Kamis , Oktober 22 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Adab / Adab Menghiasi Rumah
KLIK UNTUK BERINFAK

Adab Menghiasi Rumah

Adab Menghiasi Rumah

Rumah adalah tempat manusia menghabiskan sisa aktivitasnya di luar rumah baik dengan istirahat, bercengkerama dan berbagi rasa. Bahkan lebih jauh dari itu ia merupakan sekolah dan tempat pendidikan bagi anak cucu manusia yang beriman. Namun terkadang tujuan ini jarang bisa tercapai karena sepinya rumah dari kegiatan-kegiatan kegamaan yang bernilai positif. Ironinya banyak orang yang broken home meskipun rumahnya besar dan mewah. Di sisi lain tidak sedikit orang-orang yang rajin “mengaji” di luar  menjadikan rumah hanya sekedar tempat istirahat saja sehingga putra-putrinya pun kurang mendapatkan pengawasan dan arahan yang cukup karena menganggap bahwa mendidik anak sepenuhnya telah diberikan kepada sekolah atau pondok. Padahal sekedar hanya menanyakan hafalan anak atau ikut muroja’ah bersama mereka merupakan salah satu bentuk perhatian orang tua yang sangat dibutuhkan sang anak.

Oleh karena itu sangat dibutuhkan bagaimana metode untuk menjadikan rumah menjadi terasa luas dan lapang bagi penghuninya. Dari Abi Waqqosh t Rasululloh Rasululloh -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- bersabda:

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ : اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ ، وَ الْمَسْكَنُ الْوَاسِع وَ الْجَارُ الصَّالِحُ وَ الْمَرْكَبُ الْهَنِيْءُ

Empat hal yang termasuk kebahagiaan : Istri yang sholihah, rumah yang luas, tetangga yang baik dan kendaraan yang menyenangkan (HR. Ibnu Hibban 1232, Silsilah as Shohihah 282).

Berkata al Munawi : ‘Rumah yang luas maknanya yang banyak dirasakan manfaatnya oleh penghuninya dan luas-nya berbeda diantara masing-masing orang. Bisa jadi dirasakan luas oleh seseorang namun dirasakan sempit oleh orang lain dan sebaliknya’ (Faidul Qodir 3/399).

Untuk mewujudkan rumah yang nyaman dan luas bagi penghuninya ada beberapa cara syar’i yang bisa ditempuh:

  1. Memakmurkan rumah dengan ibadah dan keta’atan.

Islam melarang untuk menjadikan rumah kosong dari dzikrulloh, sholat sunnah, tilawah al Qur’an, kajian islam, nasehat, dan bentuk-bentuk ibadah yang lain. Tatkala rumah sepi dari hal itu maka menjadilah ia seperti kuburan yang gelap bagi penghuninya dari cahaya keimanan. Rasululloh r bersabda:

لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِى تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

Janganlah kalian menjadikan rumah kalian kuburan, sesungguhnya syaithon lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surah al Baqoroh (HR. Muslim 780).

  1. Mengucapkan salam bagi penghuninya.

Anas bin Malik berkata: ‘Rasululloh -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-berkata kepadaku :

يَا بُنَىَّ إِذَا دَخَلْتَ عَلَى أَهْلِكَ فَسَلِّمْ يَكُونُ بَرَكَةً عَلَيْكَ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِك

Wahai anakku, jika engkau masuk ke dalam keluargamu maka salamlah karena akan menjadi berkah bagimu dan bagi keluargamu (HR. at Tirmidzi 2698, Sohih Sunan at Tirmidzi 2171).

  1. Mencegah masuknya syaiton ke dalam rumah

Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa macam cara:

  1. Berdzikir (membaca do’a) tatkala akan masuk rumah dan makan. Rasululloh -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, bersabda:

إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بْتَهُ فَذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ لاَ مَبِيتَ لَكُمْ وَلاَ عَشَاءَ. وَإِذَا دَخَلَ فَلْ يَذْكُرِ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ. وَإِذَا لَمْ يَذْكُرِ اللَّهَ عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ وَالْعَشَاء

Jika seseorang memasuki rumahnya kemudian menyebut Alloh ketika masuk dan makan, maka syaithon berkata: ‘tidak ada tempat menginap dan makan malam (bagi kami di rumah kalian). Jika seseorang masuk tanpa menyebut Alloh syaithon berkata: ‘Aku mendapatkan tempat menginap. Jika tidak menyebut Alloh tatkala makan malam, syaithon berkata: ‘Saya mendapatkan tempat menginap dan makan malam’ (HR. Muslim 2018).

2. Membersihkan rumah dari suara dan barang yang membuat malaikat tidak mau masuk ke dalam rumah . Diantaranya:

  • Suara musik dan ratapan. Dari Anas bin Malik -Radhiallahu ‘Anhu-, Rasululloh -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, bersabda:

صَوْتَانِ مَلْعُوْنَانِ فِي الدُّنْيَا وَ الآخِرَةِ : مِزْمَارٌ عِنْدَ نِعْمَةٍ وَ رَنَّةٌ عِنْدَ مُصِيْبَةٍ

Dua suara yang dilaknat di dunia dan akhirat, seruling tatkala senang dan ratapan ketika tertimpa musibah (HR. al Bazzar 795 dan dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Sohih al Jami’ 3801). Tidak ada perbedaan antara musik yang ada dalam ringtone HP maupun yang lainnya. Hukumnya sama yaitu diharomkan sebagaimana fatwa para Ulama.

  • Lonceng baik yang kecil maupun besar, yang digantung di depan rumah, kendaraan, yang terbuat dari besi, tembaga, aluminium, emas maupun perak, lonceng yang ada di jam dinding dan sebagainya. Dari ‘Aisyah ia mendengar Rasululloh r bersabda:

لاَ تَدْخُلُ الْمَلاَئِكَةُ بَيْتًا فِيهِ جَرَسٌ

            Malaikat tidak masuk ke dalam rumah yang ada loncengnya (HR. Abu Dawud 4231, Sohih Sunan Abi Dawud 3560).

  • Gambar makhluk bernyawa dan rumah yang dipelihara anjing di dalam maupun pekarangannya. Dari Abi Tholhah -Radhiallahu ‘Anhu-, dari Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- bersabda:

لاَ تَدْخُلُ الْمَلاَئِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلاَ صُورَة

            Malaikat tidak memasuki rumah yang ada di dalamnya anjing dan gambar (HR. al Bukhori 3322, Muslim 2106).

4. Mencegah anggota keluarga dari menonton sinetron maupun film yang mengumbar aurat, hidup bebas dan glamour.

Tatkala para ulama ditanya tentang orang yang mabuk cinta dengan gambar mereka menjawab: ‘Itu adalah hati yang lalai dari dzikrulloh maka ia diuji dengan menyembah selainNya’ (Miftah dar as Sa’adah 1/374).

Tidak diragukan lagi bahwa menonton film atau sinetron yang tidak tahu malu atau masuk ke dalam situs ‘buka-bukaan’ merupakan fitnah yang besar, musibah yang hebat, racun yang mematikan, penyakit yang ganas dan merupakan penyakit hati yang merusak agama orang yang menontonnya kemudian merusak akal dan badannya. Sekalipun ia selamat dari berbuat zina, terpautnya hati dengan tontonan tersebut lebih besar bahayanya (ar rosail an Nafi’ah hal.98). Hal itu karena  terus menerusnya hati menyukai apa yang dibenci Alloh  merupakan kekurangan dalam tauhid dan termasuk syirik khofi (tersembunyi) (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam 1/524-525).

Maka bagi mereka yang ingin kebaikan dalam rumahnya supaya :

  1. Bersabar untuk tidak menonton tayangan tersebut. Ulama mengatakan :’Bersabar utuk menundukkan pandangan lebih mudah daripada bersabar dari merananya hati setelah memandang’ (ad Da’ wad dawa’ hal. 179).
  2. Ikhlas meninggalkannya karena Alloh.

Alloh akan memalingkan hambaNya dari kejelekan seperti condong kepada gambar (tontonan) dan gandrungnya hati kepadanya dan menjauhkannya dari perbuatan jelek dengan sebab ikhlashnya kepada Alloh (Majmu’ Fatawa 10/188). Alloh Ta’ala berfirman:

Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu Termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih (QS. Yusuf: 24).

3. Menjauhi sumber fitnah.

Sesungguhnya hamba  itu lemah. Bagaimanapun kedudukannya ia tidak akan aman dari fitnah baik yang berhubungan dengan syahwat maupun syubhat.

Tidak ada cara yang paling jitu untuk melepaskan  diri dari kejelekan kecuali menjauhi sebab dan sarangnya (‘Uddatus Shobirin hal. 86). Syahwat itu ibarat  api, kapan saja sang pelaku menyulutnya maka ia akan terbakar (Fawaidul Fawa’id hal. 290). Pengaruh dosa dan maksiat terhadap hati seperti kayu yang menghasilkan api, Semakin banyak dosa semakin menyala api syahwat di dalam hati (Mawaridul Aman hal. 117).

Rasululloh -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- memerintahkan untuk menjauhi semua sumber fitnah yang akan berbahaya bagi agama seseorang. Beliau -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- bersabda:

مَنْ سَمِعَ بِالدَّجَّالِ فَلْيَنْأَ عَنْه

Barangsiapa yang mendengar dajjal maka hendaknya ia menjauh (HR. Abu Dawud 4319, Shohih Abi Dawud 3629). Seseorang mungkin bisa menghindar dari bermain dan menonton konser musik dan menundukkan pandangan di luar rumah namun akankah ia bisa melakukannnya tatkala menonton televisi di dalam rumah…??!

Dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha Rasululloh -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- bersabda:

يَا عَائِشَةُ إِيَّاكِ وَمُحَقَّرَاتِ الأَعْمَالِ فَإِنَّ لَهَا مِنَ اللَّهِ طَالِبًا

Wahai ‘Aisyah, hati-hatilah dari amalan-amalan dosa yang diremehkan karena nanti akan dituntut oleh Alloh (HR. Ibnu Majah (4243), Ibnu Hibban (2497), Silsilah As Shohihah (513)

Sahabat Anas bin Malik -Radhiallahu ‘Anhu-, berkata: “ Kalian betul-betul melakukan amalan yang kalian anggap lebih ringan dari rambut sedangkan kami menganggapnya di zaman Nabi sebagai penghancur” (HR. al Bukhori 6492).

Berkata Bilal bin Sa’d : ‘Janganlah engkau menjadi wali Alloh di hadapan khalayak ramai sedangkan engkau menjadi musuhnya ketika seorang diri’ (Dikeluarkan oleh al Firyabi dalam “Shifatun Nifaq” 91).

Diantara langkah-langkah yang bisa ditempuh untuk menghindarkan keluarga dari pengaruh negatif tontonan:

  • Mengosongkan rumah dari televisi jika memungkinkan.
  • Jika tidak, hendaknya dijauhkan dari jangkauan anak-anak.
  • Mencari program TV Sunnah yang bermanhaj salaf kalau ada.
  1. Hendaknya betah tinggal di rumah dan tidak menggunjing orang lain

Akhir zaman ini adalah zaman penuh fitnah. Tatkala keluar rumah seorang mukmin dihadapkan dengan berbagai macam godaan duniawi dan tidak ada yang selamat darinya melainkan mereka yang diberikan taufik oleh Alloh.

Uqbah bin Amir -Radhiallahu ‘Anhu-, pernah bertanya kepada Rasululloh -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- :’ Wahai Rasululloh, apa itu keselamatan ?’. Beliau -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- menjawab:

أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ

Tahanlah lisanmu, cukuplah dengan rumahmu dan tangisilah dosa-dosamu (HR. at Tirmidzi 3406, Shohih at Tirmidzi 2/567). Rasululloh r bersabda:

وَمَنْ جَلَسَ فِي بَيْتِهِ لَمْ يَغْتَبْ إِنْسَانًا كَانَ ضَامِنًا عَلَى اللهِ

Barangsiapa yang duduk di rumahnya sedangkan ia tidak menggunjing seseorang maka ia adalah tanggungan Alloh (dalam penjagaan Alloh) (HR. Ibnu Hibban 273, Shohih at Targhib 2738). Wallohu waliyyut taufiq.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah Bulan romadhon…bulan yang membawa suka cita bagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *