan, jari tangan, dan kepala (Aunul Ma’bud 3/138). Bila digandengkan ucapan dengan isyarat maka tidak mengapa sebagaimana hadits Asma binti Yazid :”Pernah beliau salam dengan melambaikan tangan kepada para wanita”(HR. at tirmidzi 2697, Shohih).

Dalam riwayat yang lain : “Pernah Rasululloh melewati kami sekelompok wanita kemudian beliau salam kepada kami” (HR. Abu Dawud 5204, Syaikh Albani berkata: “Shohih”).

Berkata an Nawawi: “Hadits tirmidzi dibawa kepada penggabungan antara ucapan dan isyarat” (al Adzkar 356).

l. Disunnahkan mengucapkan salam tatkala masuk ke dalam rumah baik ada penghuninya maupun tidak ada.

Abdulloh bin Umar rodhiyallohu ‘anhuma berkata:Jika masuk ke dalam rumah yang tidak dihuni maka ucapkanlah السلام علينا وعلى عباد الله الصالحن (Keselamatan bagi kami dan bagi hamba Alloh yang sholih)” (HR. al Bukhori dalam “al Adab” dan dihasankan oleh Syaikh Albani).

m. Dimakruhkan mengucapkan salam bagi orang yang sedang buang hajat sebagaimana hadits Muhajir bin Qunfudz bahwasanya ia pernah mendatangi Rasululloh yang sedang buang air kecil kemudian ia mengucakan salam kepada beliau namun beliau tidak menjawabnya sampai berwudhu’ dan meminta udzur seraya mengatakan : “Aku tidak suka untuk berdzikir kepada Alloh kecuali dalam keadaan suci” (HR. abu dawud 17).

Berkata Ibnu Muflih : ”Dimakruhkan mengucapkan salam kepada orang yang sedang menunaikan hajatnya demikian pula menjawabnya” (al Adab as Syar’iyyah 1/378).

n. Jika dititipi salam maka hendaknya menjawabnya untuk si pembawa salam dan bagi orang yang menitipkan salam dengan mengatakan: عليك وعليه السلام(HR. Abu Dawud 5231, hasan).

o. Dimakruhkan mengucapkan salam ataupun menjawabnya tatkala khutbah jum’at karena perintah Nabi r untuk diam mendengarkan khutbah (HR. al Bukhori 934).

p. Termasuk sunnah mengucapkan salam sebelum berpisah dari majelis atau sebelum beranjak pergi, tidak hanya tatkala baru datang.

Dari Abu Hurairoh ia berkata: “Jika salah seorang kalian ingin beranjak dari majelis maka ucapkanlah salam” (HR. at tirmidzi 2861, Abu dawud 5208, berkata al Albani: “hasan shohih”).

q. Hukum mengucapkan salam kepada orang kafir

Memulai untuk mengucapkan salam kepada ahli kitab atau orang kafir tidak diperbolehkan sebagaimana sabda Nabi: “Jangan kalian memulai mengucapkan salam kepada Yahudi dan Nasrani…” (HR. Muslim 2167). Apabila mereka yang lebih dahulu mengucapkan salam maka cukup dijawab وعليكم (HR. al Bukhori 6258).  Jika dalam suatu majelis atau suatu tempat bercampur antara kaum muslimin dan orang kafir maka boleh untuk mengucapkan salam sebagaimana Nabi pernah melakukannya pada suatu majelis yang di sana ada kaum muslimin, para penyembah berhala, Yahudi dan Abdulloh bin ubay bin salul si tokoh munafiq (Silahkan lihat HR. al Bukhori 6254, Muslim 1798).

Imam Ahmad pernah ditanya tentang hukum mengucapkan salam pada sekelompok orang yang bercampur antara muslim dan kafirnya. Beliau menjawab: “Ya, boleh mengucapkan salam dan diniatkan untuk kaum muslimin saja” (al Adab as Syar’iyyah 1/390).

r. Hukum mengucapkan salam kepada pelaku maksiat, orang fasiq dan ahli bid’ah.

Pada  asalnya tidak diperbolehkan untuk tidak mengucapkan atau menjawab salam seorang muslim sebagaimana sabda Rasululloh : “Tidak halal bagi seorang muslim untuk menghajr (tidak mengucapkan salam atau menegur) saudaranya lebih dari tiga hari. Barangsiapa yang menghajr lebih dari tiga hari lalu mati maka ia masuk neraka” (HR. Abu Dawud 4914, Shohih).

Berkata an Nawawi : ‘Ketahuilah, bahwasanya seorang muslim yang tidak terang-terangan berbuat kefasikan maupun bid’ah tetap disunnahkan untuk mengucapkan salam kepadanya dan wajib menjawab salamnya” (al Adzkar hal. 364).

Adapun bagi orang yang terang-terangan berbuat maksiat dan bid’ah dalam agama maka tidak diucapkan kepadanya salam dan tidak juga dijawab salamnya dengan syarat hal itu bisa membuatnya jera dan bertaubat sebagaimana Nabi pernah menghajr tiga orang sahabat yang tidak ikut perang Tabuk sebagai ta’zir (hukuman dari waliyul amri) bagi mereka (HR. al Bukhori 4418).

Berkata Syaikhul Islam :”Hajr ini berbeda-beda tergantung kondisi yang menghajr apakah ia kuat atau lemah, banyak atau bahkan sedikit. Jika maslahat pada hajr itu ada seperti keburukannya berkurang atau menjadi surut maka barulah hajr tersebut disyariatkan namun jika tidak ada pengaruhnya baik bagi yang dihajr maupun bagi yang lainnya bahkan menjadi tambah parah maka hajr tidak disyariatkan (Majmu Fataawa 28/204-206).

Maka renungkanlah hal ini wahai ahlu sunnah dimanapun kalian berada… Wabillahi at taufiq.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah Bulan romadhon…bulan yang membawa suka cita bagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *