Kamis , Oktober 22 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Manhaj / Bid’ah Menurut Perpektif al Qur’an dan as Sunnah
KLIK UNTUK BERINFAK

Bid’ah Menurut Perpektif al Qur’an dan as Sunnah

Bid’ah Menurut Perpektif al Qur’an dan as Sunnah

Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, memerintahkan kaum muslimin untuk berpegang teguh dengan sunnah dan menghindari kebalikan  dari sunnah yaitu apa yang beliau namakan bid’ah. Untuk itu kami ingin mengajak untuk mengenal lebih jauh apa yang dimaksud bid’ah agar kita bisa menjauhinya.

a. Pengertian Bid’ah Secara Bahasa

Bid’ah ( البِدْعَةُ ) adalah kata benda dari kata kerja ( بَدَعَ) yang artinya memulai atau membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya dan juga bisa bermakna ( الإِنْقِطَاعُ) yang artinya terputus (Mu’jam Maqoyisul Lugoh Ibnu Faris (I/209)).

b. Secara Istilah

Al Imam Syatibi (wafat th 790 H) menjelaskan makna bid’ah secara umum

عِبَارَةٌ عَنْ طَرِيْقَةٍ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ تُضَاحِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا اَلْمُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُّدِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ

Ungkapan tentang tata cara di dalam agama yang dibuat-buat menyerupai syariat, dimaksudkan menempuh jalan tersebut adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Alloh subhanahu (Al I’tishom oleh Imam As Syatibi (1/37).

c. Dalil-dalil larangan perbuatan bid’ah

Alloh Ta’ala berfirman (yang artinya):

Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa (QS. Al An’am: 153). Berkata Mujahid ( wafat tahun 104 H) ketika menerangkan makna “subul” (jalan-jalan yang lain) yakni ‘Bid’ah dan syubhat’ (Hilyatul Aulia oleh Abu Nua’im (III/293).

Firman Alloh ‘Azza wa Jalla (yang artinya):

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih (QS. An Nur: 63). Arti ‘fitnah’ dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir:

أَيْ فِي قُلُوْبِهِمْ مِنْ كُفْرٍ أَوْ نِفَاقٍ أَوْ بِدْعَةٍ

Yaitu (fitnah) dalam hati mereka berupa kekafiran, kemunafikan dan bid’ah (Tafsir Ibnu Katsir (V/131).

Dari Jabir bin Abdillah, ia berkata: ‘Rasululloh -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, jika berkhutbah memerah matanya, tinggi suaranya dan bertambah kemarahannya seolah-olah ia sedang memperingatkan pasukannya :”Awas musuh datang pagi dan sore hari!” dan beliau berkata: “Aku diutus sedangkan kiamat seperti ini” beliau menggandengkan antara jari telunjuk dan jari tengah. Dan beliau bersabda:

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Amma ba’du: Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabulloh dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan dan semua bid’ah adalah kesesatan (HR. Muslim no. (2042)).

d. Semua bid’ah dalam agama adalah sesat

Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, bersabda dalam hadits ‘Irbad bin sariyah:

وَ إِيَّاكُمْ وَ مُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Hati-hatilah terhadap perkara-perkara baru (dalam agama) karena semua perkara (ajaran) baru adalah termasuk bid’ah dan semua bid’ah adalah kesesatan (Silsilah As Shahihah oleh Syaikh Albani (VI/526).

Imam Syafi’i -semoga Alloh merahmatinya- mengatakan:

إِنَّهَا جَاءَتْ مُطْلَقَةٌ عَامَةٌ عَلَى كَثْرَتِها لَمْ يَقَعْ فِيْهَا اِسْتِثْنَاءٌ اَلْبَتَّة

Bahwasanya (dalil celaan terhadap semua bid’ah) datang secara mutlak menyeluruh berdasarkan keumumannya tanpa ada pengecualian sedikitpun (Al I’tishom oleh As Syatibi (I/108).

Adapun dalam masalah dunia, Nabi bersabda:

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأُمُوْرِ دُنْيَاكُمْ

“Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian”( HR. Muslim (2366)

e. Pentingnya Mewaspadai Bahaya Bid’ah dalam Agama

Bid’ah merupakan pengantar kepada kekafiran dan kesyirikan karena menambah ajaran agama yang tidak disyariatkan Alloh. Diantara bahaya bid’ah adalah:

  1. Amalan pelaku bid’ah baik yang membuat maupun yang ikut-ikutan tertolak. Dari ‘Aisyah rodhiyallohu anha, Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, bersabda:

« مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ »

Barangsiapa yang membuat-buat ajaran baru dalam urusan (agama) kami yang bukan darinya maka ia tertolak (HR. Bukhori (2697) dan Muslim (1718).

Dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha ,Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, bersabda:

« مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا ، فَهْوَ رَدٌّ »

Barangsiapa yang melakukan amalan yang tidak ada padanya urusan (agama) kami maka ia tertolak (HR. Bukhori (20) dan Muslim (4590).

2. Pelaku bid’ah diancam masuk neraka. Alloh Ta’ala berfirman (yang artinya):

Dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali (QS. An Nisaa: 115).

3. Pelaku bid’ah dilaknat oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala, malaikat dan seluruh manusia berdasarkan sabda Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-,:

فَمَنْ أَحْدَثَ فِيهَا حَدَثًا ، أَوْ آوَى مُحْدِثًا ، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ ، لاَ يُقْبَلُ مِنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَرْفٌ وَلاَ عَدْلٌ

Barangsiapa yang mengada-adakan suatu bid’ah di dalamnya (kota Madinah) atau melindungi orang yang membuat bid’ah maka baginya laknat Alloh, malaikat dan manusia seluruhnya. Alloh tidak akan menerima darinya pada hari kiamat taubat maupun  tebusan (HR. Bukhori (1867, 7306) dan Muslim (13266).

4. Pelaku bid’ah tidak akan dapat mendatangi Al Haud (Telaga Nabi) pada hari kiamat dan tidak memperoleh syafa’at Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-,. Dari Abdulloh bin Mas’ud dari Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, bersabda:

« أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، وَلَيُرْفَعَنَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ ثُمَّ لَيُخْتَلَجُنَّ دُونِى فَأَقُولُ يَا رَبِّ أَصْحَابِى . فَيُقَالُ إِنَّكَ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ »

Saya mendahului kalian menuju telaga dan benar-benar akan ditampakkan sekelompok laki-laki dari kalian kemudian benar-benar akan dihalau dariku. Aku berkata: ‘Ya Alloh ummatku’. Maka dikatakan :’Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang mereka buat-buat setelahmu” (HR. Bukhori (6567, 6575) dan Muslim (1882).

5. Pelaku bid’ah dihalangi taubatnya jika terus menerus dalam bid’ahnya sehingga ia mati dengan su’ul khotimah. Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, bersabda:

إِنَّ اللهَ اِحْتَجَزَ التَّوْبَةَ عَنْ صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعَ بِدْعَتَهُ

Sesungguhnya Alloh menghalangi taubat pelaku semua bid’ah sampai ia meninggalkan bid’ahnya (HR. Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah (37), Thabroni dalam ‘Mu’jam Al Ausath’ (4360), Silsilah As Shahihah (IV/1620).

Sufyan Ats Tsauri berkata:

اَلْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلىَ إِبْلِيْسَ مِنَ اْلمَعْصِيَّةِ, اَلْمَعْصِيَّةُ يُتَابُ مِنْهَا وَاْلبِدْعَةُ لاَيُتَابُ مِنْهَا

Bid’ah lebih disukai Iblis dari perbuatan maksiat, maksiat di (harapkan)taubat dari maksiatnya sedangkan bid’ah tidak  di(harapkan) taubat dari bid’ahnya (Al Hilyah oleh Abu Nu’aim (VII/26), Syarh Usul I’tiqod Ahlu sunnah (1180).

Syaikhul Islam menjelaskan arti ‘tidak di(harapkan) bertaubat’: ‘Sesungguhnya mubtadi’ (orang yang membuat bid’ah)  menambah agama yang tidak disyariatkan oleh Alloh dan RasulNya dihiasi amalan jeleknya sehingga ia melihatnya suatu kebaikan. Ia tidak akan bertaubat selama ia melihatnya sebagai sesuatu yang baik karena taubat berawal dari ilmu bahwa apa yang dilakukannya itu adalah jelek sehingga iapun bertaubat darinya…’(Majmu’ fatawa oleh Syaikhul Islam (X/9).

6. Bid’ah akan memecah belah kaum muslimin sebagaimana firman Alloh Ta’ala (yang artinya):

Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa (QS. Al An’am: 153).

7. Wajah pelaku bid’ah akan dimuramkan nanti oleh Alloh Subhanahu wa ta’ala. Alloh Ta’ala berfirman (yang artinya):

 Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu”. Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, Maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya (QS. Ali Imran: 106-107). Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhu mengatakan: ‘Adapun orang-orang yang yang putih wajahnya adalah ahlu sunnah wal jama’ah dan para ulama dan adapun orang yang hitam muram adalah ahlu bid’ah dan kesesatan’(Diriwayatkan oleh Al Lalikai dengan sanadnya (I/72).

  1. Pelaku bid’ah akan semakin jauh dari Alloh setiap kali bid’ahnya bertambah. Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, mensifati mereka:

تَحْقِرُونَ صَلاَتَكُمْ مَعَ صَلاَتِهِمْ ، وَصِيَامَكُمْ مَعَ صِيَامِهِمْ ، وَعَمَلَكُمْ مَعَ عَمَلِهِمْ ، وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينَ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ

Kalian meremehklan (merasa sedikit) shalat kalian dibandingkan shalat mereka, puasa kalian dibandingkan puasa mereka, amal kalian dibandingkan amal mereka. Mereka membaca Al Qur’an namun tidak melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati kemudian diamalkan-red). Mereka keluar dari agama seperti meluncurnya anak panah dari busurnya (HR. Bukhori (5058), dan Muslim (1064).

8. Orang yang membuat bid’ah akan mendapat dosa orang-orang yang mengamalkan bid’ahnya sampai hari kiamat. Alloh Ta’ala berfirman (yang a rtinya):

Agar mereka memikul dosa-dosa mereka dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan tanpa ilmu. Ingatlah, Amat buruklah dosa yang mereka pikul itu (QS. An Nahl: 25).

9. Bid’ah akan mematikan sunnah.

Berkata Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma:

لاَ يَأْتِي عَلىَ النَّاسِ مِنْ عَامٍ إِلاَّ أَحْدَثُوا فِيْهِ بِدْعَةً وَأَمَاتُوا فِيْهِ السُّنَّةُ حَتَّى تُحْيِ اْلبِدَعُ وَتَمُوْتُ السُّنَنُ

Tidaklah datang kepada manusia suatu tahun kecuali mereka akan membuat di dalamnya suatu bid’ah dan mematikan sunnah sehingga membuat hidupnya bid’ah dan matinya sunnah (Dikeluarkan oleh Ibnu Wadhdhah dalam ‘Al Bid’ah’ (95-96), Al Lalikai dalam ‘As Sunnah (123). Berkata Al Haitsami: ‘perawinya terpercaya’ (Majma’uz Zawa’id (I/188).

Beberapa contoh bid’ah di bulan Ramadhon:

a. Melafadzkan niat puasa di malam hari baik dengan berjamaah maupun sendiri-sendiri dengan mengucapkan:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةَ ِللهِ تَعَالَى

Aku berniat puasa besok untuk melaksanakan fardhu puasa romadhan pada tahun ini karena Alloh Ta’ala.

Do’a ini sangat masyhur bahkan diucapkan secara berjama’ah di masjid setelah sholat tarawih padahal tidak ada asalnya sama sekali dalam kitab-kitab hadits. Hal ini terjadi karena kesalahpahaman memahami perkataan para Ulama Syafi’iyyah padahal yang mereka maksudkan tidaklah seperti yang banyak diamalkan sekarang ini.

Berkata An Nawawi dalam “Roudhatut Thalibin” sebagai berikut:

وَكَمَالُ النِّيَةِ فِي رَمَضَانَ أَنْ يَنْوِيَ صَوْمَ غَدٍّ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةَ ِللهِ تَعَالَى

Dan kesempurnaan niat dalam bulan romadhan yaitu dengan meniatkan puasa besok harinya untuk melaksanakan fardhu puasa dalam bulan romadhan tahun ini karena Alloh Ta’ala”. Namun bukanlah maksud Imam Nawawi di sini dengan berniat yaitu mengucapkannya karena semua Imam Madzhab dan kaum muslimin sepakat bahwa niat tempatnya di dalam hati. Buktinya dalam paragraf yang sama di awal petikan di atas beliau mengatakan:

لاَ يصِحُّ الصَّوْمُ إِلاَ بِالنِّيَةِ وَمَحَلُّهَا اَلْقَلْبُ وَلاَ يُشْتَرَطُ النُّطْقُ بِلاَ خِلاَفٍ وَتَجِبُ النِّيَةُ لِكُلِّ يَوْمٍ

Tidak sah puasa kecuali dengan niat dan tempatnya adalah di dalam hati. Tidak disyaratkan mengucapkan/melafadzkan niat tanpa ada perselisihan dan wajib berniat untuk setiap hari”( Roudhatut Thalibin (2/214) bersama “Al Minhaj An Nawawi” dan “Muntaqo Al Yanbu’ “ cet. Beirut). Berkata Syaikhul Islam :”Niat itu mengikuti ilmu (pengetahuan), barangsiapa yang mengetahui apa yang akan ia lakukan berarti ia sudah meniatkannya”( Al Ikhtiyarot Al ‘Ilmiyyah hal. (49).

b. Menetapkan waktu imsak bagi orang yang makan sahur 5 atau 7 menit sebelum adzan subuh dan mengumumkannnya melalui pengeras suara ataupun radio.

Rasululloh -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, memberikan batasan seseorang untuk makan sahur sampai adzan kedua atau adzan subuh. Dari Ibnu ‘Unaisah bintu Khubaib, Rosululloh -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, bersabda:

« إِذَا أَذَّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَإِذَا أَذَّنَ بِلاَلٌ فَلاَ تَأْكُلُوا وَلاَ تَشْرَبُوا»

 قَالَتْ وَإِنْ كَانَتِ الْمَرْأَةُ لَيَبْقَى عَلَيْهَا مِنْ سُحُورِهَا فَنَقُولُ لِبِلاَلٍ أَمْهِلْ حَتَّى أَفْرُغَ مِنْ سُحُورِى

Jika Ibnu Ummi Maktum adzan makan dan minumlah dan jika Bilal adzan jangan kalian makan dan minum. Berkata ‘Unaisah :’Jika ada seorang perempuan masih tersisa makan sahurnya kami mengatakan kepada Bilal :”Tangguhkan adzanmu sampai saya selesai makan sahur” (HR. An Nasai 2/10, Ahmad 6/433, sanadnya shohih atas syarat Bukhori dan Muslim, lihat Irwa’ul Ghalil 1/237). Di zaman Rosululloh -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, adzan dua kali menjelang subuh. Adzan pertama untuk membangunkan orang yang masih tidur untuk sholat malam dan adzan kedua tatkala waktu subuh sudah tiba. Bahkan walaupun sudah dikumandangkan adzan subuh sedangkan minuman masih tersisa di tangannya diperbolehkan untuk dihabiskan sebagaimana sabda Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, :

« إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلاَ يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِىَ حَاجَتَهُ مِنْهُ »

Jika salah seorang kalian mendengar adzan (subuh) sedangkan bejana masih ada di tangannya maka jangan meletakkannya sampai ia menyelesaikan hajatnya (HR. Abu Dawud 2333, Al Hakim 1/426, Silsilah As Shohihah 1394). Riwayat lain yang mendukungnya adalah riwayat Bilal dengan sanad yang shohih bahwa ia berkata: “Aku mendatangi Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, dimana aku telah adzan sholat subuh sedangkan beliau ingin puasa. Lalu Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, meminta bejana (kendi air) lalu beliau minum dan memberikan aku lalu akupun minum kemudian kami keluar untuk sholat subuh” (As Shohihah no. 1394).

Tidak mengapa seorang muslim hati-hati namun harus berdasarkan dalil yang shohih. Jika Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, pada saat ini masih hidup diantara kita beranikah kita membuat-buat waktu imsak ini sementara beliau tidak pernah membuatnya ??.

c. Berdzikir dan mendo’akan para khalifah ar rosyidun diantara dua salam sholat tarowih dengan cara berjama’ah di pimpin oleh satu orang dengan mengucapkan:

اَلصَّلاَةُ سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَحِمَكُمُ اللهُ…dst

Pernahkah hal ini diucapkan oleh Rosululloh -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, dan para sahabatnya ketika salam di tiap dua roka’at sholat tarowih ? Tidak pernah dinukil dalam Al Qur’an dan dalam sepotong hadits pun tentang dzikir ini .Kalau tidak pernah kenapa kita tidak mencukupkan diri dengan apa yang dibawa Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, dan para sahabatnya ? Padahal beliau -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, pernah bersabda:

Amma ba’du: Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabulloh dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan dan semua bid’ah adalah kesesatan (HR. Muslim 2042)

Sebuah Persepsi Yang Keliru

Sebagai pelengkap risalah romadhan ini, kami ingin mengupas kesalahan sebagian persepsi kaum muslimin tentang adanya perbuatan bid’ah yang baik (hasanah) menurut mereka. Diantara agumen mereka yang beranggapan adanya bid’ah hasanah diantaranya:

Perkataan ‘Umar bin Khottob t ketika mengumpulkan para sahabat untuk sholat tarawih berjama’ah:

نِعْمَ اْلبِدْعَةُ هَذِهِ

Ini adalah sebaik-baik bid’ah. Apakah ini bukan berarti di sana ada bid’ah yang baik? Jawabnya: Kita tanyakan, Apakah ‘Umar bin Khottob seorang khalifah Ar rosyidun yang jika ia melewati sebuah gang maka setan akan menghindar dari gang tersebut rela mengajak kita berbuat bid’ah yang dibenci Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-,? Apakah sholat tarawih berjama’ah termasuk bid’ah? Tentu jawabannya: ‘bukan bid’ah’ karena Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, pernah melakukannya selama tiga malam bersama para sahabat namun kemudian beliau meninggalkannya karena takut nantinya shalat tarawih ini diwajibkan karena pada waktu itu masih dalam masa turunnya wahyu (Sebagaimana hadits ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha yang dikeluarkan oleh Imam Bukhori (no.1129) dan Muslim (761). Hal ini juga ditinggalkan semasa Abu Bakar t. Maka perkataan ‘Umar ini mau tidak mau dibawa kepada bid’ah dalam istilah bahasa bukan istilah syar’i. Berkata Al Imam Ibnu Katsir : ‘Bid’ah ada dua macam:

  1. Kadangkala yang dimaksud adalah bid’ah secara syar’I seperti perkataan Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam: “Semua yang diada-adakan adalah bid’ah dan Semua bid’ah adalah kesesatan”.
  2. Kadang-kadang maksudnya adalah bid’ah secara bahasa seperti perkataan ‘Umar ketika mengumpulkan jama’ahnya untuk shalat tarawih dan berkelanjutannya mereka melakukannya: “Ini adalah sebaik-baik bid’ah” (Tafsir Al Qur’anul ‘Adzhim surat Al Baqarah: 117)

Lalu bagaimana dengan hadits Nabi r :

« مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ »

Barangsiapa yang mensunnahkan di dalam islam sunnah yang baik maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengerjakannya setelahnya tanpa mengurangi pahala orang-orang tersebut sedikitpun dan barangsiapa yang mensunnahkan sunnah yang jelek dalam islam maka baginya dosa dan dosa orang yang mengerjakan setelahnya tanpa mengurangi dosa orang-orang tersebut sedikitpun.

Jawab: Asbabul wurud (sebab datangnya) hadits ini adalah datangnya suatu kaum dari Mudhor yang sangat miskin sehingga ada seorang sahabat dari Anshor yang bersedekah seukuran yang besar sampai tidak mampu memikulnya dan hal itu diikuti oleh para sahabat yang lain sehingga Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, mengatakan: “Barangsiapa yang mensunnahkan di dalam Islam…”.  Kata ‘mensunnahkan’ di sini maknanya menghidupkan sunnah yang ada bukan membuat sunnah baru (bid’ah yang baik) dengan bukti : Yang pertama: Hadist ini berhubungan dengan memberi sedekah yang merupakan sunnah dalam Islam, Kedua: Kata setelahnya yaitu ‘di dalam Islam’ . Jika mensunnahkan diartikan membuat sunnah baru maka sunnah baru termasuk bid’ah sedangkan  bid’ah bukan dari ajaran Islam. Ketiga: Tidak mungkin jika Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, yang mengatakan :”Semua bid’ah adalah sesat” kemudian membolehkan kita membuat sunnah yang baru. Tentunya hal ini kontradiksi!? Jika boleh menambah ajaran Islam  maka boleh pula menguranginya sedangkan Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, bersabda:

إِذَا حَدَّثْتُكُمْ بِحَدِيْثٍ فَلاَ تَزِدَنَّ عَلَيَّ

Jika aku mengatakan kepada kalian dengan suatu hadits maka jangan sekali-kali menambahnya atas namaku (HR. Abu Dawud (4958), Ahmad (33/311 cet. Ar Risalah), Silsilah As Shahihah (I/346).

Bagaimana dengan perkataan Ibnu Mas’ud t:

مَا رآهُ المُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ

Apa saja yang dianggap baik oleh kaum muslimin  maka di sisi Alloh adalah baik (HR. Ahmad (3600 cet. Ar Risalah ).

Jawab: Tidak semua kaum muslimin masuk dalam perkataan Ibnu Mas’ud ini karena (ال) dalam kata (المُسْلِمُوْنَ) ada dua kemungkinan: 1) Jika ia menunjukkan suatu yang khusus maka maksudnya tidak lain adalah para sahabat sebagaimana redaksi lengkap atsar Ibnu Mas’ud ini:

إِنَّ اللَّهَ نَظَرَ فِى قُلُوبِ الْعِبَادِ فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ ثُمَّ نَظَرَ فِى قُلُوبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ فَوَجَدَ قُلُوبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ يُقَاتِلُونَ عَلَى دِينِهِ فَما رَأَى الْمُسْلِمُونَ حَسَناً فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ وَمَا رَأَوْا سَيِّئاً فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ سَيِّئٌ

Sesungguhnya Alloh melihat hati-hati hamba maka Ia mendapati hati Muhammad -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, sebaik-baik hati hamba maka Alloh memilihnya untuk diriNya lalu mengutusnya dengan risalahNya. Kemudian Alloh melihat melihat hati-hati hamba setelah hati Muhammad maka Alloh menjumpai hati-hati sahabat adalah sebaik-baik hati hamba maka Alloh menjadikan mereka pembantu nabiNya yang mereka berperang di atas agamanya. Maka apa saja yang dianggap baik oleh kaum muslim maka di sisi Alloh adalah baik. Tentunya para sahabat mustahil membuat bid’ah. 2) Jika menunjukkan suatu yang umum maka maksudnya tidak lain adalah Ahli Ijma (Ulama) sedangkan Ijma’ adalah hujjah (bisa dijadikan landasan). Berkata Al ‘Iz ibnu Abdissalam: “Jika hadits ini shahih maka yang dimaksud dengan kaum muslim di sini adalah Ahli Ijma” (Fatawa Al ‘Iz Ibnu Abdissalam hal. 42 no.9). 3) Bagaimana mungkin berargumen dengan perkataan Ibnu Mas’ud ini tentang adanya bid’ah yang baik padahal beliau termasuk sahabat yang paling keras terhadap semua bentuk bid’ah sebagaimana perkataannya:

اِتَّبِعُوا وَلاَ تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيْتُمْ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Berpeganglah (dengan sunnah) dan jangan kalian membuat bid’ah karena kalian sudah dicukupkan dan semua bid’ah adalah kesesatan.

Bagaimana dengan perbuatan para sahabat yang mengumpulkan Al Qur’an, menulisnya, dan membatasi hanya pada mushaf Utsmani?

Jawab: Apa yang dilakukan oleh para sahabat berdasarkan perintah dari Nabi r :

فعن عُثْمَانَ بن عَفَّانَ، قال: كَانَ النَّبِيُّ مِمَّا تَنَزَّلُ عَلَيْهِ الآيَاتُ فَيَدْعُو بَعْضَ مَنْ كَانَ يَكْتُبُ لَهُ، وَيَقُولُ لَهُ: ضَعْ هَذِهِ الآيَةَ فِي السُّورَةِ الَّتِي يُذْكَرُ فِيهَا كَذَا وَكَذَا

Dari Utsman bin Affan t, ia berkata: ‘Adalah Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, dari apa-apa yang turun kepadanya berupa ayat-ayat, beliau memanggil orang yang menuliskannya dan mengatakan: “Taruhlah ayat ini dalam surat yang disebutkan begini dan begitu” (HR. Abu Dawud (1/208-209, no. 786), Tirmidzi (5/272 no. 3086) dan Ahmad (1/92).

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ? قَالَ: لاَ تَكْتُبُوا عَنِّي شَيْئًا إِلاَّ الْقُرْآنَ فَمَنْ كَتَبَ عَنِّي شَيْئًا غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ

Dari Abi Sa’id Al Khudri t bahwa Rasululloh -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, bersabda: “Jangan menulis sesuatupun dariku (hadits) kecuali Al Qur’an. Barangsiapa yang menulis dariku sesuatu selain Al Qur’an maka hendaknya ia hapus (HR. Muslim (18/129, no.3004- Syarh Muslim).

Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar :”Sesungguhnya larangan Nabi menulis hadits khusus di waktu turunnya Al Qur’an saja karena khawatir terjadi kerancuan”( Fathul Bari (I/251).

Berkata Syaikhul Islam :’Penghalang dari mengumpulkan Al Qur’an di masa Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, adalah karena wahyu senantiasa masih turun. Alloh Azza wa Jalla  mengubah dan menghukumi sesuai kehendakNya.. Jika dikumpulkan pada satu mushaf maka akan memberatkan perubahannya setiap waktu. Tatkala Al Qur’an telah tetap (lengkap), syariat juga telah sempurna dengan kematian beliau dan manusia telah merasa aman dari penambahan dan pengurangan Al Qur’an, aman dari penambahan kewajiban dan pengharaman maka pendorong untuk mengumpulkan Al Qur’an ada berdasarkan sunnah Nabi r. Perbuatan para sahabat berdasarkan konsekwensi sunnah beliau maka amalan ini termasuk sunnahnya walaupun secara istilah bahasa adalah bid’ah”( Iqtido’ Shirothal Mustaqim, oleh Syaikhul Islam (II/591-592).

Bagaimana dengan adzan pertama pada hari Jum’at yang dibuat oleh Utsman bin Affan padahal itu tidak pernah ada di zaman Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-,. Bukankah itu termasuk bid’ah yang baik?

Jawab: Hal itu dilakukan Utsman karena ada maslahat yang jelas tatkala manusia semakin banyak dan pemukimannya jauh dari masjid maka beliau memandang perlunya adzan agar mereka bersiap-siap untuk shalat jum’at karena pada waktu itu belum ada jam, speaker pengeras suara seperti zaman kita. Dari segi apa yang dilakukan Utsman  t  sendiri termasuk sunnah karena Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, bersabda:

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّينَ

Maka wajib kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafa ar rosyidin yang diberikan petunjuk (Shahihul Jami’ (2549).

Bukankah ada pembagian bid’ah menjadi bid’ah wajib, haram, makruh, sunnah dan mubah?

Jawab: Tidak ada dalil secuilpun pembagian bid’ah menjadi 5 macam ini dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, mengatakan “Semua bid’ah adalah kesesatan” dan beliau tidak pernah membagi bid’ah menjadi 5 macam??!! Anggaplah ada yang mengatakannya lalu apakah perkataan Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, kita buang karena mengikuti pendapat orang setelah beliau? Berkata khalifah Umar bin Abdul Aziz:

لاَ رَأْيَ لأَحَدٍ مَعَ سُنَّةٍ سَنَّهَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ

Tidak ada pendapat bagi seseorang bersama  sunnah yang telah disunnahkan oleh Rasululloh -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, (I’lamul Muqi’in oleh Ibnul Qoyyim Al Jauziyah (II/282). Imam Ahmad mengatakan:

مَنْ رَدَّ حَدِيْثَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ عَلىَ شَفَا هَلَكَةٍ

Barangsiapa yang menolak hadits Nabi r maka ia berada di tepi kehancuran (Thobaqot al Hanabilah  oleh Al Qodi Abu Ya’la (II/15).

Berkata Imam Syatibi –semoga Alloh merahmatinya- berkata: ‘Pembagian ini adalah perkara yang dibuat-buat tanpa ada dalil syar’inya’(Al I’thisom oleh Ay Syatibi (I/246).

Bid’ah sudah menyebar di masyarakat bahkan dipelosok negeri, bukankah itu pertanda kalau amalan itu dianggap baik oleh masyarakat muslim?

Jawab: Banyaknya orang bukanlah ukuran kebenaran. Namun kebenaran diukur dengan dalil.  Alloh Ta’ala berfirman (yang artinya):

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah) (QS. Al An’am: 116)

Berkata Abdulloh ibnu ‘Umar –semoga Alloh meridhoinya-:

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَإِنْ رَآهُ النَّاسُ حَسَنَةً

Semua bid’ah adalah sesat sekalipun manusia melihatnya suatu kebaikan (Syarah Ushul I’tiqod Ahlu Sunnah oleh Al Lalikai (I/92).

Berkata Ibnu Mas’ud t menerangkan makna Al Jama’ah dalam kata Ahlu sunnah waljama’ah:

اَلجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ اْلحَقَّ وَإِنْ كُنْتَ وَحْدَكَ

Al Jama’ah adalah semua yang sesuai dengan kebenaran sekalipun engkau seorang diri (al Hawadits wal Bida’ oleh Abi Syamah hal. 22).

Namun Haruslah Bijak…

Dalam tataran masyarakat penerapan suatu hukum apakah seseorang itu pelaku bid’ah atau tidak membutuhkan suatu barometer yaitu terpenuhi syarat bahwa ia adalah seorang pelaku bid’ah dan tidak ada penghalang untuk menghukumi seseorang itu ahlu bid’ah atau tidak karena yang kita bahas adalah hukum secara Umum. Adapun menvonis individu secara khusus bahwa ia adalah Mubtadi’ (pelaku bid’ah) maka butuh penyampaian hujjah sampai ia paham hujjah tersebut. Apabila belum ada yang menjelaskan kebenaran kepada mereka, atau mereka menganggap amalan mereka juga ada dalilnya atau sekedar ikut-ikutan pak Kyiai, Tuan Guru atau Ustadz maka tidak boleh kita menunjuk hidung bahwa ia adalah ahlu bid’ah kemudian menjauhi mereka…(!?) Kebenaran itu bukanlah dibangun di atas kekerasan tetapi dengan kelembutan dan kebijakan…

Demikianlah uraian singkat seputar masalah bid’ah mudah-mudahan dapat menjadi bekal bagi yang membaca, mengamalkan dan mendakwahkannya khususnya di zaman keterasingan Islam dari pemeluknya ini. Semoga Alloh menghidupkan kita di atas sunnah dan mewafatkan kita tetap di atas sunnah. Amiin.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Menyoroti Pola Hidup Boros

Menyoroti Pola Hidup Boros                 Perkembangan kehidupan manusia yang semakin komplek dan maju cenderung untuk …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *