Kamis , Oktober 22 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Adab / Etika Berhias bagi muslimah
KLIK UNTUK BERINFAK

Etika Berhias bagi muslimah

Etika Berhias bagi muslimah

Perhiasan sangat identik dengan keindahan. Terlebih lagi jika yang mengenakannya adalah insan yang menjadi pusat pesona dan perhatian. Maka menjadilah ia semakin menawan. Tidak mengherankan jika Islam sangat menganjurkan wanita untuk berhias dan berdandan  karena ia merupakan kodrat kewanitaan.

Namun tentunya ada yang tidak kalah pentingnya yaitu menghiasi jiwa dengan semua sifat yang diperintahkan dan dianjurkan oleh Islam dalam diri manusia seperti ilmu, iman yang benar, ketaqwaan, jujur, malu berbuat jelek, sopan, sabar, lembut dan sifat terpuji lainnya (QS. Al Hujurat: 7-8).

Berhias ada yang sifatnya mubah, mustahab dan juga haram untuk digunakan.

  1. Berhias yang hukumnya mubah (boleh)

Semua perhiasaan dengan semua jenisnya dibolehkan untuk digunakan oleh para wanita dengan syarat sesuai dengan batasan-batasan syar’I seperti:

a. Tidak berlebihan dan boros dalam memakai perhiasan. Sifat ini bukanlah sifat dari hamba Alloh (QS. Al furqon: 67) namun sifat dari kawan-kawannya syaiton (QS. Al Israa’: 27).

Berkata al Muqry : Boros adalah menambah dari ukuran yang dibutuhkan serta diizinkan oleh syari’at (al Qowa’id 2/508). Setiap muncul mode dan trend baru baru selalu ingin membelinya sekedar untuk koleksi dan berbangga-banggaan (riya’).

b. Tidak menghabiskan banyak waktu untuk berperhiasaan.

Tidak selayaknya bagi seorang muslimah yang hanya hidup sebentar di dunia ini untuk menghabiskan waktunya dalam hal-hal yang mubah semata seperti lalu lalang di pasar atau di mall untuk mencari perhiasaan ataupun berlama-lama di depan cermin dengan aneka kosmetikanya.

Nabi – Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, bersabda: “Diantara kebaikan islamnya seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya” (HR. at Tirmidzi 2318). Bahkan tidak sedikit yang rutin ke salon untuk mempercantik diri, menghabiskan biaya, waktu dan memfitnah kaum lelaki. Untuk siapakah sebenarnya mereka bersolek…?

c. Bersolek dan memakai perhiasan untuk suami

Dari Abu Hurairoh -Radhiallahu ‘Anhu-,  Rasululloh– Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, ditanya: ‘Wanita manakah yang paling baik’. Beliau – Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, menjawab: “Yang menyenangkan jika dipandang, ta’at jika disuruh dan tidak mendurhakai suami dalam hal-hal yang suami tidak sukai pada dirinya dan hartanya” (HR. ahmad 2/251, Shohih Sunan an nasa’I 3030).

Berkata As Sindi -Rahimahullah-, : “Yang menyenangkan jika dipandang” karena kecantikan luarnya, atau kecantikan akhlaknya dan sibuknya ia dengan keta’atan dan ketaqwaan (Hasyiah as Sindi 6/68). Oleh karena itu larangan Nabi buat  para suami yang berpergian jauh untuk pulang tiba-tiba di malam hari tanpa memberitahu istrinya terlebih dahulu tidak lain agar si istri dapat berhias diri untuk menyambut dan membahagiakan suaminya.

d. Berusaha menyembunyikan perhiasannya dari pandangan ajnabi (QS. an Nuur: 31).

e. Tidak tasyabbuh dengan orang kafir

Diantara bentuk tasyabbuh dengan orang kafir adalah memakai cincin tunangan atau cincin pernikahan. Disamping hukumnya haram bagi sang pengantin laki-laki (jika terbuat dari emas) juga merupakan tradisi kaum Nashrani dalam upacara-upacara mereka. Dalam Majalah “WOMEN” yang terbit di London edisi 19 bulan Maret 1960 hal. 8, pernah melayang pertanyaan sbb:

Why is the wedding ring placed on the third finger of the left hand ?

Mengapa cincin tunangan itu diletakkan di jari manis sebelah kiri ?

Pengasuh dari rubrik tersebut yang bernama: Angela Talbot menjawabnya:

“It is said there is a vein that runs directly from the finger to the heart. , there is the ancient origin where by the bridegroom placed the ring on the tip of bride’s left thumb, saying: “In the name of the father” on the first finger, saying: “In the name of the soon”, on the second finger, saying: “And of Holy Ghost”, on the word “Amen”, the ring was finally placed on the third finger where it remained”.

“Ada yang mengatakan bahwa di jari tersebut ada urat yang berhubungan ke hati. Di sana juga ada asal-usulnya yaitu tatkala kedua pengantin meletakkan cincin tersebut di jari jempol mereka berkata: “Dengan nama Tuhan bapak”. Tatkala diletakkan pada jari pertama (telunjuk) mereka mengucapkan: “Dengan nama Tuhan anak”. Ketika di jari kedua (jari tengah) mereka mengucapkan: “Dengan nama Ruhul Qudus” maka setelah mengucapkan “Amin” cincin tersebut akhirnya bertengger di jari manis” (Adabu az Zifaf hal. 213-214).

f. Diperbolehkan bagi wanita melubangi hidung dan melingkarkan perhiasaannya di sana. Hal ini sebagaimana riwayat dari Abdulloh bin ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma tatkala menceritakan hari ‘Id:

وَأَمَرَهُنَّ بِالصَّدَقَةِ فَرَأَيْتُهُنَّ يَهْوِينَ إِلَى آذَانِهِنَّ وَحُلُوقِهِنَّ

‘Beliau r memerintahkan mereka (para perempuan) untuk bersodaqoh maka saya melihat mereka mencopot perhiasaan pada hidung dan leher-leher mereka (HR. al Bukhori 5249).

g. Dianjurkan bagi wanita untuk berhias dengan menggunakan minyak wangi terutama di dalam rumah tatkala bersama suami. Tidaklah sopan jika seorang wanita tidur bersama suami dengan baju dan tubuh bau terasi dan tatkala tamu datang ia beranjak untuk berhias diri…!?. Adapun di luar rumah wanita diharamkan untuk memakai parfum atau wewangian sekalipun menuju masjid.

Rasululloh – Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, bersabda: “Perempuan mana saja yang memakai wewangian maka janganlah ikut sholat Isya’ bersama kami” (HR. Muslim 4/407). Begitu pula seorang wanita tidak diperbolehkan berhias dikala suaminya tidak dirumah atau bepergian.

Dari Fadholah bin ‘Ubaid -Radhiallahu ‘Anhu-, bahwasanya Rasululloh – Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, bersabda: “Ada tiga orang yang tidak akan ditanya (tidak akan dihiraukan oleh Alloh pada hari kiamat)…diantaranya adalah…”Seorang wanita yang suaminya tidak ada sedangkan ia telah dipenuhi kebutuhannya kemudian ia tabarruj (berhias) setelah itu” (HR. al Hakim 1/119 dan ia berkata: “Atas syarat al Bukhori dan Muslim”).

h. Tidak berhias menggunakan bahan-bahan kimia yang justru memberikan efek negatif pada tubuh. Karena sebagian bahan-bahan kosmetika dapat membuat rambut rontok, rusaknya kornea mata, penuaan dini, dan rapuhnya kuku tangan.

Berkata Dokter Wajih Zaenuddin : “Kelopak mata buatan tidak sedikit menyebabkan pelupuk mata menjadi terbakar” (Majalah al Wa’I al Islamy vol. 140 hal.93).

Berkata Dokter Wahbah Ahmad Hasan (Jurusan Kedokteran Universitas al Iskandariyah): “Mencukur bulu pipi dengan berbagai cara kemudian menggunakan pensil penghias pipi dapat menyebabkan efek negatif juga. Karena bahan penyusunnya adalah dari senyawa-senyawa berat seperti besi dan air raksa yang dicampur dengan lemak semisal minyak kakao sebagaimana juga semua bahan pewarna terdiri dari senyawa minyak yang kesemuanya berbahaya bagi kulit. Penyerapan senyawa beracun ini oleh kulit akan menyebabkan rapuh dan menyusutnya kulit…” (al Mar’ah al muslimah amama at tahdiyah hal. 69).

 

  1. Berhias yang hukumnya mustahab (dianjurkan) diantaranya adalah Sunanul fitroh seperti memotong kuku, mencukur bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, membersihkan sela-sela jari tangan dan kaki serta bersiwak (menggosok gigi). Demikian pula dianjurkan untuk menggunakan inai pada tangan, kaki maupun rambut kepala jika sudah beruban dengan syarat menyemir rambut tidak boleh menggunakan warna hitam atau warna-warna metal lainnya karena mencontoh wanita barat. Dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha bahwasanya ada seorang perempuan berkata kepada Nabi r : “Jika engkau seorang perempuan maka akan aku rubah kuku-kukumu (dengan pacar)” (Shohih abu dawud 2/785). Sebagaimana juga dianjurkan bagi para wanita untuk menggunakan celak. Diriwayatkan dari nabi bahwa beliau r bersabda: “Bercelaklah dengan itsmid karena akan mencerahkan mata dan menumbuhkan bulu mata”(HR. at Tirmidzi 5/447 dengan beberapa penguat).
  2. Berhias yang diharamkan :

a. Menjarangkan gigi dengan tujuan agar kelihatan lebih muda bukan untuk tujuan pengobatan atau bukan merapikan gigi yang tidak enak dilihat.

Dari Abdulloh bin Mas’ud -Radhiallahu ‘Anhu- ia berkata: “Saya pernah mendengar Nabi – Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, melarang dari mencabut bulu wajah dan menjarangkan gigi” (HR. ahmad 6/21). Termasuk juga yang diharamkan adalah mencabut bulu alis, mencukurnya atau menggantinya dengan bulu palsu.

b. Menyambung rambut dengan rambut yang lain.

Rasululloh – Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, bersabda: “Alloh melaknat orang yang menyambung rambut dan yang minta disambung” (HR. al Bukhori 5589). Termasuk juga di sini mengangkat rambut dan melingkarkan dibagian atas sehingga membentuk gundukan tinggi. Hal ini masuk kepada larangan Nabi – Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, : “Kepala mereka seperti punuk unta, mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya” (HR, Muslim 14/356).

c. Membotaki kepala atau cukur laki bukan karena darurat sebagaimana riwayat dari ‘Ali -Radhiallahu ‘Anhu- bahwasanya Nabi – Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, melarang perempuan untuk mencukur rambut kepalanya (HR. an nasa’I 8/130, Syaikh Albani berkata: sanadnya shohih).

d. Mentato kulit baik itu dengan gambar bunga, hewan maupun yang lainnya sebagaimana hadits Ibnu Mas’ud -Radhiallahu ‘Anhu- : “Alloh melaknat orang yang mentato dan yang minta ditato” (HR.al Bukhori 4604).

e. Menggunakan sepatu hak tinggi. Hal ini karena akan menimbulkan perasaan sombong, beresiko terpeleset atau jatuh, meniru wanita kafir dan terdapat unsur penipuan agar terlihat berbodi tinggi.

Rasululloh – Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, bersabda: “Orang yang puas dengan apa yang tidak ia berikan semisal orang yang memakai pakaian tiruan” (Disarikan dari kitab Zinatul Mar’ah al Muslimah oleh Syaikh Abdulloh al Fauzan dengan beberapa tambahan penulis). Walhamdulillah.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah Bulan romadhon…bulan yang membawa suka cita bagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *