Rabu , Oktober 21 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Aqidah / Apakah Para Sahabat Nabi –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, Telah Murtad ?
KLIK UNTUK BERINFAK

Apakah Para Sahabat Nabi –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, Telah Murtad ?

Apakah Para Sahabat Nabi –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, Telah Murtad ?

Syubhat Dan Bantahannya :

Syi’ah rofidhoh didalam mencela dan mengkafirkan para sahabat Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, bersandar dengan hadits-hadits yang menceritakan tentang Al-Haudh (Telaga Rasulullah) diantaranya :

Ketika manusia terhalang dari Al-Haudh, maka Nabi –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, bersabda :

(( هَؤُلَاءِ أَصْحَابِيْ )) وَفِي رِوَايَةٍ (( أُمَّتِيْ )) فَيُقَالُ : ((إِنَّكَ لَا تَدْرِيْ مَا أَحْدَثُوْا بَعْدَكَ)) وَفِيْ رِوَايَةٍ (( إِنَّهُمْ لَمْ يَزَالُوْا مُرْتَدِّيْنَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ مُنْذُ فَارَقْتَهُمْ))

“Mereka itu sahabat-sahabat Ku” dalam riwayat yang lain “Ummat Ku” maka dikatakan kepada beliau : “Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang telah mereka lakukan setelah sepeninggalmu” dalam riwayat lain, “Sesungguhnya mereka telah murtad (keluar dari islam) semenjak engkau meninggalkan mereka”.

Jawaban Atas Syubhat Ini :

Imam Nawawi Asy-Syafi’I –Rahimahullah-, berkata dalam (syarah muslim 3/136-137) : “Ini diantara hal-hal yang diperselisihkan oleh para ‘Ulama, tentang maksud dari hadits tersebut, menjadi beberapa pendapat.

Pendapat pertama : Maksud dari hadits diatas adalah orang-orang munafiq dan orang-orang yang telah murtad (sepeninggal Rasulullah), maka tidak ada salahnya mereka kelak dibangkitkan pada hari kiamat dengan kondisi wajah dan anggota wudhu’ mereka bercahaya. Maka Nabi –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, memanggil mereka karena tanda yang ada pada mereka. Maka dikatakan kepada beliau : “Mereka bukanlah orang-orang yang telah engkau janjikan (untuk masuk kedalam Al-Haudh), karena mereka telah mengganti agama mereka sepeninggalmu.” Maksudnya : Mereka tidak dimatikan dalam keadaan memeluk islam.

Pendapat kedua : Maksud dari hadits diatas adalah orang-orang yang hidup pada zaman Nabi –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, kemudian murtad setelah itu, Maka Nabi – Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, memanggil mereka karena beliau mengenal mereka diantara orang-orang yang memeluk islam pada masa hidup Nabi, walaupun tidak ada tanda pada diri mereka. Maka dikatakan kepada Nabi : “Mereka telah murtad sepeninggalmu.”

Pendapat ketiga : Maksud dari hadits diatas adalah para pelaku maksiat dan pelaku dosa besar yang mati dalam kondisi bertauhid, atau (yang dimaksud dalam hadits tersebut) para pelaku bid’ah yang bid’ah tersebut tidak mengeluarkan mereka dari islam.

Menurut pendapat ini, maka orang-orang yang tertolak dan terhalang dari Al-Haudh tidak pasti masuk neraka, bisa jadi mereka terhalang dari Al-Haudh sebagai akibat dan balasan atas maksiat dan bid’ah yang mereka lakukan. Kemudian Allah membuka pintu rahmatNya untuk mereka dan memasukkan mereka kedalam surgaNya.

Imam Al-Hafidz Abu ‘Umar bin ‘Abdul Bar berkata :

كُلُّ مَنْ أَحْدَثَ فِي الدِّيْنِ، فَهُوَ مِنَ الْمَطْرُوْدِيْنَ فِي الْحَوْضِ، كَالْخَوَارِجِ ، وَالرَّوَافِضِ ، وَسَائِرِ أَصْحَابِ الْأَهْوَاءِ.

“Setiap orang yang membuat perkara baru dalam perkara agama, mereka termasuk orang-orang yang terhalang masuk Al-Haudh, seperti Khawarij, Syi’ah rofidhoh, dan semua yang mengikuti hawa nafsunya.”

Beliau berkata juga : “Begitu juga orang-orang yang dzolim, melampui batas dalam melakukan kemaksiatan, menghapus kebenaran, dan terang-terangan melakukan dosa besar.” Beliau berkata : “Dan semua orang-orang tersebut diatas dikhawatirkan termasuk yang dimaksudkan dalam hadits ini(hadits Al-Haudh) wallahu a’lam.”

Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqolany berkata dalam Fathul Bari : Berkata Al-Farbary, disebutkan dari Abu ‘Abdillah Al-Bukhary Dari Qubaishoh, ia berkata : “Mereka (yang terhalang dari Al-Haudh) adalah orang-orang yang murtad pada masa Abu Bakar, maka Abu Bakar memerangi mereka, sampai mereka mati dan terbunuh dalam kekufuran (murtad).”

Dari Qobishoh –Rahimahullah-, berkata Al-Khatthoby –Rahimahullah- : “Tidak ada seorangpun yang murtad dari para sahabat Nabi, namun yang murtad adalah orang-orang badui (penduduk pedesaan) yang keras yang tidak memiliki andil dalam memperjuangkan agama, oleh karena itu maka tidak ada celah bagi mereka untuk mencela para sahabat yang masyhur.”

 

Refrensi : 

Al-Fawaid Al-Bahiyah Fi Syarh Lamiyah Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah – Syaikh Muhammad bin Hizam Al-Ba’dany

Pesantren Tahfidz Putri Al-Mahmud Al-Islamy Lombok, Kamis 11 Jumadal Ula 1440/17 Januari 2019

Bahrul Ulum Ahmad Makki

Tentang Penulis Bahrul Ulum Ahmad Makki

Bahrul Ulum Ahmad Makki -hafidzahullah-. Riwayat pendidikan : SDN 7 Kediri Lobar, MTs-MA Pesantren Selaparang NW kediri Lombok Barat,Ma'had Imam Syafi'i Cilacap, Ma'had Aly Al-Irsyad Surabaya, Takmily LIPIA Jakarta, Darul Hadits Republik Yaman ( Syaikh Abul Hasan Al-Ma'riby dan Syaikh Muhammad Al-Imam Ma'bar), Universitas Yemenia - Yaman, Universitas Muhammadiyah Surabaya ( Pascasarjana ) Aktifitas : Pengasuh dan pengajar di pondok Tahfidz Al-Mahmud Al-Islamy, Pembina Yayasan Al-Hakam NTB, Pengasuh Web alhakam.com

Silahkan Pilih Yang Lain

Nasehat akhir tahun

Nasehat akhir tahun إِنَّ اْلحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *