Sabtu , Oktober 24 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Manhaj / DEMONSTRASI DALAM TINJAUAN ISLAM
KLIK UNTUK BERINFAK

DEMONSTRASI DALAM TINJAUAN ISLAM

DEMONSTRASI DALAM TINJAUAN ISLAM

Urgensi Pemimpin dalam kehidupan manusia

‘Umar Ibnul Khoththob pernah mengatakan: “Tidak ada agama kecuali dengan jama’ah dan tidak ada jama’ah kecuali dengan kepemimpinan dan tidak ada kepemimpinan kecuali dengan keta’atan” (Diriwayatkan oleh ad Darimi 1/315).

Berkata Syaikhul Islam: “Hendaknya wajib diketahui bahwasanya memimpin urusan manusia termasuk kewajiban terbesar di dalam agama bahkan agama dan dunia tidak akan stabil kecuali dengan pemimpin. Anak Adam tidak akan sempurna kemaslahatannya kecuali dengan bermasyarakat untuk memenuhi kebutuhan satu dengan lainnya dan tatkala bemasyarakat tidak bisa tidak harus ada pemimpin… Alloh Ta’ala mewajibkan amar ma’ruf nahi munkar dan hal itu tidak akan sempurna kecuali dengan kekuatan dan kepemimpinan. Demikian pula kewajiban-kewajiban yang lainnya baik itu jihad, keadilan, penyelenggaraan haji, jum’at dan hari raya, menolong yang terdzholimi dan menegakkan hukum Had tidak akan bisa diwujudkan kecuali dengan kekuatan dan kepemimpinan” (as Siyasah as Syar’iyyah 232-235).

Berkata Ibnu Abil ‘Izz al Hanafi: “Sesungguhnya Raja yang dzholim (sewenang-wenang), pasti  Alloh akan mencegah kejahatan (di tengah masyarakat) dengan sebab orang tersebut  lebih banyak   daripada kejahatan (yang ditimbulkan) karena kedzholimannya sendiri. Dikatakan oleh ulama salaf: “60 tahun dengan pemimpin yang dzholim lebih baik daripada satu malam tanpa pemimpin”. Jika ditaqdirkan kedzholimannya lebih banyak maka itu adalah baik untuk agama, ibarat musibah (penyakit) yang merupakan pelebur dosa dan diberikan pahala apabila bersabar, mengembalikan urusannya kepada Alloh, meminta ampun dan bertaubat kepadaNya.  Demikian pula apabila mereka dikuasai oleh musuh (bisa jadi baik buat agama mereka). Oleh karena itu terkadang Alloh menguasakan banyak dari pemimpin yang dzholim selama beberapa rentang waktu” (Syarh al Aqidah at Thahawiyyah 2/518).

Kewajiban Rakyat terhadap Pemimpin

  1. Wajib menta’atinya dalam hal yang baik dan tidak boleh memberontak

Dari Hudzaifah secara marfu’ Rasululloh -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, bersabda:”Akan datang setelahku para pemimpin yang tidak menggunakan petunjukku, tidak juga sunnahku dan akan ada pada kalian pemimpin yang hati mereka seperti syaithon dalam tubuh manusia”. Hudzaifah berkata: “Apa yang saya perbuat wahai Rasululloh jika menemui hal tersebut?” Beliau bersabda: “Dengar dan ta’atlah sekalipun punggungmu dipukul dan hartamu diambil, dengar dan ta’atlah” (Muslim 4785).

Berkata al Imam al Ajury: “Para ulama dahulu dan sekarang tidak berbeda pendapat bahwasanya khawarij termasuk kelompok yang buruk, durhaka kepada Alloh dan RasulNya sekalipun mereka sholat dan puasa serta bersungguh-sungguh ibadah namun itu semua tidak ada manfaatnya. Meskipun mereka ‘amar ma’ruf nahi munkar tetapi itu tidak ada gunanya karena mereka memberontak kepada pemimpin dan penguasa serta menghalalkan darah kaum muslimin” (as Syari’ah 29).

  1. Mendo’akan kebaikan bagi para pemimpin

Berkata al Imam Abdulloh Ibnul Mubarok : “Barangsiapa yang berprinsip: “Boleh sholat di belakang Imam yang baik atau tidak baik, berjihad bersama pemimpin, tidak membolehkan memberontak kepada penguasa, mendoa’akan para pemimpin dengan kebaikan” maka ia telah keluar dari prinsip khawarij awal dan akhirnya” (Syarhus Sunnah, al Barbahari hal. 132 no.159).  

Berkata Fudhail Ibnu ‘Iyyadh : “Seandainya saya memiliki do’a yang mustajab maka akan saya peruntukkan untuk penguasa”, “Apabila do’a itu untuk diri saya maka hanya untuk kebaikan saya namun apabila untuk penguasa kemudian ia menjadi baik maka akan baik pula rakyat dan negeri” (Syarhus Sunnah hal. 116-117).

Berkata Syaikhul Islam : “Oleh karena itu Para Salaf seperti Fudhail Ibnu ‘Iyyadh, Ahmad bin Hambal, Sahl Ibnu Abdillah at Tustury dan selain mereka sangat mengagungkan nikmat Alloh –berupa penguasa- dan mereka berpendapat bahwa mendoakan kebaikan bagi mereka dan menasehatinya termasuk amalan agung yang mendekatkan kepada Alloh, bukan karena tamak dengan harta atau kepemimpinan, bukan pula karena takut kepada mereka dan bukan menolong mereka dalam perbuatan dosa dan permusuhan” (as Siyasah as Syar’iyyah 233-234).

2. Menghormati dan Memuliakan Mereka

Dari Abi Bakroh Rasululloh -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, bersabda: “Penguasa adalah naungan Alloh di bumi, barangsiapa yang memuliakannya maka Alloh akan muliakan orang itu dan barangsiapa yang menghinakannya maka Alloh akan hinakan orang tersebut” (HR. ahmad 5/42, at Tirmidzi 2225, as Shohihah 5/376).

Berkata Sahl bin Abdillah at Tustury: “Senantiasa manusia dalam kebaikan selama mereka memuliakan penguasa dan ulama karena jika dua orang ini dimulaikan maka akan baik dunia dan akhirat mereka dan jika keduanya diremehkan maka akan rusak dunia dan akhirat mereka” (al Jaami’ li ahkamil Qur’an, al Qurthubi 5/260).

Berkata Thawus: “Termasuk sunnah, memuliakan empat orang: orang alim, orang yang sudah tua, penguasa dan kedua orang tua” (Syarhus Sunnah al Baghawi 13/41). 

3. Tidak boleh menipu atau berbuat curang kepada mereka

Berkata Anas bin Malik: “Para senior kami dari kalangan para sahabat Rasululloh -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, berkata: “Jangan kalian mencela pemimpin kalian, jangan menipu mereka, jangan membuat mereka marah, dan bertakwalah kepada Alloh serta bersabarlah karena hal itu (hari kiamat) sudah dekat” (HR. Ibnu Abi Ashim dalam “as Sunnah” 2/693 dan sanadnya dianggap bagus oleh Syaikh al Albany dalam “Dhilalul Jannah” 2/488).

Diantara bentuk-bentuk kecurangan bawahan terhadap pemimpin:

4. Tidak menyampaikan kedzholiman terhadap atasan.

Tidak sedikit para pegawai atau bawahan tidak mau menyampaikan suatu kedzholiman kepada atasan padahal ia mampu untuk itu. Maka hendaknya para pemimpin memperingatkan pegawainya, wakil, menteri ataupun bawahannya yang lain, akan bahayanya do’a orang yang terdzholimi. 

Dari Zaid Ibnu Aslam dari bapaknya bahwa ‘Umar pernah memandatkan kepada Hunay untuk menjabat di daerah Hima. ‘Umar berpesan kepadanya: “Wahai Hunay, Tahanlah tanganmu dari mendzholimi kaum muslimin, hati-hatilah dari do’a orang yang terdzholimi karena do’a mereka mustajab” (HR. al Bukhori 3059).

5. Menutup pintu-pintu penguasa untuk rakyat yang membutuhkan

Dari ‘Amr Ibnu Murroh bahwasanya ia berkata kepada Mu’awiyyah: “Wahai Mu’awiyyah aku pernah mendengar Rasululloh -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, bersabda: “Tidaklah seorang Imam atau pejabat yang pintunya tertutup (melarang orang dari) mengadu kepadanya  melainkan Alloh akan menutup pintu langit dari semua kebutuhan dan do’anya” (HR. Ahmad 29/565, at Tirmidzi 279, Shohih at Tirmidzi 2/67).

6. Mendekatkan orang-orang fasiq dan tidak sholih sebagai orang-orang kepercayaannya

Dari Abu Sa’id al Khudry dari Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, bersabda: “Tidaklah Alloh mengutus suatu Nabi dan mengangkat seorang khalifah melainkan pasti memiliki dua bithonah (orang kepercayaan) yaitu bithonah yang memerintahkan dan memberikan semangat kepada yang ma’ruf dan bithonah yang menyuruh dan menyemangati berbuat kejelekan. Orang yang ma’shum adalah yang dijaga oleh Alloh Ta’ala” (HR. al Bukhori 7198).

7. Menghias-hiasi perbuatan munkar dan perbuatan bid’ah sehingga mereka mendukungnya.

Dari Jarir Ibnu Abdillah Rasululloh -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, bersabda: “Barangsiapa yang membuat sunnah yang jelek dalam Islam maka ia mendapatkan dosa dan dosa orang yang mengamalkannya setelahnya…” (HR. Muslim 2351).

8. Kurang dalam menasehati pemimpin

Berkata Imam an Nawawi: “Nasehat kepada para pemimpin adalah membantu mereka di atas kebenaran, menta’ati mereka dalam kebaikan, memerintahkan mereka kepada kebenaran, mengingatkan dan memperingatkan dengan baik dan lembut dan memberitahukan mereka apa yang mereka lalai dari hak-hak kaum muslimin karena belum sampai kepada mereka, tidak memberontak dan melunakkan hati-hati manusia untuk menta’ati mereka” (al Minhaj fi Syarhi Shohih Muslim hal. 131).

9. Mencari- Cari Udzur buat Para Pemimpin

Pemimpin memiliki tanggung jawab dan pekerjaan yang besar mengurus rakyatnya apalagi jika yang diurus sampai ribuan atau ratusan  juta penduduk. Maka jika ada kekeliruan dan lupa maka sangatlah wajar dan perlu untuk diberikan udzur (maaf).

Berkata Syaikh Muhammad al Utsaimin: “Bukanlah termasuk nasehat apabila mendorong dan memenuhi hati manusia untuk membenci dan memusuhi pemimpin namun hendaknya hati manusia dilunakkan untuk menta’ati pemimpin dan memberikan udzur dari hal-hal yang dapat diberikan udzur” (at Ta’liq ‘ala Siyasah as Syar’iyyah hal. 452).

Bagaimana Cara Mengingkari Kesalahan Pemimpin ?

1. Mengingkari Pemimpin Muslim

Berkata an Nawawi: “Memberontak dan memerangi (pemimpin muslim) diharamkan menurut kesepakatan kaum muslimin sekalipun mereka fasiq dan dzholim…dan ahlu sunnah sepakat tidak bolehnya melengserkan penguasa karena ia fasiq” (Syarh Shohih Muslim hal. 1192).

Dari Abdulloh Ibnu Mas’ud dari Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, bersabda: “Akan terjadi sikap mementingkan diri sendiri dan perkara-perkara yang kalian tidak sukai”. Para Sahabat bertanya: “Apa perintahmu kepada kami wahai Rasululloh?” Beliau menjawab: “Tunaikan kewajiban kalian dan mintalah hak kalian kepada Alloh” (HR. al Bukhori 3603). 

Berkata ‘Iyadh Ibnu Ghunmin kepada Hisyam Ibnu Hakim: “Tidakkah engkau mendengar bahwa Rasululloh bersabda: “Barangsiapa yang ingin menasehati penguasa maka janganlah ia menasehatinya terang-terangan namun hendaknya menggandeng tangannya dan empat mata, apabila ia menerima maka itulah yang diharapkan namun apabila ia menolak maka ia telah melaksanakan kewajibannya” (as Sunnah 2/737 dan dishohihkan oleh Syaikh Albani dalam Dhzilalul jannah 2/521).

Berkata al ‘Allamah Syaikh Bin Baz: “Bukanlah termasuk manhaj salaf berorasi menyebarkan aib-aib penguasa dan menyebutnya di mimbar-mimbar karena akan menimbulkan kekacauan dan tidak mau mendengar dan ta’at dalam kebaikan serta akan membuat gonjang-ganjing yang tidak ada sama sekali manfaatnya bahkan justru membahayakan. Metode yang ditempuh oleh Salaf adalah saling menasehati antara mereka dengan penguasa, bersurat kepadanya atau menghubungi para ulama yang dapat menyampaikan aspirasi mereka sehingga sang penguasa dapat diarahkan kepada yang baik” (Majmu’ fatawa 8/210-211).

2. Mengingkari Penguasa Kafir

Dari ‘Ubadah Ibnu Shomit bahwasanya Rasululloh -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, membait kami untuk mendengar dan ta’at dikala semangat atau tidak, susah maupun senang, tidak diperhatikan haknya dan agar kita tidak mencopot jabatan dari yang berhak kecuali jika engkau melihat kekufuran yang jelas  dan engkau memiliki burhan (alasan) di sisi Alloh” (HR. al Bukhori 7055).

Berkata Syaikh al ‘Allamah Muhammad Ibnu Sholih al Utsaimin : “Tidak diperbolehkan keluar memberontak kepada penguasa kecuali dengan syarat-syarat yang ketat:

  1. Kita mengetahui dengan seyakin-yakinnya bahwasanya ia telah melakukan kekufuran (yang membuat ia keluar dari Islam).
  2. Kekufuran ini adalah sangat jelas bukan sekedar ta’wil (kemungkinan atau karena salah penafsiran) .
  3. Kita memiliki dalil yang jelas seperti matahari bahwasanya itu adalah kekafiran.
  4. Memiliki kemampuan untuk melengserkannya. Adapun kalau kita yakin bahwasanya tidak bisa menggulingkannya kecuali dengan perang, menumpahkan darah dan melanggar keharaman maka tidak boleh kita membicarakannya selama-lamanya tetapi hendaknya kita memohon kepada Alloh untuk memberikannya petunjuk dan menggantinya dengan yang lain” (Syarhul Mumti’ 11/323-324).
  5. Mengingkari Penguasa/Pejabat Kafir yang berada di bawah kekuasaan Penguasa Muslim

Memberontak kepada pejabat  kafir yang masih berada dalam kekuasaan pemimpin muslim tidak diperbolehkan karena pada hakekatnya memberontak kepada atasannya yaitu Penguasa Muslim dan hukumnya sama dengan memberontak kepada penguasa muslim. Apabila pejabat kafir tersebut sewenang-wenang maka hendaknya dilaporkan kepada atasannya yang muslim agar bisa diluruskan  dan dan diproses secara hukum tentunya dengan cara yang disunnahkan dalam Islam.

Dampak Negatif Demonstrasi

Berkata Syaikh Abdul ‘Aziz Ibnu Abdillah ar Rojihy: “Diantara kerusakan demonstrasi:

  1. Pertumpahan darah. Menumpahkan darah termasuk kejahatan terbesar setelah perbuatan Syirik (menyekutukan) Alloh Ta’ala.
  2. Terganggunya keamanan dan ini adalah musibah besar karena tidak ada nikmatnya hidup apabila dihantui ketakutan.
  3. Terganggunya pendidikan, industri, perdagangan, pertanian dan semua sektor kehidupan.
  4. Membuka celah campur tangan negara asing kafir.
  5. Membuka peluang para pengacau negara baik dari kalangan pencuri maupun perusuh dan selain mereka untuk menyulut kerusakan yang tidak ada ujungnya dan akan menimpa setiap orang . Oleh karena itu saya memperingatkan dari bergabung dan ikut-ikutan demonstrasi atau mengajak dan mendukung karena ini termasuk perkara besar dan termasuk dosa besar” (Majalah al Jaziroh no. 14039, 2/4/1432 hal. 17).

Berkata Syaikh al Utsaimin: “Tidak diragukan bahwa demonstrasi termasuk keburukan karena akan berujung kekacauan baik bagi yang demonstrasi maupun orang lain. Semua bentuk demonstrasi adalah jelek baik diizinkan oleh penguasa atau tidak. Adapun izin dari sebagian penguasa ini hanya sekedar sandiwara karena jika engkau kembalikan kepada isi hatinya maka engkau dapati mereka sangat tidak menyukai hal ini namun ia membolehkan dengan alasan “demokrasi” sehingga membuka pintu kebebasan bagi manusia dan ini bukanlah metode para salaf (Rasululloh dan para sahabat)” (Liqo’ul Maftuh 18/179).

Apakah Demonstrasi termasuk Jihad ??

Dari Abu Sa’id al Khudry bahwasanya Rasululloh -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, bersabda:

إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ اْلِجهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

Termasuk jihad yang agung adalah perkataan yang adil di sisi penguasa yang sewenang-wenang (HR. at Tirmidzi 2/26, Abu Dawud 4344, Silsilah as Shohihah 1/806).

Berkata Syaikh Sholih Fauzan: “Hadits tersebut menyatakan “di sisi” penguasa yang sewenang-wenang yaitu bercakap-cakap dengannya bukan mengingkari di podium atau jalanan. Alloh berkata kepada Musa dan Harun: (فَأْتِيَاهُ ) “Datangilah ia (Fir’aun) “ (فَقُولا لَهُ قَوْلاً لَيِّناً ) “Ucapkanlah perkataan yang lembut” (al I’lam Bikaifiyati Tanshibil Imam fil Islam).

Berkata al Imam as Syaukani: “Apabila terdapat kesalahan pemimpin dalam beberapa masalah hendaklah dinasehati dan tidak boleh menjelekkannya di depan khalayak ramai tetapi sebagaimana dalam hadits hendaknya menyepi dan mencurahkan nasehat serta tidak boleh merendahkan pemimpin” (as Sailul Jaror 4/556).   

Dari Abu Hurairah dari Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, beliau bersabda: “Barangsiapa yang keluar dari keta’atan (memberontak) dan memisahkan diri dari jama’ah kemudian ia mati maka ia mati seperti matinya kaum jahiliyyah…” (HR. Muslim 4786).

Berkata Syaikh Muhammad al Utsaimin: “Demonstrasi adalah perkara baru dalam agama, tidak dikenal di zaman Nabi, Khulafa’ ar Rosyidin, tidak juga masa para Sahabat. Disamping itu dampak negatif berupa kekacauan dan kerusuhan membuat perkara ini menjadi terlarang …Adapun alasan mereka: “Demonstrasi ini adalah aksi damai”, itu hanyalah di permulaan atau di kali pertama, adapun selanjutnya adalah pengerusakan. Maka saya nasehatkan para pemuda untuk mengikuti  jalannya para salaf karena Alloh telah memuji Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik” (Hukmul Mudzhaharot fil Islam hal. 179).   

Bagaimana Mendapat Pemimpin Yang Ideal…??

Dari Abdulloh Ibnu ‘Umar bahwa Rasululloh -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, bersabda: …”Tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan kecuali mereka akan tertimpa paceklik, susahnya penghidupan dan jahatnya penguasa…” (HR. Ibnu Majah 275).

Berkata Ibnul Qoyyim: “Perhatikanlah hikmah Alloh Ta’ala dimana Dia menjadikan penguasa, pemimpin dan pengurus mereka termasuk bagian dari amalan mereka bahkan seolah-olah amalan rakyat akan tercermin dari tingkah laku pemimpinnya. Apabila rakyat istiqomah maka akan istiqomah pula pemimpinnya, apabila rakyatnya adil maka pemimpin juga akan adil,  jika rakyat sewenang-wenang maka pemimpin juga akan seperti itu dan jika muncul tipu daya dan kecurangan pada rakyat maka pemimpin juga akan seperti itu…” (Miftah dar as Sa’adah 2/177-178 tahqiq Syaikh ‘Ali al Halaby).

Dari Ubadah bin Shomit ia berkata: “Rasululloh keluar untuk memberitahukan orang-orang tentang lailatul qodar kemudian ada dua orang muslim bertengkar. Nabi bersabda: “Saya keluar untuk memberitahukan tentang lailatul qodar kemudian si fulan dan fulan bertengkar dan ilmu tentang itu diangkat dan bisa jadi itu baik bagi kalian” (HR. al Buhori 1919).

Dari seseorang yang pernah ikut sholat subuh bersama Rasululloh -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, kemudian beliau ragu-ragu pada suatu ayat. Setelah salam beliau berkata: “Sesungguhnya telah dirancukan kepada kita al Qur’an karena ada beberapa orang diantara kalian yang ikut sholat bersama kita tidak menyempurnakan wudhu’nya” (HR. ahmad 15914 dan dihasankan oleh syaikh Albani dalam Shohih at Targhib 222).

Perhatikanlah bagaimana Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, dilupakan oleh Alloh suatu ilmu yang sangat agung yaitu tentang lailatul qodar hanya gara-gara ada sahabat yang bertengkar; dan bagaimana beliau kacau bacaannya gara-gara makmumnya ada yang tidak menyempurnakan wudhu’!?

Bagaimana lagi jika rakyat aqidahnya rusak, ibadahnya jauh dari sunnah kemudian rakyatnya ingin pemimpin yang sholih!!?. Bukankah Bani Isro’il dirubah menjadi kera ketika dipimpin oleh manusia terbaik yaitu Nabi Musa dan belum dikutuk tatkala dipimpin oleh Fir’aun…?!

Di satu sisi itu adalah hukuman bagi mereka sedangkan bagi rakyat yang sholih itu termasuk dalam firman Alloh Ta’ala yang artinya:

dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya (QS. al Anfaal: 25). Jika mereka bersabar maka itu akan menghapus dosa yang telah lalu.

Berkata al Baaji: “Terkadang sekelompok orang melakukan perbuatan dosa yang hukumannya akan merembet di dunia kepada yang lain yang tidak melakukan dosa tersebut. Adapun di akhirat seseorang tidak akan menanggung dosa orang lain”( “al Muntaqo syarh al Muwaththa’” (615). Wallohul Muwaffiq.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Menyoroti Pola Hidup Boros

Menyoroti Pola Hidup Boros                 Perkembangan kehidupan manusia yang semakin komplek dan maju cenderung untuk …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *