Senin , Oktober 26 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Akhlaq / Akhlaq seorang mu’minah dengan  laki-laki ‘ajnabi (Laki-laki bukan mahrom)
KLIK UNTUK BERINFAK

Akhlaq seorang mu’minah dengan  laki-laki ‘ajnabi (Laki-laki bukan mahrom)

Akhlaq seorang mu’minah dengan  laki-laki ‘ajnabi

Jika seorang  muslimah dituntut untuk berakhlaq yang baik kepada sanak kerabat dekatnya atau mahromnya maka ia juga diharuskan untuk berhias dengan akhlaq-akhlaq islami dengan lelaki ajnabi yang bukan mahromnya. Hal itu karena fitnah dan kerusakan yang terjadi di dalam masyarakat dewasa ini kebanyakan terjadi karena dikesampingkannnya adab-adab pergaulan islami antara laki dan perempuan.

Diantara akhlaq mulia yang harus dimiliki seorang muslimah itu antara lain:

a. Lebih memilih untuk tinggal di rumah jika tidak ada keperluan yang mendesak untuk keluar rumah.

Alloh Ta’ala berfirman:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأولَى وَأَقِمْنَ الصَّلاةَ وآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ 

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya (QS. Al Ahzaab: 33).

Diriwayatkan dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma, ia berkata: ‘Jahiliyyah terdahulu adalah antara Nuh dan Idris. Jaraknya adalah seribu tahun. Mereka adalah keturunan Adam. Salah satunya tinggal di dataran dan yang lainnya tinggal di pegunungan. Laki-laki yang tinggal di pegunungan umumnya tampan dan wanitanya buruk rupa sedangkan wanita yang tinggal di dataran cantik dan lakinya buruk rupa. Iblis mendatangi dua orang laki-laki di dataran dan bekerja padanya. Ia menjadi pembantu laki-laki tersebut dan membuat suatu alat seperti serulingnya para penggembala kemudian meniupnya dengan suara yang tidak pernah didengar orang seindah suara tersebut. Kemudian hal itu sampai kepada orang-orang sekitarnya dan beramai-ramai menyimaknya. Lalu mereka menjadikannya perayaan sekali dalam setahun. Maka para wanita menampakkan perhiasannya[1] buat para lelaki dan para lelakipun berhias untuk para wanita. Beberapa lelaki dari gunung menyerbu ketika perayaan mereka. Tatkala  mereka melihat para wanita yang mempesona, mereka kembali memberitahukan teman-temanya. Maka para lelaki turun gunung dan merebaklah perzinaan diantara mereka” (Tafsir At Thobary 22/4). Ada pelajaran berharga dari kisah di atas bagaimana iblis mengerahkan segala cara untuk menghancurkan umat islam. Cukuplah bagi kita bagaimana peranan alat komunikasi yang tidak ditopang akhlaq islami yang baik telah menghancurkan generasi muda kita seperti internet dan HP.

Berkata Syaikh Bakr Abu Zaid : ‘Barangsiapa yang memperhatikan ayat-ayat Al Qur’an ia akan menemukan bahwa rumah disandarkan kepada perempuan pada tiga ayat dalam Kitabulloh sekalipun rumah tersebut adalah milik suami atau walinya. Penyandaran ini –wallohu a’lam- merupakan penekanan agar mereka menetapi rumahnya’ (Hirosatul Fadhiilah hal.89-90).

b. Tidak menundukkan atau melembutkan suara kepada laki-laki ajnabi.

Alloh Ta’ala berfirman:

إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ 

Jika kamu bertakwa, Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya (QS. Al Ahzaab: 32). Berkata Al Baghawi dalam tafsirnya (VI/348) : ‘Wanita dianjurkan untuk keras dalam berkata tatkala ia berbicara dengan ajnabi untuk memotong adanya keinginan (syahwat)’. 

c. Menghindari ikhtilath (campur baur) dengan ajnabi baik di tempat belajar, medan kerja maupun di tempat yang lainnya. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir rodhiyallohu ‘anhu bahwasanya Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

« إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ »

Hati-hati kalian dari mengunjungi wanita  (HR. Al Bukhori 523).

Berkata Syaikh Abdulloh ibnu Jarulloh :‘Ikhtilath adalah bercampurnya atau bertemunya antara laki dan perempuan yang bukan mahrom di suatu tempat yang memungkinkan mereka untuk berhubungan baik dengan memandang, isyarat atau berbicara. Berduaannya laki-laki dengan  perempuan ajnabi dalam keadaan bagaimanapun termasuk ikhtilat’ (Dari Majalah Al ‘Usroh, Afatut Ta’limil Ikhtilath edisi no.70 Muharram 1420 H hal. 69).

d. Menundukkan pandangan

Alloh Ta’ala berfirman:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya (QS. An Nur: 31).

Banyak dari para ulama berpendapat bahwa pada asalnya tidak boleh bagi wanita untuk melihat ajnabi baik dengan syahwat maupun tidak berdasarkan hadits Ummu salamah bahwa ia dan Maimunah pernah bersama Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ummu Salamah berkata:

فَبَيْنَا نَحْنُ عِنْدَهُ أَقْبَلَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ فَدَخَلَ عَلَيْهِ وَذَلِكَ بَعْدَ مَا أُمِرْنَا بِالْحِجَابِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « احْتَجِبَا مِنْهُ ». فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَيْسَ هُوَ أَعْمَى لاَ يُبْصِرُنَا وَلاَ يَعْرِفُنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَفَعَمْيَاوَانِ أَنْتُمَا أَلَسْتُمَا تُبْصِرَانِهِ ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.

Tatkala kami bersama Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam masuklah Ibnu Ummi Maktum. Itu terjadi setelah kami diperintahkan berhijab. Maka Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata: “Berhijablah darinya”! Maka aku berkata: ‘Wahai Rasululloh, bukankah ia buta, tidak melihat dan mengenal kami’. Maka Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata:”Apakah kalian berdua buta ?Bukankah kalian berdua bisa melihatnya?!” (HR. Abu Dawud 4112, At Tirmidzi 2778 dan ia berkata: hadits hasan shohih ).

Berkata Ibnul Jauzi : ‘Sesungguhnya penglihatanmu wahai saudaraku adalah nikmat maka janganlah mendurhakai Alloh dengan nikmat tersebut’. Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah menjelaskan sepuluh manfaat menundukkan pandangan diantaranya: Membebaskan hati dari kesengsaraan, Mewariskan cahaya dan kemuliaan bagi hati, Menguatkan firasat yang benar, Membuka jalan-jalan ilmu dan pintunya, Membuat hati menjadi kuat, teguh dan jantan, Mewariskan kegembiraan pada hati yang lebih besar daripada nikmatnya memandang, Membebaskan hati dari penjara syahwat, Membendung pintu menuju jahannam, Menguatkan, meneguhkan dan menambah akal dan Melepaskan hati dari dimabuk syahwat dan kelalaian (Bisyaratus Syabab, Abul Hasanat Ad Dimasyqi hal 21-26).

e. Malu kepada Alloh Ta’ala dengan sebenar-benarnya

Yang demikian itu dengan selalu  muroqobah (merasa selalu diawasi) dan takut kepada Alloh Azza wa jalla di setiapa keadaan dan tempat. Dari Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

« اسْتَحْيُوا مِنَ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ ». قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا لَنَسْتَحْيِى وَالْحَمْدُ لِلَّهِ. قَالَ « لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ الاِسْتِحْيَاءَ مِنَ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَتَحْفَظَ الْبَطْنَ وَمَا حَوَى وَتَتَذَكَّرَ الْمَوْتَ وَالْبِلَى وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدِ اسْتَحْيَا مِنَ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ »

“Malulah kalian kepada Alloh dengan sebenarnya”. Kami berkata, ‘Wahai Rasululloh kami benar-benar malu walhamdulillah. Beliau berkata: “Bukan begitu, tetapi malu kepada Alloh yang sebenarnya adalah engkau menjaga kepala dan apa yang ada di sana (mata,lidah, telinga), engkau menjaga perut serta anggota badan  yang ada di sekitarnya dan ingatlah kematian dan kehancuran. Barangsiapa menginginkan akhirat maka ia meninggalkan perhiasan dunia. Siapa saja yang melakukan hal itu maka ia telah malu kepada Alloh dengan sebenar-benarnya (HR. At Tirmidzi 2646, Shohih At Targhib wa At Tarhib 1724). Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga berwasiat :

أُوْصِيْكَ أَنْ تَسْتَحْيَ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ كَمَا تَسْتَحْيِ رَجُلاً مِنْ صَالِحِي قَوْمِكَ “

Aku berwasiat kepadamu agar malu kepada Alloh Azza wa jalla sebagaimana kamu malu kepada laki-laki sholih di kaummu (HR. Ahmad dalam Az Zuhdu hal.46 dan dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Silsilah As Shohihah no. 741).

Malu bagi wanita adalah suatu kodrat yang tidak akan lepas dari wanita yang beriman khususnya dalam bergaul dengan laki-laki ajnabi. Hilangnya rasa malu adalah pertanda telah terkikisnya iman dan awal hancurnya peradaban manusia. Perhatikanlah bagaimana keadaan wanita-wanita beriman terdahulu:

فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ 

Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan (QS. Al Qhashas: 25).

f. Tidak berjabat tangan dengan laki-laki ajnabi

Dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha, ia berkata:

وَاللَّهِ مَا مَسَّتْ يَدُ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَدَ امْرَأَةٍ قَطُّ ، غَيْرَ أَنَّهُ بَايَعَهُنَّ بِالْكَلاَمِ

Demi Alloh, tidaklah pernah Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyentuh tangan seorang wanitapun (yang bukan mahromnya), beliau membaiat para wanita dengan perkataan (HR. Al Bukhori 5288 dan Muslim 1866).

Berkata An Nawawi: ‘Berkata para sahabat kami (Ulama Syafi’iyyah): “Semua yang diharamkan untuk melihatnya maka lebih diharamkan lagi untuk menyentuhnya”. (Al Adzkar hal.227).

Ibnu Muflih menukil dari Muhammad bin Mihran bahwa Imam Ahmad ditanya tentang seorang laki-laki yang menyalami wanita dengan bajunya (sebagai lapis), beliau berkata: “Tetap tidak boleh!” (Al Adab As Syar’iyyah 2/257). Maka cukuplah ancaman keras dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

ِلأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَمُسَّ امْرَأَةً لاَ تَحِلُّ لَهَ

Ditusuknya dikepala seorang lelaki dengan jarum dari besi lebih baik baginya daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya (HR. At Thobroni dan Al Baihaqi. Berkata Al Mundziri: Rijal Thobroni tsiqoh rijal yang shohih (3/66)).

g. Menjaga muru’ah (kesopanan) dan kesucian diri.

Akhlaq yang satu ini sangat diperlukan bagi  muslimah dewasa ini agar tidak terseret pada lingkaran syetan dan rayuan iblis baik dari kalangan jin maupun manusia. Diantara bentuk penjagaan terhadap kesucian diri antara lain seperti menghindari untuk berkomunikasi langsung dengan lelaki ajnabi baik lewat SMS, Telepon, internet maupun lewat surat. Jika ada keperluan yang sifatnya sangat mendesak maka hendaknya melalui mahromnya atau orang lain yang dianggap tsiqoh. Alloh Ta’ala berfirman:

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِن وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ 

Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), Maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka (QS. Al Ahzaab: 53).

Demikian pula menjaga kesopanan dalam hal berpakaian terutama di luar rumah serta tidak lupa mencari sahabat yang sholihah. Dari Abu Musa Al Asy’ari rodhiyallohu ‘anhu   dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

« مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً »

Permisalan teman yang baik dan jelek adalah seperti pembawa minyak wangi dan peniup bara api. Pembawa minyak wangi akan memberimu atau engkau membeli darinya dan bisa juga  engkau akan mendapatkan bau yang wangi. Sedangkan peniup bara api akan membakar bajumu atau engkau akan mendapatkan bau yang tidak enak (HR. Al Bukhori 2101).

Walhamdulillahi robbil ‘alamin.


[1]  Yang dimaksud perhiasan di sini adalah segala sesuatu yang tidak boleh dinampakkan selain kepada mahromnya seperti: dada, wajah, leher, body (bentuk tubuh), kaki, betis, paha, rambut, pergelangan tangan dan yang lainnya.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Tampil Beda dengan Syaiton

Tampil Beda dengan Syaiton Sesungguhnya Alloh menguji para hambaNya di dunia dengan musuh yang selalu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *