Senin , Oktober 26 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Adab / Etika Membaca al Qur’an
KLIK UNTUK BERINFAK

Etika Membaca al Qur’an

Etika Membaca al Qur’an

Al Qur’an adalah penerang hati, penyejuk jiwa pelipur lara dan duka. Ia akan memberikan syafa’at kepada pembacanya dengan izin Alloh “azza wa jalla. Oleh karena itu ada beberapa adab yang harus diperhatikan bagi para pencintanya agar ia mendatangkan berkah dan bahagia.

  1. Hendaknya ikhlas dalam membacanya

Berkata Imam an Nawawi: “Pertama kali yang diperintahkan bagi pembaca al Qur’an adalah agar ikhlas dalam membacanya dan hanya mengharapkan wajah Alloh dan jangan sampai ada tujuan untuk mendapatkan selain itu” (al Adzkar 160). Diantara tiga orang yang pertama kali dimasukkan ke neraka jahannam adalah seorang yang mempelajari ilmu supaya disebut “alim” dan penghafal qur’an yang ia membaca al qur’an supaya dikatakan orang sebagai “Qori’”.(Sebagaimana dalam Riwayat Imam Muslim 1905).

Perkara ikhlas dalam membaca al Qur’an bukanlah sesuatu yang mudah karena akan mudah menyusup penyakit riya’dan  sum’ah. Terlebih lagi jika menjadi imam; akan timbul keinginan dalam hati supaya dipuji dengan hafalannya yang banyak dan suaranya yang merdu atau karena suaranya dibuat mirip seorang qori’ terkenal. Riya’ dalam masalah ini ibarat ombak yang tidak bertepi. Oleh karena itu Nabi r mengingatkan dalam sabdanya:

اَلرِّبَا بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا وَالشِّرْكُ مِثْلُ ذَلِكَ

Riba ada tujuh puluhan pintu dan syirik seperti itu (HR.  al Bazzar 1935, Shohih at Targhib 1852).

Dari Abu Bakr bahwasanya Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: ”Syirik pada kalian ini lebih samar dari rayapan semut dan saya akan tunjukkan sesuatu yang jika kalian  kerjakan maka akan hilang dari kalian syirik yang kecil maupun yang besar, yaitu ucapkanlah:

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَ أَنَا أَعْلَمُ وَ أَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ

Ya Alloh sesungguhnya saya berlindung kepadaMu dari menyekutukanMu sedangkan saya mengetahuinya dan saya meminta ampun kepadaMu dari yang aku tidak ketahui (Shohihul Jaami’3731).

  1. Disunnahkan untuk berwudhu’ dan membersihkan mulut sebelum membaca al Qur’an. Dari ‘amr bin Hazm Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

لاَ يَمَسُّ الْقُرْآ نَ إِلاَّ طَاهِرٌ

Tidak boleh menyentuh al Qur’an kecuali orang yang suci (HR. Malik 468 dan dishohihkan oleh syaikh Albani dalam Irwaul ghalil 1/158 no. 122).

Dari ‘Ali bin abi Tholib bahwasanya Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

فَطَهِّرُوا أَفْوَاهَكُمْ لِلْقُرْآنِ

Bersihkanlah mulut kalian untuk al Qur’an (HR. al Bazzar 603, Shohih at Targhib 215). Dari Ibnu syihab, Rasululloh bersabda: “Jika seseorang beranjak untuk berwudhu di malam atau siang hari lalu ia memperbagusi wudhu’nya dan membersihkan mulutnya kemudian berdiri sholat maka malaikat akan mengitarinya dan mendekat sampai meletakkan mulutnya pada mulut orang tersebut. Tidaklah orang tersebut membaca kecuali masuk ke dalam mulut malaikat. Jika ia tidak membersihkan mulutnya malaikat hanya mengitarinya dan tidak menempelkan mulutnya” (Dikeluarkan oleh Muhammad bin Nashr dalam “Mukhtashor qiyamullail” secara mursal dan dishohihkan oleh Syaikh Albani dalam shohih al Jaami’ 723). 

  1. Membaca isti’adzah (an Nahl: 98) dan basmalah ketika akan membacanya (HR. Muslim 400). Manfaat membaca isti’adzah adalah agar syaithon menjauh dari hati seseorang sehingga ia bisa tadabbur al qur’an , memahami maknanya dan mengambil manfaat darinya (Syarhul Mumti’ 3/71).
  2. Membacanya dengan tartil (QS. Al Muzammil: 4) sambil mentadabburinya (QS. An Nisaa’:82). Tartil adalah membaca dengan jelas hurufnya, memenuhi harokatnya dan memahami maknanya (Shohih al Bukhori 1/382). ‘.Berkata Abdulloh bin Mas’ud: “Sesungguhnya ada suatu kaum yang membaca al Qur’an tetapi tidak melampaui kerongkongannya, namun jika masuk ke dalam hati lalu meresap maka baru ia akan bermanfaat” (HR. al Bukhori 775). Abu Jamroh pernah berkata kepada Ibnu ‘Abbas: “Saya orang yang cepat membaca (al Qur’an) dan terkadang aku mengkhatamkan al Qur’an dalam satu atau dua malam”. Ibnu ‘Abbas berkata: “Saya lebih suka membaca satu surat daripada membaca sepertimu. Namun kalau kamu tidak bisa pelan maka bacalah dengan bacaan yang bisa didengar oleh telingamu dan diresapi oleh hatimu” (Dikeluarkan oleh al Baihaqi 4491). Berkata al Hafidz: “Barangsiapa yang membaca pelan sambil merenungi seperti orang yang bersedekah dengan satu buah mutiara yang sangat bernilai dan barangsiapa yang membaca cepat ibarat orang yang bersedekah dengan banyak mutiara namun nilainya hanya satu” (Fathul Baari 8/707).
  3. Dianjurkan memperbagusi suara yaitu melantunkannya, membacanya seperti orang sedih dan mencari kekhusyu’an dengan bacaan tersebut (Fadho’ilul Qur’an hal. 190). Rasululloh r bersabda: “Perbagusilah suaramu dengan al Qur’an” (HR. Abu Dawud 1468). Berkata Syaikh Taqiyuddin: “Membaca al Qur’an dengan melagukannya seperti nyanyian makruh lagi bid’ah sebagaimana ditetapkan oleh Malik, as Syafi’I, Ahmad bin Hambal dan para Imam yang lainnya” (al Adab as Syar’iyyah 2/302). Rasululloh bersabda: “Sesungguhnya sebaik-baik suara seseorang membaca al Qur’an adalah jika kamu mendengarnya membaca maka kamu mengira bahwasanya ia takut kepada Alloh (HR. at Thobroni dalam “Al Mu’jamul Kabir”, dan Ibnu Majah 1339 dan dishohihkan oleh Syaikh Albani dalam Shohih at Targhib 1450, As Shohihah 1583).
  4. Dianjurkan untuk meneruskan bacaan ayat dan tidak memotongnya kecuali untuk mengajarkan ilmu dan menjawab salam atau keperluan mendesak lainnya. Dari Nafi’ ia berkata: “Ibnu Umar jika membaca al qur’an ia tidak berbicara sampai menyelesaikannya. Pada suatu hari aku bersamanya kemudian ia membaca surah al Baqoroh sampai berhenti di suatu tempat lalu berkata: “Tahukah kamu dalam hal apa ia turun?” Aku berkata: “Tidak”. Ia berkata: “Ia turun dalam masalah begini dan begitu!” kemudian ia meneruskannya” (HR. al Bukhori 4526). Dari Uqbah bin Amir al Juhani ia berkata: “Kami pernah duduk di masjid membaca al Qur’an kemudian masuklah Rasululloh r dan mengucapkan salam lalu kami menjawabnya”(HR. Ahmad 4/153, at Thobroni 800,802 dan dishohihkan oleh syaikh Albani dalam Silsilah as Shohihah 3285). Oleh karena itu tidak boleh menjadikan lantunan al Qur’an sebagai ringtone HP karena akan memutuskan bacaan ayat tersebut.
  5. Disunnahkan untuk sujud tatkala membaca ayat sajadah bagi yang membaca dan yang menyimak. Umar bin al Khoththob berkata: “Wahai manusia kita melewati ayat sajadah, barangsiapa yang sujud maka ia telah mengikuti sunnah dan barangsiapa yang tidak sujud maka ia tidak berdosa”(HR. al Bukhori 1077).

Berkata Ibnu hazm: “Sujud tilawah bisa dilakukan pada sholat fardhu dan sunnah dan di luar sholat kapan saja Bisa juga dilakukan tatkala terbit matahari, terbenam dan tatkala tepat di atas kepala, menghadap kiblat atau tidak menghadap kiblat baik dalam keadaan suci maupun tidak” (al Muhalla 5/157). Namun sujud dalam keadaan suci lebih afdhol (Ikhtiyarot al ‘Ilmiyyah hal. 60). Dianjurkan untuk membaca “Allohu akbar” tetapi tidak dicontohkan untuk salam setelahnya karena ia bukan sholat; sebagaimana tidak ditemukan dalil jika orang yang membaca al Qur’an dalam posisi duduk diharuskan harus berdiri dulu kemudian baru sujud.

Berkata Syaikh Albani: “Ibnu abi syaibah penah mengeluarkan suatu riwayat dari Abu Qilabah dan Ibnu sirin bahwasanya keduanya berkata: “Jika seseorang membaca ayat sajadah di luar sholat maka ia mengucapkan: “Allohu Akbar” dan isnadnya shohih (Tamamul Minnah hal. 269). Diantara do’a yang diucapkan tatkala sujud tilawah adalah:

اَللَّهُمَّ احْطُطْ عَنِّي بِهَا وِزْرًا وَاكْتُبْ لِي بِهَا أَجْرًا وَاجْعَلْ لِي عِنْدَكَ ذُخْرًا

Ya Alloh hapuskanlah dengan sujud ini dosa dariku dan tuliskanlah untukku pahala dan jadikan ia simpananku di sisiMu (HR. Ibnu Majah 1053, Shohih Ibnu Majah 865, Shohih at Tirmidzi 473).

  1. Boleh membaca al Qur’an dengan berdiri, berbaring, duduk dan di atas kendaraan (QS. Ali ‘Imron: 191, az Zukhruf: 13).
  2. Diperbolehkan bagi wanita haid dan nifas membaca al Qur’an tanpa menyentuh mushaf atau dari hafalannya. Berkata Syaikh al Utsaimin: “Yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat bahwasanya wanita haid boleh membaca al Qur’an sesuai dengan keperluannya baik dengan hafalan atau menggunakan mushaf dengan disertai pembatas berupa sapu tangan atau sarung tangan” (Nur ‘alad darb 10/256 dari syamilah). Hal ini juga berlaku untuk orang yang junub. Adapun hadits ‘Ali : “Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam selalu membacakan kita al Qur’an selama beliau tidak junub”, haditsnya lemah sebagaimana diterangkan oleh Imam an Nawawi dalam al Majmu’ ( 2/159) dan Syaikh Albani dalam Irwa’ul Ghalil (2/241).
  3. Tidak diperbolehkan mengeraskan suara bacaan sehingga menganggu orang lain (terlebih tatkala tadarrus al Qur’an). Rasululloh bersabda: “Ketahuilah bahwasanya setiap kalian ini bermunajat kepada RobbNya maka jangan sekali-kali kalian saling mengganggu dan jangan saling mengangkat suara dalam membaca” (HR. Abu dawud 1322, shohih).
  4. Diperbolehkan menangis tatkala membaca al Quran sebagaimana kebiasaan orang-orang sholih sebelum kita (QS. Al Israa’: 107-109).
  5. Tidak dicontohkan membaca : “Shodaqollohul adzhim” tatkala selesai membaca al Qur’an atau menciumnya untuk mencari berkah. Komite Riset Ilmiah dan Fatwa dalam fatwanya no. 3303 menjelaskan: ‘ Ucapan ‘shoadaqollohul ‘adzhim’ setelah selesai membaca termasuk bid’ah karena tidak pernah dilakukan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, khulafa’ ar rosyidun, para sahabat, para ulama salaf padahal mereka adalah orang yang paling banyak membaca, paling perhatian dan mengetahui tentang Al Qur’an’.

Demikian sebagian adab membaca al Qur’an, semoga Alloh menjadikan kita ahlul qur’an. Wallohul muwaffiq.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah Bulan romadhon…bulan yang membawa suka cita bagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *