Senin , Oktober 26 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Akhlaq / Akhlaq dokter dan perawat muslim
KLIK UNTUK BERINFAK

Akhlaq dokter dan perawat muslim

Akhlaq dokter dan perawat muslim

Ilmu kedokteran adalah diantara sekian ilmu yang sangat dibutuhkan manusia dalam kehidupannya. Tidak heran jika mempelajarinya termasuk fardhu kifayah bagi kaum muslimin. Oleh karena mulianya profesi ini, Islam pun menganjurkan bagi para ‘pelayan’ kesehatan ini untuk menghiasi bidangnya dengan akhlak dan adab-adab Islami.

Diantara adab-adab tersebut ada yang sifatnya khusus dan umum. Adab-adab yang bersifat khusus dalah:

a. Berusaha untuk menjaga kesehatan pasien sebagi konsekwensi amanah dan tanggung jawabnya dan berusaha untuk menjaga rahasia pasien kecuali jika dalam kondisi darurat dan untuk tindakan preventif bagi yang lainnya. Rasululloh r bersabda:

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Barangsiapa yang menutup (aib) seorang muslim maka Alloh akan menutup (aibnya) pada hari kiamat (HR. al Bukhori 2442, Muslim 7028).

b. Senantiasa menyejukkan hati pasien, menghiburnya dan mendoakannya dengan mengucapkan “Tidak mengapa insya Alloh, ini adalah penghapus dosa”, atau meletakkan tangan kanan di tempat yang sakit seraya berdo’a:

اَللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَاسَ وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِى لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

Wahai Robb manusia, hilangkanlah penyakit tersebut, sembuhkanlah, Engkau adalah Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dariMu, kesembuhan yang tidak ditimpa penyakit lagi (HR. Muslim 2191 dan yang lainnya).

c. Hendaknya memberitahukan kepada pasien bahwa yang menyembuhkan hanya Alloh Ta’ala sehingga hatinya bergantung kepada Alloh bukan kepada dokter. Nabi r berkata kepada Abu Rimtsah (seorang dokter ahli):

اللَّهُ الطَّبِيبُ بَلْ أَنْتَ رَجُلٌ رَفِيقٌ طَبِيبُهَا الَّذِى خَلَقَهَا

Alloh adalah dokter sedangkan kamu adalah orang yang menemani yang sakit, dokternya adalah Alloh yang menciptakannya (HR. Abu dawud 4209, As Shohihah 1537).

d. Tidak boleh bagi seorang dokter untuk membohongi pasiennya. Misalnya tatkala stok obat habis ia memberikan obat yang tidak sesuai dengan penyakitnya atau memberikan obat yang terkandung di dalamnya bahan-bahan yang diharamkan. Rasululloh r bersabda:

وَمَنْ أَشَارَ عَلَى أَخِيهِ بِأَمْرٍ يَعْلَمُ أَنَّ الرُّشْدَ فِى غَيْرِهِ فَقَدْ خَانَه

Barangsiapa yang memerintahkan saudaranya dengan suatu urusan sedangkan ia mengetahui bahwa yang benar ada pada selain yang diperintahkan tersebut maka ia telah menghianati saudaranya (HR. Abu Dawud 3657, Shohih al Jami’ 6067).

e. Hendaknya profesi dalam bidang kedokteran bertujuan untuk memuliakan manusia. Oleh karena itu tidak diperkenankan bagi seorang dokter atau petugas kesehatan lainnya untuk membakar potongan tubuh pasien namun hendaknya diberikan kepada sang pasien atau keluarganya untuk dikubur. Selain itu tidak diperbolehkan jual beli darah pasien, mengadakan operasi-operasi plastik untuk merubah wajah, telinga, alis, hidung, dan yang lainnya karena termasuk merubah penciptaan Alloh yang diharomkan dalam Islam. Alloh Ta’ala berfirman:

وَلآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ

(Syaithon berkata) “Dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merubahnya” (QS. an Nisaa’: 119). Disamping itu tidak diperbolehkan ta’awwun dalam kejelekan seperti menjual obat-obat penggugur kehamilan sehingga melariskan perzinaan.

f. Seorang dokter, perawat, mantri, bidan, apoteker dan petugas kesehatan lainnya hendaknya betul-betul meningkatkan skillnya dan menekuni pekerjaannya. Rasululloh r bersabda:

مَنْ تَطَبَّبَ وَلاَ يُعْلَمُ مِنْهُ طِبٌّ فَهُوَ ضَامِن

Barangsiapa yang menerjuni kedokteran sedangkan tidak diketahui orang itu ahli kedokteran maka ia menanggung (kerugian pasien) (HR. Abu Dawud 4586, as Shohihah 635).

g. Profesi dalam bidang pengobatan termasuk pekerjaan yang mulia sehingga diharapkan bagi para dokter untuk menggapai ridho Alloh dalam setiap aktivitasnya. Nabi r bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain (Dikeluarkan oleh ad Daroquthni , lihat as Shohihah 426).

h. Memberikan keringanan biaya bagi pasien yang kurang mampu. Rasululloh bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَة

Barangsiapa yang melapangkan kesusahan dunia dari seorang mukmin maka Alloh akan melapangkan kesusahannya di akhirat (HR. Muslim 2699).

Adabun adab dan akhlaq yang bersifat umum yang harus dimiliki seorang dokter adalah:

  1. Tidak diperbolehkan untuk berduaan dengan pasien wanita dalam suatu ruangan tanpa ditemani mahrom sang perempuan. Minimal pintu ruangan harus terbuka sehingga bisa terlihat oleh keluarganya.
  2. Tidak diperkenankan bagi seorang dokter untuk menyalami perempuan ajnabi atau memperbanyak pembicaraan dengannya kecuali untuk kepentingan pengobatan.
  3. Hendaknya tetap menjaga sholatnya. Jika pada suatu kondisi yang genting tidak mengapa baginya untuk menjama’ dua sholat sebagaimana perkataan Ibnu ‘abbas rodhiyallohu ‘anhuma :”Rasululloh r pernah menjama’ antara dhuhur dan ashar dan antara maghrib dan Isya’ di Madinah bukan karena takut (situasi gawat) dan bukan pula karena hujan”. Ada yang bertanya kepada Ibnu ‘Abbas :’Apa yang Nabi inginkan dengan melakukan itu? Ibnu ‘Abbas menjawab: “Beliau ingin supaya  tidak menyusahkan ummatnya”(HR. Muslim 1667, Abu Dawud 1213).
  4. Hendaknya menjauhi syi’ar-syi’ar dan gaya orang kafir seperti mencukur jenggot, memanjangkan kumis, isbal, bebas bercakap-cakap dengan dokter atau perawat wanita.

Disamping adab-adab tersebut di atas ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh para petugas kesehatan tentang rumah sakit, klinik, apotik maupun tempat praktiknya yaitu:

  1. Hendaknya menghususkan satu ruangan untuk sholat baik bagi laki-laki maupun perempuan karena mengingat pentingnya masalah shalat.
  2. Menjadi kewajiban dan PR kita bersama untuk menjadikan rumah sakit terhindar dari ikhltilath (bercampurnya laki-laki dan perempuan).
  3. Tidak diperkenankan untuk menggantung gambar makhluk bernyawa di tembok atau dinding.
  4. Hendaknya tidak menyediakan asbak bagi para pengunjung rumah sakit karena itu adalah bentuk ta’awwun dalam kejelekan.
  5. Hendaknya memisahkan antara ruangan pasien yang berpenyakit menular dengan yang tidak menular, demikian pula agar para pengunjung tidak kontak langsung dengan si pasien tersebut agar penyakitnya tidak menular –dengan taqdir Alloh- kepada yang lainnya. Rasululloh r bersabda:

لاَ يُورِدَنَّ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ

            Jangan sekali-kali mencampur yang sakit dengan yang sehat (HR. al Bukhori 5328).  

Hal itu dikuatkan juga dengan sabda beliau tentang wabah penyakit menular :

فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ

Jika kalian mendengar (ada wabah) di suatu negeri maka jangan kalian memasukinya (HR. al Bukhori 5287, Muslim 5775).

  1. Hendaknya kamar mandi maupun WC tidak menghadap ke arah kiblat atau membelakanginya sebagaimana sabda Nabi r :

لاَ تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ وَلاَ بِبَوْلٍ وَلاَ تَسْتَدْبِرُوهَا

Jangan menghadap kiblat tatkala buang air besar dan kencing dan jangan pula membelakangi (HR. al Bukhori 144, Muslim 264, at Tirmidzi 8, Abu Dawud 9).

  1. Dianjurkan untuk merubah kantornya ke arah kiblat dan duduk menghadap kiblat berdasarkan hadits Abu Hurairoh, Rasululloh r bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ سَيِّداً ، وَإِنَّ سَيِّدَ الْمَجَالِسِ قِبَالَةُ الْقِبْلَةِ

Sesungguhnya segala sesuatu memiliki tuan dan tuannya majelis adalah arah kiblat (HR. at Thobroni dalam “Al Ausath” 2354 dan dihasankan oleh al Haitsami 8/114, as Sakhowi (102) dan Syaikh Albani dalam As Shohihah (2645) dan Shohih at Targhib (3085)).

Walhamdulillah.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Tampil Beda dengan Syaiton

Tampil Beda dengan Syaiton Sesungguhnya Alloh menguji para hambaNya di dunia dengan musuh yang selalu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *