Senin , Oktober 26 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Adab / Adab Ta’arruf menuju pernikahan Islami
KLIK UNTUK BERINFAK

Adab Ta’arruf menuju pernikahan Islami

Adab Ta’arruf menuju pernikahan Islami

Sesungguhnya syariat Islam datang untuk mendatangkan kebahagiaan dan ketentraman bagi semua makhluk. Dan diantara syari’at Islam yang dapat mendatangkan maslahat yang besar adalah menikah untuk menjaga kesucian diri dan agama serta untuk memenuhi kebutuhan biologis yang berpahala. Maka, selayaknya bagi seorang pemuda/pemudi muslim untuk menyegerakan menikah jika sudah ada kemampuan karena semua bentuk pelampiasan syahwat selain dengan jalan menikah adalah terlarang (QS. Al Ma’arij: 31). Demikian pula Islam melarang dari mabuk cinta dan asmara karena itu termasuk penyakit-penyakit hati (QS. Al Hijr: 72). Islam juga melarang untuk menunda-nunda menikah dan membiarkan dirinya terjatuh dalam gelombang fitnah meskipun dengan segudang alasan di depan manusia. Tapi dengan Alloh, bisakah engkau mengelak..?(lihat QS. al Qiyamah: 14-15). Jika engkau takut miskin dan tidak bisa memberikan nafkah maka ketahuilah bahwasanya Alloh yang menyuruhmu menikah tidak akan membiarkanmu jika engkau memang ikhlas untuk beribadah kepadaNya (QS. an Nuur: 32)

Kurang YAKIN-nya kita dengan janji Alloh adalah penyakit generasi akhir zaman ini karena pola pendidikan dan pergaulan yang mendidik untuk selalu berorientasi dunia. Dan itulah kenyataannya….!?

Maka tatkala ada tekad yang kuat untuk segera menikah maka ikutilah tatanan syari’at dalam mengenal lebih jauh sang ‘calon pasangan hidup’ agar pernikahan yang diidam-idamkan dapat menjadi ibadah yang berbuah kebaikan bukan ibadah yang diawali dengan maksiat.

Makna Ta’arruf

Ta’arruf (التَّعَارُفُ  ) secara bahasa artinya mengenal. Si fulan ta’arruf dengan fulan maksudnya satu sama lain saling mengenal[1] .

Sunnah nya Ta’arruf

Islam menganjurkan bagi seseorang yang ingin menikah untuk mengetahui lebih jauh tentang hal ikhwal orang yang akan menjadi pendampingnya. Diantara tahapannya:

  1. Bagi laki-laki yang sudah bertekad kuat untuk menikah

a. Menentukan kriteria yaitu : kecantikan, nasab, harta, akhlak dan agama. Jika tidak bisa dikumpulkan semuanya maka utamakan yang memiliki akhlaq dan agama. Berkata Imam Ahmad rohimahulloh : “Jika seorang laki-laki ingin meminang maka hendaknya ia bertanya tentang kecantikannya terlebih dahulu. Jika dipuji kecantikannya maka ia bertanya tentang agamanya, jika dipuji agamanya[2] maka hendaknya ia menikah. Jika agamanya kurang terpuji maka ia menolak karena sebab agama.

Janganlah bertanya tentang agamanya terlebih dahulu karena jika dipuji agamanya lalu ia menanyakan tentang kecantikannya lalu ia tidak cantik kemudian ia menolaknya, berarti ia menolak karena kecantikan (fisik saja) bukan karena agama[3].

Jika menolak bukan karena agama tentunya hal itu menyalahi sabda Nabi r

فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

Pilihlah yang paham agama karena kamu akan beruntung[4]

b. Nadzhor

Nadzhor adalah melihat calon istri atau suami. Sebaiknya ini dilakukan setelah sebelumnya mendapatkan informasi yang cukup tentang sang akhwat (wanita) tersebut. Dan sebaiknya dilakukan langsung bukan lewat foto maupun video. Pihak laki-laki bisa mendapatkan Informasi tersebut melalui:

 

  • Wanita lain yang merupakan mahrom dari sang lelaki yang bertanya atau melihat langsung wanita tersebut.
  • Wanita lain yang bersahabat dengan wanita tersebut dan informasi tersebut disampaikan ke pihak laki-laki melalui suaminya atau mahrom laki-lakinya yang tsiqoh.
  • Orang yang tsiqoh yang mengetahui tentang wanita tersebut semisal Ustadz yang pernah mengajarnya atau melalui perantara istri ustadz yang terpercaya.

Sebaliknya sang wanita boleh mencari berita tentang sang laki-laki dengan cara yang sama. (Keterangan laki-laki mahromnya atau lewat Ustadz yang mengenal tentang laki-laki tersebut).

Dalam hal ini tidak boleh bagi pihak yang diminta keterangan atau diajak bermusyawarah untuk menyembunyikan sesuatu baik pada diri sang laki-laki maupun pada perempuan.

 

Fatimah binti Qois pernah bertanya kepada Rasululloh r tentang dua orang yang meminangnya yaitu Abu Jahm dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan, beliau lalu menjelaskan : “Adapun Abu Jahm orangnya suka mukulan sedangkan Mu’awiyah sangat miskin” [5].

Dari Abu Hurairoh t ia berkata: “Pernah suatu ketika ada seorang laki-laki yang mendatangi Rasululloh r kemudian ia memberitahukan Rasululloh bahwasanya ia ingin menikah. Maka Rasululloh bertanya :’Apakah kamu pernah melihatnya?’ Laki-laki itu menjawab :’Belum’. Maka Nabi r berkata: “Lihatlah dulu karena di mata wanita Anshor ada sesuatunya (matanya sipit)”[6]

 

Nadzhor bisa dilakukan dengan dua cara :

  1. Saling melihat langsung diantara kedua belah pihak.

Dari al Mughiroh bin Syu’bah t bahwasanya ia meminang seorang perempuan maka Nabi r berkata kepadanya:

Lihatlah karena itu bisa melanggengkan kecintaan diantara kalian berdua[7].

  1. Nadzhor –nya sang lelaki tanpa diketahui wanita yang bersangkutan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi r

إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمْ امْرَأَةً فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَنْظُرَ إِلَيْهَا إِذَا كَانَ إِنَّمَا يَنْظُرُ إِلَيْهَا لِخِطْبَتِهِ ، وَ إِنْ كَانَتْ لاَ تَعْلَم

Jika salah seorang kalian melamar maka tidak mengapa ia melihatnya jika niatnya untuk meminangnya sekalipun ia tidak mengetahui[8].

Berkata Jabir : ‘Aku meminang seorang gadis maka aku bersembunyi sehingga aku dapat melihat yang membuatku tertarik untuk menikahinya’[9]

Apanya  yang dinadzhor… ?

Berkata Ibnu Qodamah : ‘Tatkala Nabi r membolehkan untuk melihat wanita tanpa sepengetahuannya maka dapat dipahami bahwa beliau membolehkan untuk melihat semua yang biasa nampak darinya yang mana tidak mungkin hanya melihat wajah saja padahal yang biasa terlihat tidak sekedar itu saja’[10].

“Yang biasa nampak adalah wajah, leher, tangan dan kaki dan yang semisal itu. Adapun melihat yang tidak biasa nampak maka tidak dibolehkan, jadi hendaknya melihat apa yang biasa terlihat oleh sesama mahromnya dan tentunya yang paling penting adalah wajah”[11].

Boleh ga’ berbicara tatkala nadzhor ?

Disyariatkan adanya pembicaraan antara keduanya tanpa berduaan dalam masalah yang memang perlu untuk dibicarakan. Adapun terlalu banyak berbincang maka tidak diperbolehkan[12].

Syarat-syarat tatkala nadzhor

Asal hukum nadzhor wanita yang bukan mahrom adalah haram. Oleh karena itu hendaknya proses nadzhor ini memenuhi beberapa syarat :

  1. Harus bersama mahram (terutama cara pertama) tidak boleh berduaan.

Dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma dari Nabi r bersabda: “Tidak boleh (haram) seorang laki-laki berduaan dengan perempuan kecuali harus bersama mahromnya[13].

  1. Hendaknya memandang tanpa syahwat.
  2. Hendaknya bertekad kuat untuk menikah bukan hanya sekedar coba-coba atau main-main karena agama bukan ajang bermain-main.
  3. Yakin ia akan diterima lamarannya.
  4. Hendaknya memandang yang biasa terlihat[14]

Nadzhor bisa dilakukan sebelum melamar atau tatkala melamar. Berkata Syaikh Taqiyuddin :”Hendaknya nadhor itu dilakukan setelah berazzam kuat untuk menikah dan sebelum melamar/meminang”[15].

Jika di dalam hati sudah mantap untuk maju maka sang pemuda bisa melanjutkan ke jenjang MELAMAR (Khitbah)…

Bagi Perempuan yang dilamar

Tatkala datang lamaran keluarga sang laki-laki maka sang wanita mempunyai hak untuk menanyakan perihal sang lelaki tersebut dan berhak untuk melihatnya sebagaimana hak laki-laki (tentunya di dampingi mahromnya). Setelah hendaknya ia istikhoroh meminta kepada Robbnya suatu keputusan yang tepat.

Anas berkata: ‘Tatkala ‘iddah Zainab habis, Rasululloh r berkata kepada Zaid : ‘Sebutkanlah ia untukku[16]. Maka Zaid berangkat setelah itu ia berkata: ‘Wahai Zainab Rasululloh r mengutus untuk menyebutmu’. Maka Zainab bekata :’Aku tidak bisa memutuskan sampai aku istikhoroh kepada Robbku…’[17].

Setelah Semuanya Setuju maka boleh bagi keluarga kedua belah pihak untuk menentukan kapan waktu pernikahan yang diidam-idamkan…

Bolehkah SMS-an dan saling telpon sebelum akad nikah…?

“Pembicaraan antara pelamar dan yang dilamar melalui telpon (HP) maka ini tidak mengapa jika memang sudah diterima lamarannya. Pembicaraan tersebut adalah untuk saling memberikan pengertian dan sesuai dengan keperluan saja serta tidak menimbulkan fitnah. Jika melalui wali masing-masing pihak maka itu lebih utama dan lebih jauh dari melembut-lembutkan suara.

Adapun saling telpon-telponan antara cowok dan cewek, pemuda dan pemudi padahal mereka belum memasuki proses melamar dengan tujuan Ta’arruf  -istilah mereka- maka itu termasuk kemungkaran dan diharomkan karena akan mengantarkan kepada terjadinya fitnah dan pendorong melakukan fahisyah (perbuatan yang terlarang). Alloh Ta’ala berfirman:

 

Janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya[18] dan ucapkanlah perkataan yang baik[19]

Seorang wanita tidak boleh berbicara dengan lelaki ajnabi kecuali ada kebutuhan mendesak dan dengan perkataan yang biasa tidak mengandung fitnah dan dilembut-lembutkan[20]. Walhamdulillah.


[1] Qomus al Fiqhi 1/248

[2] Yang dimaksud dengan agama di sini adalah pahamnya ia dengan al Qur’an dan sunnah yang tercermin dalam akhlaq dan kepribadiannya.

[3] Al Inshaf (8/19), Kasyful Mukhaddarot Ahmad bin Abdulloh al halabi (1/383).

[4] HR. al Bukhori (5090).

[5] HR. Muslim (1480)

[6] HR. Muslim (1424)

[7] Shohih at Tirmidzi (867), silsilah as Shohihah (96).

[8] HR. Ahmad (5/424) dan dishohihkan oleh Syaikh Albani dalam Silsilah as shohihah no. 97.

[9] Shohih Sunan Abu Dawud (1832).

[10] Al Mughni (7/454)

[11] Syarh al Mumti’ oleh Syaikh Utsaimin (5/109).

[12] Al Mausu’ah al Fiqhiyyah al Muyassaroh (5/37) oleh Syaikh Husain bin al ‘Audah al  ‘Awayisyah.

[13] HR. al Bukhori (5233), Muslim (1341).

[14] Syarh al Mumti’ (5/110).

[15] Al Inshof (8/19)

[16] Ungkapan untuk menyatakan keinginan menikahinya.

[17] HR. Muslim (1428).

[18] Penyakit syahwat

[19] QS. Al Ahzab : 32

[20] Fatwa Syaikh Doktor Sholih Fauzan no. 349.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah Bulan romadhon…bulan yang membawa suka cita bagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *