Rabu , Oktober 21 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Adab / Etika Memberi Nasehat
KLIK UNTUK BERINFAK

Etika Memberi Nasehat

Etika Memberi Nasehat

Manusia tidak akan pernah lepas dari berbuat salah dan dosa karena itulah tabiatnya supaya mereka mempersembahkan ibadah yang agung kepada Alloh yaitu bertaubat.

Berkata Ibnul Qoyyim : “Bagaimana mungkin terjaga dari dosa sedangkan manusia diciptakan dzholuman (amat dzholim) jahulan (amat jahil) ? Namun orang yang selalu menghitung kesalahannya lebih baik daripada orang yang selalu menghitung kebaikannya” (Madarijus salikin 2/522).

Oleh karena itu kita sangat butuh nasehat dan teguran dari orang lain. Bahkan itu merupakan konsekwensi persaudaraan sesama muslim. Apalagi jika yang bersalah itu keluarga sendiri baik itu suami, istri, anak, mertua dan yang lainnya maka tentunya lebih layak untuk dinasehati. Namun bagaimana cara menasehati mereka sesuai rambu syari’at?

Apa makna Nasehat ?

Imam al Khoththobi berkata : “Nasehat adalah ungkapan kata yang bertujuan menginginkan kebaikan bagi yang dinasehati” (Ma’alimus sunan 4/123). Muhammad bin Nashr al Mirwazi berkata: “Nasehat adalah perhatian hati kepada orang yang dinasehati siapapun dia” (Jaami’ul ‘ulum wal hikam hal. 111).

Hukum Memberikan Nasehat

Memberikan nasehat hukumnya fardhu ‘ain bagi setiap muslim. Jarir ibnu abdillah berkata: “Saya berbaiat kepada Rasululloh untuk mendirikan sholat, menunaikan zakat dan memberikan nasehat bagi setiap muslim” (HR. Al Bukhori 57, Muslim 56).

Juga berdasarkan hadits Abi Ruqoyyah Tamim ad Daary bahwasanya Rasululloh bersabda: “Agama adalah nasehat”.

Ibnu Hazm berkata : “Memberi nasehat bagi setiap muslim hukumnya wajib” (Risalah al Jaami’ 2/56).

Manfaat Memberikan Nasehat

  1. Meluruskan dan menghilangkan kekeliruan dan dosa orang yang dinasehati.
  2. Akan terjalin persaudaraan dan kasih sayang yang terus menerus karena tatkala menasehati seseorang pertanda bahwa ia mencintainya seperti apa yang dicintai buat dirinya sendiri. Berkata al Imam ‘Ali bin Hazm: “Nasehat yang sebenarnya adalah tatkala seseorang merasa tidak senang dengan suatu yang tidak baik menimpa orang lain baik itu orang lain tersebut merasakannya atau tidak dan merasa senang jika ada yang bermanfaat bagi orang lain baik itu orang tersebut merasa atau tidak” (al Akhlaq was Siayr hal. 41)
  3. Menuaikan hak sesama muslim

Berkata ‘Umar bin Abdul Aziz : “Barangsiapa yang menyambung hubungan dengan saudaranya dengan menasehatinya dan memperhatikan kemaslahatan dunianya maka ia telah menyambung silaturrahim dengan baik dan  menunaikan hak saudaranya” (Taarikh at Thobary 6/572).

Bilal bin Sa’d rohimahulloh pernah berkata : “Teman yang jika ia menemuimu kemudian memberitahukan aibmu lebih baik daripada teman yang engkau jumpai lalu menaruh dua dirham di tanganmu” (al Bidayah wan Nihayah 9/348)

  1. Mendapatkan ganjaran yang besar di sisi Alloh karena agama adalah nasehat.

Adab-adab Memberikan Nasehat

Sebelum memberikan nasehat, hendaknya seseorang mengetahui bahwa tema nasehatnya haruslah dalam rangka mengajak untuk mengerjakan yang diperintahkan Alloh atau meninggalkan yang dilarang Alloh serta perkara tersebut bukan masalah ijtihadiyah yang diperselihkan antara para ulama.

Diantara etika memberi nasehat:

  1. Hendaknya ikhlas dalam memberikan nasehat bukan untuk melampiaskan kemarahan atau mencari muka di depan orang

Berkata al Hafidz Ibnu Rojab menerangkan adab memperbaiki kesalahan perkataan seseorang: “Jika tujuannya untuk menrangkan kebenaran supaya orang yang terjerumus tidak mengikuti kesalahannya maka ia mendapatkan pahala dan masuk ke dalam nasehat untuk Alloh, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan semua kaum muslimin namun jika maksudnya membantah untuk menampakkan aib orang tersebut,  meremehkannya dan menunjukkan kebodohan dan keterbatasan pengetahuannya atau selainnya maka ia berdosa baik itu ia membantahnya di hadapan orang tersebut atau di belakangnya” (al Farqu bainan nasihah wat ta’yir juz 13 hal.14).

  1. Tenang dan menampakkan rahmah (belas kasih) ketika menasehati

Seorang yang menasehati hendaknya memperlakukan orang yang dinasehati seperti  dokter yang mengobati pasiennya bukan ibarat polisi dengan pencuri. Kisah badui yang kencing di masjid dan laki-laki yang menjima’i istrinya dibulan Romadhon (HR. Al Bukhori 1834, Muslim 1112) cukup sebagai pelajaran bagaimana ketenangan Rasululloh r dan belas kasihnya kepada orang yang dinasehati dan didakwahinya.

  1. Hendaknya menasehati tidak di hadapan orang banyak.

Berkata Ibnu Rojab : “Para salaf jika ingin menasehati seseorang, mereka menasehatinya diam-diam. Sampai ada diantara mereka yang berkata: “Barangsiapa yang menasehati saudaranya  empat mata maka itulah nasehat dan barangsiapa yang  menasehatinya di hadapan khalayak ramai maka ia telah menjelekkannya” (Jaami’ul ‘Ulum hal.77).

Berkata Ibnu Hazm : “Jika engkau menasehati, nasehatilah dengan rahasia bukan terang-terangan, gunakanlah sindiran bukan secara langsung kecuali jika yang dinasehati tidak paham sindiran tersebut maka boleh secara langsung” (al Akhlaq was siyar hal. 44).

  1. Hendaknya nasehat tersebut dengan cara yang lembut

Berkata Ibnu Hazm رحمه الله : “Apabila perkataanmu kasar dalam menasehai maka itu akan membangkitkan permusuhan dan melarikan orang sedangkan Alloh Ta’ala berfirman: “Katakanlah ucapan yang lembut…(QS. Thaha: 44). Rasululloh bersabda:”Jangan membuat orang lari…” (HR. Al Bukhori dan Muslim) (al Akhlaq wa Siyar hal. 48)

  1. Membimbing orang yang keliru dan bila perlu memberikan contoh yang benar.

Diantaranya contohnya adalah kisah orang yang sholatnya jelek dimana Rasululloh mengajarkannya bagaimana sholat yang benar secara syar’i setelah beliau meminta kepada orang tersebut untuk mengulangi sholatnya beberapa kali dan ternyata memang ia belum bisa…!(Sebagaimana dalam al Bukhori 5897, Muslim 397).

Diriwayatkan bahwasanya Abu Sa’id al khudri pernah bersama Rasululloh kemudian beliau masuk masjid dan melihat seseorang di tengah masjid yang menjalin jari jemarinya seraya bicara sendiri. Kemudian beliau memberikan isyarat kepadanya tetapi orang itu tidak paham. Orang tersebut lalu menoleh ke Abu Sa’id. Lalu Nabi bersabda: “Jika salah seorang kalian sholat janganlah ia menjalin jari jemarinya karena itu dari syaithon…” (HR. Ahmad 3/54, ).

  1. Tidak memaksakan kehendak kepada orang yang dinasehati

Berkata Ibnu Hazm رحمه الله : “Jika engkau menasehati dengan syarat harus diterima maka engkau dzholim karena bisa jadi engkau keliru dalam menasehati…hukum seperti itu hanyalah untuk pemimpin kepada bawahannya dan majikan kepada budaknya”( al Akhlaq wa Siyar hal. 44, 48).

  1. Mencari waktu yang sesuai

Berkata Abdulloh bin Mas’ud : “Sesungguh hati itu ada saatnya senang dan antusias dan ada kalanya futur dan menjauh maka ambillah hatinya tatkala senang dan antusias dan tinggalkanlah dikala futur dan menjauh” (al Adab as syar’iyyah 2/109).

  1. Mencari alternatif pengganti jika memungkinkan

Hal ini bukanlah keharusan karena bisa jadi seseorang bisa berhenti dari suatu kesalahan atau kekeliruan tanpa mensyaratkan alternatif pengganti lain. Namun jika ada pengganti secara syar’i maka itu lebih baik. Diantara contohnya adalah kisah Abdulloh bin Mas’ud dan sahabat yang lainnya yang mengucapkan tasyahhud dengan mengatakan: “Assalaamu ‘alalloh min ‘ibadihi, as Salaamu ‘ala Jibril, as Salaamu ‘ala Mikail…Maka nabi r berkata: “Jangan mengucapkan “as Salaamu ‘alalloh” karena Alloh-lah as Salaam tetapi katakanlah: “at tahiyyatu lillah was sholawatut toyyibah…dst (Riwayat al Bukhori 5897, Mus1im 397).

Abu sa’id al Khudry meriwayatkan bahwa Bilal pernah datang membawa kurma Barny. Maka Nabi bertanya: “Darimana engkau dapatkan ini?” Bilal menjawab: “Aku mempunyai kurma yang jelek lalu aku tukarkan 2 sho’ dengan 1 sho’ (kurma Barny) untuk menghidangkannya buatmu”. Nabi r berkata: “awwah! Awwah! Itulah riba…! Jangan lakukan itu! Jika engkau mau membeli (kurma Barny) jual dahulu (kurma jelek itu) lalu baru kamu beli (kurma barny)” (Riwayat al Bukhori 2312).

  1. Tidak membeberkan kesalahan orang yang dinasehati kepada orang lain

Dalam hal ini Rasululloh bersabda: “Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim di dunia maka Alloh akan menutupi aibnya pada hari kiamat” (HR. Al Bukhori 2442, Muslim 2580).

Jika memang harus dijelaskan kesalahannya kepada orang lain agar dijadikan pelajaran dan peringatan maka tidak mengapa asalkan tidak menyebut nama. Dalam banyak peristiwa Nabi hanya mengatakan: “Mengapa orang-orang itu mengatakan  begini dan begitu…” dan semisalnya tanpa menyebutkan namanya. Diantara contohnya adalah hadits dua orang penghuni kubur yang diadzab karena tidak bersuci dan suka namimah dan tidak disebutkan siapa mereka.

Berkata al Hafidz Ibnu hajar رحمه الله : “ Kemungkinan besar itu disengaja oleh perowi (hadits tersebut) untuk menutupi aib mereka dan ini termasuk perbuatan yang baik dan memang semestinya kita tidak berlebih-lebihan dalam mencari tahu nama orang yang memiliki aib” (Fathul Baari 1/220). Tidak sedikit orang dengan bangganya menceritakan bahwa dirinya pernah menasehati si fulan dan si fulanah kemudian menceritakan dosa orang lain tersebut.

Berkata ‘Ali bin abi Tholib berkata: “Orang yang melakukan fahisyah (perbuatan keji) dan orang yang menyebarkan beritanya sama (dosanya)” (at Taubiikh wat Tanbiih oleh Abi Syaikh no. 131).

  1. Mendoakan orang yang dinasehati.

Sebagai bentuk kesempurnaan persaudaraan hendaknya yang menasehati menyempatkan dirinya untuk mendoakan yang dinasehati karena hidayah hanya di tangan Alloh semata. Rasululloh r bersabda: “Do’a seorang muslim bagi saudara muslim yang lain tanpa sepengetahuannya mustajab” (HR. Ahmad 5/195, Ibnu Majah 2895, Silsilah as Shohihah 1339). Walhamdulillah.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah Bulan romadhon…bulan yang membawa suka cita bagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *