Senin , Oktober 26 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Adab / Antara istri dan orang tua
KLIK UNTUK BERINFAK

Antara istri dan orang tua

Antara istri dan orang tua

Sesungguhnya Alloh telah memuliakan kedua orang tua di atas derajat yang agung. Bahkan lebih agung daripada berjihad di jalan Alloh. Semua itu tidak lain dan tidak bukan karena terlahirnya seorang manusia di muka bumi ini adalah dengan sebab kedua orang tua.

Oleh karena itu tatkala seseorang telah berkeluarga bukan berarti ia telah terlepas dari kedua orang tuanya. Terlebih seorang suami, tidak boleh ia melupakan orang tuanya hanya karena alasan ia telah memiliki tanggungan yang lebih besar.

Hendaknya seorang anak tetap memelihara adab- adab kepada orang tuanya seperti:

  1. Berbakti dan mentaati keduanya selama keduanya tidak menyuruh berbuat dosa dan memutuskan silaturrahmi.

 Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya (QS. al Ankabut: 8).

  1. Merendahkan diri di hadapan keduanya dengan tawadhu’ dan penuh kasih sayang serta selalu mendoakannya. Alloh Ta’ala berfirman yang artinya:

dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” (QS. al Israa’: 24).

Dari Abu Hurairoh Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya Alloh ‘azza wa jalla benar-benar akan mengangkat derajat seorang hamba yang sholih di surga. Ia berkata: Ya robbku dari mana semua ini? Alloh menjawab: “Dengan sebab anakmu selalu memintakan ampun buatmu” (HR. Ahmad 2/509, dan Ibnu Majah 3660, as Shohihah 1598).

  1. Berusaha memenuhi segala kebutuhan mereka dengan cara membantu atau memberikan nafkah kepada keduanya sekalipun itu belum akan bisa membalas kebaikan keduanya. Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Seorang anak tidak akan bisa membalas jasa orang tuanya kecuali jika ia mendapati orang tuanya sebagai hamba sahaya (budak) kemudia ia membelinya dan memerdekakannya” (HR. Muslim).
  2. Bergaul dengan keduanya dengan cara yang baik.

Janganlah seorang anak membuat kedua orang tuanya murka, sedih dan berlinang air mata. Sungguh air matanya adalah kesusahan hidupmu dan kesengsaraan akhiratmu… Akankah engkau durhaka kepadanya tatkala anda sudah menginjak dewasa dan melupakan keduanya di kala anda sudah berkeluarga…??! Padahal Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

 “Keridhoan Alloh ada pada keridhoan kedua orang tua dan kemurkaan Alloh ada pada kemurkaan orang tua”(HR. at Tirmidzi, Ibnu Hibban, al Hakim, Shohih at targhib 2501).

Ada seseorang datang kepada Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam seraya berkata: “  Saya datang membaitmu untuk hijrah dan saya meninggalkan kedua orang tua saya dalam keadaan menangis”. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata kepadanya:

 “Kembalilah kepada keduanya dan buatlah mereka tertawa sebagaimana engkau telah membuatnya menangis” (HR. Abu Dawud 2530).

  1. Berkata dengan lembut kepada keduanya dan memeliharanya tatkala lanjut usia . Alloh Ta’ala berfirman yang artinya:

Jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia (QS. al Israa’: 23).

  1. Membayar hutang- hutangnya dan melaksanakan wasiatnya yang sesuai dengan syari’at.

Dari ‘Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya bahwsanya ada seseorang mendatangi Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam seraya berkata: “Sesungguhnya aku memiliki harta dan juga anak dan orang tuaku sangat membutuhkan hartaku”. Maka Rasululloh r berkata:

 “Kamu dan hartamu adalah milik kedua orang tuamu dan anak-anakmu adalah hasil usahamu maka makanlah dari hasil anak-anakmu”(HR. Abu Dawud).

  1. Menyambung silaturrahmi dan hubungan baik dengan sahabat bapaknya setelah ia meninggal dunia.

Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Sesungguhnya termasuk kebaikan yang paling baik adalah seorang anak menyambung hubungan dengan teman ayahnya”(HR. Muslim).

  1. Berusaha untuk menutupi kesusahan dan problematika keluarganya di hadapan orang tua karena selalu menceritakan hal itu akan membuat mereka ikut susah dan bahkan lebih sedih daripada anaknya sendiri.

Antara istri atau orang tua…

Terkadang dalam biduk rumah tangga suami dihadapkan pada dua pilihan antara memihak istri atau orang tuanya terlebih lagi jika kedua pihak ini tidak menjalin hubungan yang harmonis. Bisa jadi karena istrinya yang tidak  bisa bermuamalah yang baik dengan mertuanya, kaku dalam bersikap, mudah tersinggung, tidak mau mengalah, merasa bahwa mertuanya adalah saingannya,  sedikit-sedikit melapor kepada orang tuanya atau memang watak dan sifat istri tersebut memang buruk dan tidak takut kepada Alloh. Dari orang tua terkadang bisa memicu permasalahan yang sama seperti terlalu mencampuri urusan keluarga anaknya, merendahkan menantunya, tidak setuju jika anaknya menikah dengan perempuan tersebut, tidak berlapang dada terhadap setiap permasalahan keluarga anaknya atau memang sifat orang tua yang tidak baik.

Apakah dalam kondisi ini jika sang suami memihak istrinya apakah ia termasuk anak yang durhaka ataukah sebaliknya jika ia memihak orang tua maka akan dikatakan ia tidak menghargai dan tidak bisa mengayomi istrinya…??!

Sekali kali tidak…! Sebagai seorang suami hendaknya dapat berlaku adil dan menimbang mana yang lebih maslahat dari dua maslahat dan berusaha mengambil mudharat yang lebih ringan dari dua mudharat. Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Berikanlah setiap pemilik hak haknya” (HR. al Bukhori 1867).

Ada beberapa cara bagi seorang anak untuk bisa mengharmoniskan hubungan orang tuanya dengan istrinya :

  1. Memahami watak orang tua dan istrinya.

Janganlah seorang anak terlalu menampakkan kecintaannya kepada orang tuanya terlebih jika orang tuanya adalah tipe pencemburu demikian pula sebaliknya. Dengan saling memahami manusia akan bisa berinteraksi dengan siapapun juga di muka bumi ini terlebih dengan orang-orang di dekat kita.

2. Bersikap adil terhadap keduanya.

Janganlah seorang suami terlalu cepat menerima kabar yang tidak baik berkenaan dengan perilaku orang tuanya demikian pula sebaliknya. Hendaknya informasi yang miring tersebut ditanggapi dengan arif dan bijaksana dengan mencari kejelasannya serta mengedepankan husnud dzhon.

3. Menumbuhkan rasa cinta antara keduanya dengan menyuruh istrinya untuk gemar memberikan hadiah kepada orang tuanya atau sebaliknya.

4. Berusaha memahamkan sang istri dengan kedudukan suami yang masih berstatus anak dari orang tuanya, seperti suami mengatakan: “Sesungguhnya orang tuaku adalah bagian dari hidupku dan aku tidak akan mau untuk mendurhakai mereka sebagaimana kamu tidak mau mendurhakai kedua orangtuamu. Aku tidak akan rela jika kedua orang tuaku dihina atau dicaci maki sebagaimana engkaupun tidak akan senang orang tuamu dihina. Sesungguhnya cintaku terus akan bertambah dan tidak akan layu jika engkau menyayangi kedua orang tuaku sebagaimana engkau senang orang tuamu dan dirimu disayangi” (‘Uququl Waalidain, Syaikh Muhammad ibnu Ibrohim al hamd hal. 27 dengan sedikit perubahan).

 

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah Bulan romadhon…bulan yang membawa suka cita bagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *