Rabu , Oktober 21 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Adab / Etika Berpakaian
KLIK UNTUK BERINFAK

Etika Berpakaian

Etika Berpakaian

Sesungguhnya Aloh Ta’ala telah menganugerahkan kepada hambaNya pakaian untuk menutup auratnya dan menjadikan indah penampilannya. Kemudian Alloh Ta’ala mengingatkan tentang pakaian secara ma’nawi yang akan memperbagusi bagian luar dan dalamnya serta lebih baik dan lebih langgeng kesudahannya yaitu pakaian ketaqwaan. Oleh karena itu sebagai wujud ketaqwaan dan rasa syukur atas pemberian Alloh tersebut maka hendaknya seseorang memperhatikan cara berpakaian yang islami. Diantara etika berpakaian Islami tersebut adalah:

  1. Memakai pakaian yang menutup aurot. Aurot bagi laki-laki yang harus ditutup adalah dari pusar sampai lutut sedangkan aurot wanita bagi laki-laki ajnabi adalah semua anggota tubuhnya. Diperbolehkan bagi suami istri untuk melihat semua aurot pasangannya. Adapun aurot wanita kepada wanita ajnabi yang lain adalah dari pusar sampai lutut (jika aman dari fitnah). Bagi mahrom sang wanita boleh melihat apa yang biasa nampak darinya seperti wajah, kedua tangan, rambut, leher dan semisalnya (QS. An Nuur: 31).
  2. Dianjurkan memakai pakaian yang putih bagi laki-laki sebagaimana hadits Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma, Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Pakailah yang putih dari pakaian kalian karena itu adalah sebaik-baik pakaian kalian” (HR. Ahmad 2220, Abu Dawud 4061, Shohih). Namun diperbolehkan untuk memakai selain warna putih sebagaimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah memakai pakaian yang bergaris merah, burdah hijau dan lainnya. Bagi wanita dianjurkan untuk memakai pakaian yang berwarna gelap sebagaimana dalam kisah haditsul ifki…Sofwan bin al Muaththol melihat manusia hitam yang tertidur (yakni ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha yang tertinggal dari rombongan) (HR. al Bukhori 2661). Namun tidak mengapa memakai selain warna hitam sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam : “Wewangian wanita itu adalah yang warnanya terang namun samar harumnya” (HR. at Tirmidzi 2788, Abu dawud 2174, hadits hasan). Tentunya wewangian yang cerah tersebut akan berbekas pada pakaiannya. Demikian pula amalan para shohabiyah dimana mereka terkadang memakai pakaian yang berwarna hijau.
  3. Yang sunnah bagi laki-laki adalah memendekkan kainnya di atas mata kaki sedangkan perempuan memanjangkan ujung kain untuk menutupi kedua kakinya. Dari Abu Hurairoh Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Kain seorang mukmin adalah dari pertengahan betis sampai di atas mata kaki, jika ada di bawah itu maka tempatnya di neraka” (HR. Ahmad 1.177, al Bukhori 5787). Dari Ummu Salamah rodhiyallohu ‘anha, ia berkata kepada Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tatkala beliau menyebutkan tentang ujung kain, : “Kalau wanita, bagaimana wahai Rasululloh?. Beliau menjawab: “Turunkan sejengkal”. Ummu salamah bertanya: “Kalau begitu akan kelihatan kedua kaki?!”Beliau menjawab: “Kalau begitu turunkan satu hasta; tidak lebih dari itu” (HR. abu dawud 4117). Berkata Syaikh al Albani: “Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa kedua kaki perempuan termasuk aurot dan hal itu merupakan sesuatu yang ma’ruf pada kalangan wanita di zaman Nabi” (As Shohihah 1/749).
  4. Mendahulukan bagian kanan tatkala memakai pakaian sebagaimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam senang mendahulukan bagian kanan dalam semua urusannya (HR. al Bukhori 5854).
  5. Tidak diperkenankan untuk berbaring dan meletakkan salah satu kaki di atas kaki yang lain sementara ia tidak memakai celana atau penutup kemaluannya sebagaiman dalam hadits Jabir bin Abdulloh (HR. Muslim2099).
  6. Tidak berlebih-lebihan dalam berpakaian sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam : “Makan, minum dan berpakaianlah selama tidak boros dan sombong” (HR. an Nasa’I 2559, Ibnu Majah 3605 dan Imam Bukhori secara Muallaq).
  7. Diperbolehkan bagi laki-laki untuk memakai sirwal (celana panjang yang longgar) sebagaimana hadits Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Barangsiapa yang tidak mempunyai izar (kain bagian bawah; sarung) maka pakailah sirwal” (HR. al Bukhori 1841). Namun yang paling disukai oleh Nabi adalah jubah sebagaimana perkataan Ummu Salamah rodhiyallohu ‘anha : “Pakaian yang paling dicintai oleh Rasululloh r adalah Qomish (gamis; jubah) (HR. Abu Dawud 4025, Shohih at targhib 2028).
  8. Membaca do’a tatkala mengenakan pakaian baru yaitu :

اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيهِ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَخَيْرِ مَا صُنِعَ لَهُ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ

Ya Alloh bagimu segala pujian, Engkau telah memakaikanku pakaian ini. Aku memohon kebaikan pakaian ini dan dari kebaikan apa yang Engkau ciptakan padanya dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan apa yang Engkau ciptakan padanya

Berkata Abu Nadhroh rodhiyallohu ‘anhu : “Para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam jika salah seorang mereka mengenakan pakaian baru maka diucapkan buatnya:

تُبْلِى وَيُخْلِفُ اللَّهُ تَعَالَى

Pakailah sampai lusuh dan Alloh Ta’ala akan menggantinya (HR. Abu Dawud 4020 dan dishohihkan oleh Syaikh Albani).

Dari Muadz bin Anas rodhiyallohu ‘anhu bahwasanya Rasululloh bersabda:

وَمَنْ لَبِسَ ثَوْبًا فَقَالَ “: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى كَسَانِى هَذَا الثَّوْبَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ” غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ

Barangsiapa yang memakai pakaian kemudian mengucapkan :”Segala puji bagi Alloh yang memberikan saya pakaian dan merizqikannya tanpa ada daya dan kekuatan dariku”, maka ia akan diampuni dosanya yang telah lalu dan dosa yang akan datang” (HR. abu Dawud 4023 dan dihasankan oleh Syaikh Albani tanpa tambahan “dan dosa yang akan datang” dalam dua tempat).

9. Tidak memakai pakaian yang dilarang secara syar’I seperti:

  • Pakaian laki-laki yang menyerupai perempuan atau sebaliknya. Dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu anhuma ia berkata: “Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. al Bukhori 5885). Tidak diragukan lagi bahwa wanita yang memakai celana panjang (kulot) termasuk menyerupai laki-laki.
  • Pakaian laki-laki yang menjulur di bawah mata kaki. Menjulurkan pakaian di bawah mata kaki ada tiga keadaan :
  • Karena sombong maka ini diharamkan sebagaimana hadits Abu Hurairoh rodhiyallohu ‘anhu bahwa Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Alloh tidak akan melihat pada hari kiamat orang yang menjulurkan pakaian bawahnya karena sombong” (HR. al Bukhori 5788).
  • Sengaja melakukannya terus-menerus karena mengikuti orang-orang bukan karena sombong; maka ini juga dilarang sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi WasallamApa yang berada di bawah mata kaki dari pakaian bawah maka tempatnya di neraka” (HR. al Bukhori 5787).
  • Tidak disengaja dan bukan karena sombong; maka ini tidak mengapa sebagaimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah menjulurkan kainnya karena berjalan cepat menuju masjid tatkala terjadi gerhana matahari (HR. al Bukhori 5785), demikian pula apa yang dilakukan oleh Abu Bakr as shiddiq yang salah satu ujung kainnya (bukan semuanya…!) terkadang kedodoran ke bawah mata kakinya karena tidak sengaja (HR. al Bukhori 5784).
  • Memakai sutra bagi laki-laki kecuali seukuran dua jari sampai empat jari berdasarkan hadits ‘Umar bin Khoththob rodhiyallohu ‘anhu ia berkata: “Nabiulloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  melarang dari memakai sutra kecuali seukuran dua jari, tiga atau empat jari” (HR. al Bukhori 5828, Muslim 2069).
  • Memakai pakaian Syuhroh (ketenaran). Dari Ibnu ‘Umar rodhiyallohu ‘anhuma Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa yang memakai pakaian Syuhroh maka Alloh akan memakaikan ia pakaian yang akan menggelincirkan dirinya pada hari kiamat” (HR. Ahmad 2/92, Abu dawud 4029 dan dihasankan oleh Syaikh Albani no. 3399). Berkata Ibnul Atsir: “Maksudnya pakaian tersebut terkenal di kalangan manusia karena warnanya tampil beda dengan warna pakaian kebanyakan orang sehingga orang-orang memperhatikannya kemudian ia menjadi congkak dan sombong” ( Aunul Ma’bud 6/11/50).  Pakaian Syuhroh ini tidak khusus untuk pakaian bagus saja tetapi juga untuk pakaian yang jelek yang penting motivasinya adalah untuk tampil beda dan tenar  (Majmu fataawa 22/138).
  • Pakaian yang merupakan ciri khusus dari orang kafir seperti pakaian Muashfar (Pakaian yang dicelup dengan warna kuning). Dari Abdulloh bin ‘amr bin al Ash t ia berkata: “Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  pernah melihat saya memakai dua pakaian muashfar kemudian beliau berkata: “Ini adalah pakaiannya orang kafir, jangan kamu pakai”(HR. Muslim 2077).
  • Pakaian yang berwarna merah polos sebagaimana hadits Imron bin Husain rodhiyallohu ‘anhu : “Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  melarang dari memakai bantal pelana yang dicelup merah” (HR. at Tirmidzi 2788, Shohihul jaami’ 6907). Bekata al Hafidz: “Pengkhususan larangan ini adalah pada pakaian yang dicelup (berwarna) merah seluruhnya, adapun jika ada warna yang lain selain merah seperti putih atau hitam maka tidaklah mengapa” (al fath 10/319).
  • Pakaian yang ada gambar makhluk bernyawa dan tanda salib (HR. al Bukhori 5952, 5957).
  • Khusus untuk perempuan tidak diperkenankan memakai pakaian yang ketat atau transparan. Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menerangkan tentang wanita-wanita yang masuk neraka diantaranya adalah “Berpakaian tetapi telanjang”(HR. Muslim 2128). Nabi pernah memerintahkan Usamah bin Zaid rodhiyallohu ‘anhu :”Suruh dia (istrimu) untuk memakai di bawah pakaian qibtiyyah pakaian dalam karena saya khawatir akan kelihatan kulitnya” (HR. Ahmad 5/205 dan dihasankan oleh Syaikh albani dalam “at tsamarul mustathob” hal. 318). Demikian pula tidak diperkenankan memakai pakaian bagian luar yang banyak corak serta motifnya yang mengundang perhatian orang. Berkata syaikh Albani: “Tujuan dari menggunakan jilbab (baju kurung) adalah untuk menutupi perhiasan wanita maka tidaklah diterima oleh akal jika jilbab itu merupakan perhiasan tersendiri” (Jilbab al Mar’ah al Muslimah hal.119-120). Berbeda dengan warna jilbab selain hitam maka itu tidaklah termasuk perhiasan sebagaimana telah diteranagkan di atas. Wallohul Muwaffiq.

 

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah Bulan romadhon…bulan yang membawa suka cita bagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *