Senin , Oktober 26 2020
Breaking News
Home / Etika marah
KLIK UNTUK BERINFAK

Etika marah

Etika marah

Setiap orang pasti pernah marah karena itu adalah tabiat manusia. Namun hanya sedikit yang bisa selamat dari efek negatifnya. Marah adalah musuhnya akal, kapan saja marah itu menguasai akal maka akal akan dimangsa sebagaimana serigala memangsa domba. Oleh karena itu hendaknya kita mengajarkan keluarga kita bagaimana seharusnya marah yang sesuai dengan syari’at agar marah tersebut berbuat pahala.

Definisi Marah

Para ulama berbeda ungkapan dalam mengartikan istilah marah. Diantaranya ada yang mengatakan bahwa marah adalah perubahan yang terjadi karena bergolaknya darah di dalam dada untuk menumpahkan segala isi yang ada di dalam hati (at Ta’rifaat hal. 168).

Sebab- sebab Marah

Penyebab orang marah sangat beragam. Diantaranya adalah:

  1. ‘Ujub yakni bangga dengan pendapatnya, kedudukan, harta, dan nasabnya. Ujub adalah sahabat karib dari sombong. Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu Rasululloh shallallhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Penghancur itu tiga macam yaitu kikir yang diikuti, hawa nafsu yang diperturutkan dan ‘ujubnya seseorang dengan dirinya,” (HR. al Bazzar, Shohih at Targhib 53). Oleh karena itu para salaf sangat hati-hati dari sebab-sebab ‘ujub. Tatkala ‘Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu berjalan dan para sahabat yang lain mengiringi di belakang, ‘Umar radhiallahu ‘anhu memukulnya seraya mengatakan “Ini adalah kehinaan bagi yang diikuti dan fitnah bagi yang mengikuti” (at Tawadhu’, Ibnu abi dunya 51, ad Darimy 527). Yahya bin Zakariya pernah bertanya kepada ‘Isa bin Maryam ‘alaihimas salam: “Apa yang membuat marah itu terjadi dan terus berulang?” ‘Isa menjawab: “Merasa mulia, ta’asshub, sombong dan merasa agung” (az Zuhd 44).
  2. Debat Kusir. Abdulloh bin Husain radhiallahu ‘anhu pernah berkata: “Berdebat adalah pemancing kemarahan” (al Bayan wat Tabyin 1/208). Rasululloh shallallhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Saya adalah penjamin dengan sebuah istana di sekitar surga bagi yang meninggalkan berdebat sekalipun ia berada pada posisi yang benar” (HR. Abu Dawud , Shahih at Targhib 139).
  3. Bercanda yang berlebihan. Bercanda dengan mengatakan perkataan yang tidak berguna atau berbuat sesuatu yang mengganggu lantas mengatakan itu adalah sekedar bercanda,- akan mengantarkan kepada permusuhan. Oleh karena itu Rasululloh shallallhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah seseorang kalian mengambil kepunyaan saudaranya baik itu dengan sengaja maupun bercanda” (HR. Ahmad 4/221, Abu Dawud 5003, at Tirmidzi 2160 dan ia berkata : “hasan ghorib”).Berkata ‘Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullah : “Hati-hati dalam bercanda karena akan menyeret perbuatan jelek dan mewariskan permusuhan” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 7/243).
  4. Lisan yang tajam dan kotor baik mengumpat, mencela, mengolok dan sebagainya. Rasululloh shallallhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Alloh membenci orang yang suka berkata kotor dan berperangai kasar” (HR. at Tirmidzi 2003 dan ia berkata: “hasan shohih”).
  5. Ambisi dalam mengejar harta, kemuliaan dan kedudukan sehingga menganggap marah sebagai bentuk kejantanan dan keperkasaan.

Macam-macam marah

  1. Marah yang terpuji yaitu marah karena Alloh. Ia marah jika keharaman Alloh diterjang, larangan Nabi diabaikan atau kehormatan dan darah kaum muslimin ditumpahkan dan ini merupakan buah dari keimanan seseorang. Nabi Musa pernah marah besar kepada kaumnya karena mereka membuat patung sapi sebagai sesembahan (QS. Al A’raaf: 150). Demikian pula Rasululloh shallallhu ‘alaihi wasallam tidak pernah marah kecuali karena keharaman Alloh dilanggar. Dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha ia berkata: “ Tidaklah beliau membalas jika diganggu dengan ucapan maupun perbuatan, namun jika yang diganggu adalah keharaman Alloh maka beliau akan membalasnya karena Alloh” (HR. Muslim 2328).
  2. Marah yang tercela yaitu marah karena membela kebatilan dan jalan-jalan syaiton semisal marah terhadap orang yang amar ma’ruf nahi munkar, marah karena ta’ashshub jahiliyyah atau membela kemungkaran. Ini termasuk sifat munafiqun. (an Nuur: 46-52).
  3. Marah yang diperbolehkan yaitu marah yang tidak sampai mengeluarkan kata-kata yang tidak baik atau perbuatan yang tidak disukai dan tidak melampaui batas serta bermaksiat kepada Alloh. Namun menahannya lebih diutamakan dan lebih baik akibatnya. Alloh Ta’ala berfirman:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ 

Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (QS. ‘Ali Imron: 134).

Tatkala budak perempuan ‘Ali bin Husain menuangkan beliau air wudhu untuk sholat tiba-tiba wadah air tersebut jatuh menimpa wajahnya sehingga terluka. Namun beliau tidak marah dan justru berkata : “Pergilah karena engkau telah saya bebaskan” (Diriwayatkan oleh al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 8317).

Solusi tatkala Marah

  1. Meminta perlindungan (Isti’adzah) kepada Alloh dari Syaiton yang terkutuk (QS. Fushshilat: 36). Ibnul Qoyyim mengatakan: “Kebanyakan manusia dimangsa oleh syaithon tatkala marah dan syahwat” (at Tibyan fi Aqsamil qur’an 265).
  2. Merubah posisi. Dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu ‘anhu Rasululloh shallallhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang kalian marah dalam keadaan berdiri maka hendaknya ia duduk jika marah itu reda, jika tidak maka berbaringlah” (HR. Ahmad 5/152, Abu Dawud 4782 , hadits shohih, lihat al Misykah 5114).
  3. Memperbanyak diam. Dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma Rasululloh shallallhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian marah hendaknya diam” (HR. al Bukhori dalam “al Adab” 245, Shohih al Jaami’ 695).
  4. Diriwayatkan dari ‘Athiyyah as Sa’dy, Rasululloh shallallhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya marah itu dari syaiton dan syaiton diciptakan dari api dan api hanya bisa dipadamkan dengan air. Jika kalian marah maka berwudhu’lah” (HR. Abu Dawud 4748).
  5. Selalu mengingat tentang besarnya pahala bagi orang yang dapat menahan amarahnya. Diantaranya:
  6. Mendapatkan kecintaan dari Alloh (QS. Ali Imron: 134).
  7. Dari Abu Darda radhiallahu ‘anhu beliau bertanya tentang amalan yang bisa memasukkannya ke dalam surga, Rasululloh shallallhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jangan marah maka engkau akan mendapatkan surga” (HR. at Thobroni dalam “al Ausath” 2353, Shohih at Targhib wat Tarhib 2749).
  8. Akan berbangga di hadapan makhluk di hari kiamat. Rasululloh shallallhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menahan marahnya padahal mampu untuk dilampiaskan maka Alloh akan memanggilnya di depan semua makhluq pada hari kiamat sampai dipilihkan bidadari mana yang ia sukai” (HR.Ahmad 3/440, Abu Dawud 4777, at Tirmidzi 2493, shohih At Targhib 2753).
  9. Selamat dari kemurkaan Alloh. Dari Abdulloh bin ‘Amr rodhiyallohu ‘anhuma ia pernah bertanya: “Wahai Rasululloh apa yang bisa mencegah saya dari kemarahan Alloh. Beliau shallallhu ‘alaihi wasallam menjawab: “Kamu jangan marah” (HR. Ibnu Hibban 296).
  10. Diantara amalan yang paling mulia. Dari Ibnu ‘Umar rodhiyallohu ‘anhuma Rasululloh shallallhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada sesuatu yang tertelan dengan cepat yang lebih besar pahalanya di sisi Alloh dari orang yang menelan (menahan) kemarahannya karena mencari ridho Alloh” (HR. al Bukhori dalam “al Adab” 1318, Shohih at Targhib 2753).
  11. Memperbanyak dzikrulloh (QS. Ar Ra’du: 28). Ikrimah menafsirkan firman Alloh ta’ala yang artinya “Sebutlah nama tuhanmu jika engkau lupa”(QS. Al Kahfi 24) : “Yaitu jika engkau sedang marah”(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir 15/226).
  12. Mengingat Wasiat Nabi tentang marah. Nabi shallallhu ‘alaihi wasallam pernah berwasiat kepada salah seorang sahabat: “Jangan marah” dan beliau terus mengulanginya (HR. al Bukhori 5765). Beliau juga r pernah bersabda: “Bukanlah orang kuat itu yang kuat bertarung tetapi orang kuat itu adalah yang bisa menahan dirinya tatkala marah” (HR. al Bukhori 5763).
  13. Menerima nasehat orang lain untuk tidak marah tatkala marah.
  14. Mengambil pelajaran dari buah kemarahan-kemarahan yang telah lalu. Ibnu Hibban pernah berkata: “Cepat marah adalah cirinya orang dungu sedangkan menghindari marah adalah perhiasannya orang-orang cerdas. Marah akan menumbuhkan penyesalan. Seseorang lebih mampu untuk memperbaiki sesuatu jika ia bisa menahan marah dari memperbaiki kerusakan setelah marah” (Raudhotul ‘Uqola’ 138).
  15. Mengingat bahwasanya semua perbuatan dosa dan maksiat terlahir dari dua hal yaitu marah dan syahwat.
  16. Menjauhi sebab-sebab yang membuat diri kita dan orang lain marah.

Potret salaf tatkala Marah

Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma pernah dicela oleh seseorang. Tatkala selesai Ibnu ‘Abbas berkata kepada Ikrimah: “Wahai Ikrimah, apakah orang ini  butuh sesuatu biar kita bisa memenuhinya ?”. Maka orang tersebut menundukkan kepalanya dengan malu (al Mustathrof  hal. 201). Abu Dzar pernah bertanya kepada budak laki-lakinya :”Kenapa kamu membiarkan kambing-kambing ini memakan makanan kuda itu?”. Ia menjawab: “Aku ingin membuatmu marah”. Abu Dzar berkata: “Saya akan menggabungkan kemarahan saya dengan pahala. Engkau saya merdekakan karena mengharapkan wajah Alloh” (al Bayan wat Tabyin 1/456).

Disarikan dari kitab “al Godhob, adab wa ahkam” karya DR. Nayef Ibnu Ahmad al Hamd. Walhamdulillah.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah Bulan romadhon…bulan yang membawa suka cita bagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *