Kamis , Oktober 22 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Adab / Etika Bercakap-cakap
KLIK UNTUK BERINFAK

Etika Bercakap-cakap

Etika Bercakap-cakap

Manusia tidak akan pernah lepas dari berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Terkadang untuk suatu keperluan dan terkadang juga sekedar berbasa-basi. Ironisnya, kadangkala adab dalam bercakap-cakap ini diabaikan sehingga tidak sedikit membuat kesal dan tersinggung lawan bicaranya. Oleh karena itu ada beberapa etika yang perlu untuk diperhatikan agar percakapan kita menjadi berfaedah dan penuh dengan hikmah :

  1. Berbicara yang santun, tidak nyerocos

Tidak jarang ada seseorang yang banyak bicara mengenai segala hal tanpa ada manfaatnya seolah-olah dialah yang paling tahu dan ahli dalam segala bidang. Ia mengganggap diamnya orang di depannya menandakan ia kagum dengan pembicaraannya sehingga ia pun memperpanjangnya ke timur dan ke barat. Dari Abu Tsa’labah al Khusyani , Rasululoh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ أَحَبَّكُمْ إِلَىَّ وَأَقْرَبَكُمْ مِنِّى فِى الآخِرَةِ مَحَاسِنُكُمْ أَخْلاَقاً وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَىَّ وأَبْعَدَكُمْ مِنِّى فِى الآخِرَةِ مَسَاوِيكُمْ أَخْلاَقاً الثَّرْثَارُونَ الْمُتَفَيْهِقُونَ الْمُتَشَدِّقُونَ

Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat denganku di akhirat adalah yang terbaik akhlaknya diantara kalian dan yang paling jauh dariku di akhirat adalah yang paling jelek akhlaknya; yang banyak bicara, yang sombong lagi suka mengejek orang (HR. Ahmad 4/193-194, Ibnu Hibban 482 dan dihasankan oleh Syaikh Albani dalam As Shohihah 791). Berkata Syaikh Abdurrahman as Sa’di : “Hati-hati kalian dari mengganggu orang di majelismu agar engkau menjadi orang yang paling tinggi padahal engkau bukan seperti itu dan janganlah banyak bicara dengan memulai setiap pembicaraan. Bisa jadi karena kebodohan dan kepandiranmu engkau menguasai majelis dan menjadi khotib dan orator tanpa memberikan kesempatan yang lainnya untuk berbicara. Sesungguhnya adab syar’I dan kesopanan menurut kebiasaan orang adalah memberikan kesempatan yang lain untuk berbicara karena mereka semua memiliki bagian untuk itu. Kecuali bagi anak-anak kecil (pemula) dengan orang-orang tua, hendaknya mereka memelihara adab dengan tidak berbicara kecuali sebagai bentuk jawaban untuk yang lainnya (ar Riyadhoh an Nadhiroh 5 hal.549).

  1. Tidak berbicara mengangkat diri sendiri hanya sekedar untuk suatu kebanggaan. Termasuk dalam hal ini adalah membicarakan perihal kecerdasan anaknya, kekayaan suaminya atau tentang kegesitan istrinya mengatur rumah tangga. Pada asalnya. Pada asalnya memuji diri sendiri adalah terlarang sebagaimana firman Alloh Ta’ala :

فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa (QS. an Najm: 32).

Berkata an Nawawi rohimahulloh : “Ketahuilah, bahwasanya menyebut kebaikan diri sendiri ada dua macam : ada yang tercela dan ada yang terpuji. Yang tercela yaitu ia menceritakannya untuk kebanggaan, menampakkan kelebihan dan tampil beda dengan yang lainnya dan semisal itu. Yang terpuji jika hal itu diceritakan untuk suatu kemaslahatan agama seperti amar ma’ruf nahi munkar, menasehati, mengajar, mendidik, memberikan wejangan, mengingatkan, mendamaikan antara dua orang, menghindarkan diri dari bahaya dan semisal itu. Dengan menyebutkan kebaikan-kebaikan tersebut ia meniatkan agar pendapatnya akan mudah diterima dan dapat dijadikan teladan” (al Adzkar hal.246-247).

  1. Berhati-hati ketika berbicara sehingga tidak menyinggung perasaan orang yang diajak bicara. Berkata ‘Amr bin al Ash : “Ketergelinciran kaki adalah tulang yang bisa diluruskan sedangkan ketergelinciran lisan tidak meninggalkan (orang yang hidup kecuali akan dibinasakan) dan tidak membiarkan (orang mati kecuali pasti akan dihidupkan kembali)” (Bahjatul Majalis 1/87).
  2. Tidak terlalu banyak bertanya yang tidak diperlukan atau terlalu cepat menjawab suatu pertanyaan. Temasuk aib bagi seseorang jika ia terlalu cepat menjawab suatu pertanyaan sebelum yang bertanya menyelesaikan soalnya atau menjawab pertanyaan yang ditujukan kepada orang lain bukan kepada dirinya. Berkata ‘Umar bin abdul Aziz: “ Ada dua perangai yang tidak akan menjauhkan kamu dari kebodohan yaitu terlalu cepat berpaling dan menjawab” (‘Uyunul Akhbar 2/39).
  3. Berpaling dari berbicara dengan orang-orang rendahan dan pandir. Alloh Ta’ala berfirman:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Jadilah Engkau Pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh (QS. al a’raaf: 199).

Berkata Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma : “Janganlah engkau bertengkar dengan orang penyantun dan orang pandir karena orang penyantun akan membencimu dan orang pandir akan menyakitimu” (al ‘Uzlah oleh al Khoththobi hal. 134-135).

  1. Berbicara tidak sesuai dengan situasi dan kondisi majelis. Tidaklah layak jika seseorang bergurau dikala tema pembicaraan sangat serius atau berusaha membuat orang tertawa di kala situasi sedang sedih. Berkata Syaikh as Sa’di : “Termasuk adab yang baik adalah berbicara dengan setiap orang sesuai dengan keadaan dan kedudukan orang tersebut. Berbicara dengan ulama yaitu dengan belajar, mengambil manfaat dan menghormatinya. Dengan para penguasa dan pemimpin adalah dengan menghormati dan berbicara yang lembut serta sopan yang sesuai dengan kedudukan mereka. Dengan saudara dan sahabat adalah perkataan yang baik, bertukar pikiran tentang agama dan dunia serta bermuka ceria yang dapat menghilangkan kekakuan dan menghiasi majelis, tidak mengapa bercanda asalkan jujur. Dengan para murid adalah dengan memberikan manfaat. Dengan keluarga dan kerabat adalah mengajarkan mereka kemaslahatan agama dan dunia, pendidikan rumah tangga dan menganjurkan mereka melakukan amalan yang bermanfaat buat mereka dengan dibarengi wajah yang ceria dan senda gurau karena mereka adalah orang yang paling berhak dengan kebaikanmu dan kebaikan yang terbesar adalah mempergauli mereka dengan baik. Dengan para faqir miskin, berbicara dengan tawadhdhu’, merendahkan diri dan menjauhi untuk mengangkat diri dan berbicara sombong kepada mereka..”(ar Riyadh an Nadhiroh hal. 458-459).
  2. Janganlah berbicara sesuatu yang tidak disenangi oleh lawan bicara. Abdulloh bin Mas’ud pernah berkata: “Ajaklah bicara orang selama ia menghadapkan diri kepadamu dengan pendengarannya dan memperhatikanmu dengan pandangannya. Jika engkau melihat mereka bosan maka berhentilah bicara” (Zahrul adab 1/195).
  3. Memperhatikan dan menyimak orang yang berbicara di depannya. Hal itu dengan memotong pembicaraannya, mengcounter-nya langsung atau sibuk dengan membaca yang lain atau sibuk mendengarkan orang lain yang tidak di depannya. Berkata Ibnu ‘abbas rodhiyallohu ‘anhuma: “Tiga kewajibanku bagi teman dudukku: menggelarkan kainku (tikar) jika ia datang, jka ia duduk saya meluaskan majelisnya dan jika ia berbicara saya menyimaknya” (‘Uyunul Akhbar 1/306).
  4. Menghargai pembicaraan seseorang sekalipun ia lebih tahu tentang hal itu. Ibnu Hibban menceritakan dari jalan Mu’adz bin Sa’d al A’war ia berkata: “Saya pernah duduk di samping Atho’ bin Abi Robah. Kemudian ada seseorang yang menyampaikan suatu hadits lalu ada seseorang yang meremehkan haditsnya maka Atho’ marah seraya berkata: “Perangai apa ini?!”. “Sesungguhnya saya mendengar hadits dari orang lain sedangkan saya lebih mengetahui tentang hadits tersebut tetapi saya perlihatkan kepada orang tersebut seolah-olah saya tidak tahu apa-apa”. (Raudhatul ‘Uqola’ hal.72). Berkata Kholid bin Yahya kepada anaknya : “Wahai anakku, jika teman dudukmu menyampaikan sesuatu maka hadapkan wajahmu kepadanya dan simaklah. Janganlah mengatakan : “Aku pernah mendengarnya –sekalipun engkau lebih menghafalnya- dan seolah-olah engkau belum pernah mendengarnya, karena hal itu akan membuatmu dicintai dan orang tersebut akan senang kepadamu” (Bahjatul majalis 1/43).
  5. Tidak beranjak pergi sebelum teman duduknya menyelesaikan ceritanya. Berkata Abu Mijlaz : “Jika ada seseorang yang duduk dengan maksud menyampaikan sesuatu kepadamu maka janganlah beranjak pergi sampai engkau meminta izinnya” (al Muntaqo min Makarimil akhlaq hal.153).
  6. Tidak terlalu cepat mendustakan orang yang menyampaikan perihal sesuatu. Tatkala saudaranya berbicara tentang sesuatu ia lantas mengucapkan : “Bukan begitu!, itu bohong!, Ndak gitu!….”. Abdulloh bin ‘Amr bin al Ash rodhiyallohu ‘anhuma berkata: “Ada tiga orang dari Quraisy yang paling baik akhlaknya, paling putih wajahnya dan paling pemalu. Jika kalian menceritakan mereka, mereka tidak akan mendustakan kalian. Jika kalian menceritakan sesuatu yang benar atau keliru mereka tidak lantas mendustakannya; mereka adalah Abu bakr as shiddiq, Utsman bin ‘affan dan Abu ‘Ubaidah ibnul Jarroh” (‘Uyunul akhbar 3/23).
  7. Berusaha untuk bercakap-cakap dengan anak-anak kecil untuk melatihnya berbicara, menambah pengalaman dan pengetahuan mereka, menguatkan akal mereka dan menambah keberanian dan percaya diri mereka.
  8. Tidak mengangkat atau mengeraskan suara tatkala berada di dalam majelis (QS. Luqman: 19).
  9. Lembut dalam gaya berbicara (QS. Al Israa’: 53). Ibnu Katsir berkata: “Alloh memerintahkan hamba dan RasulNya untuk menyuruh kaum mukminin agar mengatakan yang baik dalam berbicara dan bercakap-cakap dengan pembicaraan dan pekataan yang baik. Jika tidak begtu maka syaiton akan menimbulkan perselisihan antara mereka…(Tafsir Ibnu Katsir 3/45).
  10. Tatkala berdialog atau berdebat hendaknya dilakukan untuk mencari kebenaran dan dilakukan dengan baik bukan untuk mencari kemenangan atau permusuhan atau sekedar menyalurkan hobi berdebat.
  11. Menghindari pembicaraan yang terlalu banyak tentang wanita. Berkata Ahnaf bin Qois: “Jauhkanlah majelis kita dari membicarakan wanita dan makanan. Saya tidak suka orang yang terlalu suka mensifati kemaluan dan perutnya” (Siyar A’lam an Nubala’ 4/94). Walhamdulillah.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah Bulan romadhon…bulan yang membawa suka cita bagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *