Kamis , Oktober 22 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Adab / Adab Makan dan Minum
KLIK UNTUK BERINFAK

Adab Makan dan Minum

Adab Makan dan Minum

Diantara nikmat yang Alloh berikan kepada manusia  adalah nikmat makan dan minum untuk menunjang kelangsungan hidupnya dalam beribadah kepada Alloh Ta’ala. Oleh karena itu hendaknya manusia bersyukur dengan menta’ati Alloh Ta’ala dan RasulNya. Alloh Ta’ala berfirman yang artinya: “Barangsiapa yang bersyukur maka ia bersyukur untuk dirinya maka barangsiapa yang ingkar maka Alloh Maha kaya lagi Maha Terpuji” (QS. Luqman: 12).  Diantara bagian cara kita bersyukur adalah dengan memperhatikan adab-adab seputar makan dan minum, diantaranya:

1. Tidak makan bersandar.

Dari Abu Juhaifah -Radhiallahu ‘Anhu-, ia berkata: “Saya pernah berada di sisi Rasululloh -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, kemudian beliau berkata kepada seseorang di dekatnya: “Aku tidak makan dalam keadaan bersandar” (HR. al Bukhori 5399).

Dalam riwayat lain :” Jangan makan bersandar…” (Dikeluarkan oleh Ibnu Asyakir dalam tarikhnya 13/391 dan dihasankan oleh syaikh Albani dalam as Shohihah 3122).

Berkata al Munawi : ”Bersandar yang terlarang tatkala makan adalah condong ke salah satu bagian dan berteleken kepadanya bukan bersandar dengan bertumpu kepada sesuatu di bawahnya sementara tubuh tetap tegak” (Faidhul Qodhir 6/379).

Hal itu terlarang karena termasuk kebiasaan orang-orang angkuh dan raja-raja ‘ajam yaitu cara duduknya orang-orang yang ingin memperbanyak makannya (Fathul Bari 9/452).

Berkata Ibnul Qoyyim: “Termasuk sunnah beliau -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, dalam tata cara duduk ketika makan adalah Muq’in (duduk di atas kedua pantatnya dan menegakkan kedua betisnya, sebagaimana dalam riwayat Muslim 2044) dan  duduk bersandar di atas kedua lututnya dan meletekakkan bagian dalam kaki kiri di atas bagian sebelah atas kaki kanannya karena tawadhu’ kepada Robbnya ‘azza wa jalla (sebagaimana dalam riwayat Ibnu Majah 3263 dan dishohihkan oleh Syaikh Albani). Adapun riwayat duduk dengan  menegakkan kaki kanan dan duduk di atas kaki kiri adalah riwayat yang dho’if sebagaimana yang dijelaskan oleh al Hafidz al ‘Iroqi (2/6).

2. Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. 

Mencuci tangan sebelum makan sangat dianjurkan bagi orang yang junub atau ditangannya terdapat kotoran. Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha ia berkata: “Rasulullloh -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, jika ingin tidur tatkala junub beliau berwudhu’ dan jika ingin makan beliau mencuci kedua tangannya” (HR. an Nasa’I 256, As Shohihah 390).

Jika ia tidak junub dan tangannya dirasa bersih maka tidak mengapa ia tidak mencuci tangannya karena kebanyakan ulama membawa hadits ‘Aisyah tersebut khusus bagi orang yang junub saja.

Adapun mencuci tangan setelah makan didasarkan oleh hadits Abu Hurairoh -Radhiallahu ‘Anhu-, Rasululloh -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, bersabda: “Barangsiapa yang tidur sedangkan ditangannya masih ada bau makanan kemudian ia terkena sesuatu maka jangan ia mencela kecuali dirinya sendiri” (HR. Abu Dawud 3852, at Tirmidzi 1860 dan dishohihkan oleh Syaikh Albani).

3. Membaca bismillah dikala akan makan dan mengucapkan Alhamdulillah

Dalam banyak hadits disebutkan “Sammillah” atau “Sebutlah nama Alloh”, sehingga sebagian ulama mensunnahkan untuk mengucapkan “  بسم الله الرحمن الرحيم “. Namun pendapat yang shohih adalah hanya mengucapkan “   بسم الله “ saja berdasarkan hadits ‘Amr bin Abi Salamah -Radhiallahu ‘Anhu-, Rasululloh -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- bersabda: “Wahai anak kecil jika engkau makan maka ucapkanlah bismillah dan makanlah dengan tangan kananmu…”(HR. at Thobroni dalam Mu’jamul Kabir 3/2/2 dan dishohihkan oleh Syaikh Albani dalam as Shohihah 344).

Jika lupa membaca bismillah di awalnya kemudian ia teringat di tengah-tengah makan maka hendaknya mengucapkan بِسْمِ اللهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ  “bismillah di awal dan akhirnya” berdasarkan hadits  ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha (Dikeluarkan oleh Abu Dawud 3767, at Tirmidzi 1858). Adapun mengucapkan Alhamdulillah setelah makan dan minum sangat banyak sekali ragamnya dari nabi. Diantaranya adalah:

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلاَ قُوَّةٍ

Segala puji bagi Alloh yang memberikanku makanan ini dan merizkikannya kepadaku tanpa ada daya dan kekuatan dariku (HR. at Tirmidzi 3458, Ibnu Majah 3285 dan dihasankan oleh Syaikh Albani).

4. Makan dan minum dengan tangan kanan.

Rasululloh r bersabda: “Jika kalian makan hendaknya makan dengan tangan kanan dan jika minum hendaknya dengan tangan kanan karena syaiton makan dan minum dengan tangan kirinya” (HR. Muslim 2020). Namun jika ada udzur seperti sakit atau luka pada tangan kanan maka tidak mengapa makan dan minum dengan tangan kiri.

5. Dianjurkan untuk makan dengan tiga jari dan menjilatnya setelah makan.

Dari Malik bin Anas -Radhiallahu ‘Anhu- ia berkata: “Rasululloh -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-  makan dengan tiga jari dan menjilat tangannya sebelum membasuhnya” (HR. Muslim 2032). Diantara manfaat makan menggunakan tiga jari adalah agar tenggorokan dan lambung tidak terlalu penuh sehingga makanan dapat dicerna sedikit demi sedikit (Lihat Zadul Ma’ad /222). Lajnah Daaimah berfatwa: “Makan menggunakan tangan dan sendok termasuk sunanul ‘adah “(kebiasaan yang termasuk sunnah) (22/269 no. 8107).

6. Dilarang untuk Iqron (mengambil dobel makanan) tatkala makan berjama’ah misalnya ketika makan kurma berjama’ah, seseorang mengambil dua biji sekaligus.

‘Umar -Radhiallahu ‘Anhu- pernah berkata: “Sesungguhnya Rasululloh -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-  melarang dari Iqron kecuali jika diizinkan” (HR. al Bukhori 2455).

An Nawawi berkata : “Jika makanan itu untuk bersama maka Iqron di sini diharamkan kecuali jika ada keridhoaan mereka dan keridhoaan tersebut bisa dengan perkataan yang jelas dari mereka atau dengan bukti-bukti lain yang menguatkan dugaan tentang keridhoaan mereka. Jika makanan tersebut untuk sebagian orang saja atau buat salah seorang mereka maka disyaratkan keridhoaan orang itu saja. Jika makanan itu adalah buat dirinya sendiri dan digunakan menjamu tamunya maka tidak mengapa ia melakukan Iqron. Jika makanan tersebut sedikit maka sebaiknya tidak Iqron agar semuanya kebagian namun jika makanannya banyak dan ada lebihnya maka tidak mengapa Iqron. Akan tetapi hendaknya beradab tatkala makan dan tidak rakus kecuali jika ia terburu-buru dan ingin cepat beranjak karena ada kepentingan (Syarh Muslim jilid 7, 13/190 dengan sedikit penyesuaian).

Larangan ini banyak diabaikan oleh sebagian kaum muslimin terutama pada acara aqiqah atau walimah dimana kita lihat mereka berlomba-lomba mengambil makanan favorit (seperti sate) sebanyak-banyaknya sehingga antrian yang belakangan tidak kebagian…!.

7. Tidak memakan makanan yang masih panas.

Abu Hurairoh -Radhiallahu ‘Anhu- berkata “Makanan tidak boleh dimakan sampai hilang uap panasnya” (Dikeluarkan oleh al Baihaqi 7/268, Irwaul Ghalil 1978). Rasululloh r berkata tentang makanan yang tidak panas: “Ia lebih banyak berkahnya” (HR. ad Darimi 2078, as Shohihah 392).

8. Tidak boleh mencela makanan dengan mengatakan ini asin, kecut, belum matang, keras, lembek dan lain-lain yang bisa menyakiti perasaan orang yang memasaknya.

Abu Hurairoh -Radhiallahu ‘Anhu- berkata: “Rasululloh -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- tidak pernah mencela makanan sedikitpun. Jika beliau suka beliau makan jika tidak maka beliau meninggalkannya” (HR.al Bukhori 5409).

Adapun perkataan Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- tentang dhob :“Daging ini tidak pernah saya makan sebelumnya”bukanlah termasuk mencela makanan karena beliau hanya memberitahukan bahwa hewan tersebut tidak terbiasa beliau makan (Lihat Syarh Muslim jilid 7, 14/22).

9. Hendaknya makan dan minum dengan cara duduk.

Jika terdapat udzur untuk makan dan minum dengan duduk maka diperbolehkan dengan cara berdiri.

Dari Abu Hurairoh -Radhiallahu ‘Anhu- Rasululloh -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- bersabda: “Jangan sekali-kali seseorang dari kalian ini minum berdiri. Jika ia lupa maka hendaknya dimuntahkan”(HR. Muslim 2026).

Qotadah -Rahimahullah-, pernah bertanya kepada Anas : “Bagaimana dengan makan?”. Ia menjawab: “(Makan berdiri) lebih jelek dan lebih buruk” (Fathul Bari 10/82).

Dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma ia berkata : “Saya pernah memberikan Rasululloh minum air zam-zam, beliau minum sambil berdiri” (HR. al Bukhori 1637, Muslim 2027).

Dari Ibnu ‘Umar rodhiyallohu ‘anhuma ia berkata: “Kami pernah minum sambil berdiri dan makan sambil berjalan pada masa Rasululloh” (HR. Ahmad 2/108, ad Darimi 2/120 dan dishohihkan oleh Albani dalam as Shohihah no. 3178). Oleh karena itu kebiasaan standing party tatkala pesta bukanlah termasuk adab islam karena tidak ada udzurnya.

10. Dilarang untuk bernafas di dalam gelas dan meniupnya tatkala minum.

Dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma ia berkata: “Rasululloh r melarang dari bernafas dan meniup ke dalam bejana” (at Tirmidzi 1888 dan ia berkata: “hadits hasan shohih”).

Bernafas dan meniup ke dalam air akan membuat air tersebut kotor dan tidak steril terlebih jika terjatuh ludah ke dalamnya (lihat Syarh Muslim jilid 2, 3/130, Zadul Ma’ad 4/235). Adapun kalau bernafas di luar bejana atau gelas disunnahkan berdasarkan hadits Anas bin Malik -rodhiyallohu ‘anhu-, : “Rasululloh -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, bernafas tatkala minum tiga kali” (HR. Muslim 2028).

Diperbolehkan juga meminum sekaligus tanpa bernafas (Berdasarkan riwayat at Tirmidzi 1887, Malik 1718). Berkaitan dengan hal ini dimakruhkan untuk meminum langsung dari mulut kocor tanpa menuangkannya ke dalam gelas terlebih dahulu. Dari Ibnu ‘abbas rodhiyallohu ‘anhuma ia berkata: “Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, melarang minum dari mulut kocor” (HR. al Bukhori 5629).

Hal itu karena akan menyebabkan sisa air di dalamnya terkontaminasi oleh nafas dan liur orang yang minum tersebut atau karena bisa jadi akan menelan serangga atau hewan-hewan yang ada di dalamnya ;-tanpa disadari- terutama jika wadah air atau kocor tersebut tertutup (tidak transparan).

11. Mendahulukan makan dari melaksanakan sholat jika telah dihidangkan.

Dari Ibnu ‘Umar rodhiyallohu ‘anhuma Rasululloh bersabda: “Jika makan malam telah dihidangkan dan sholat telah diiqomati maka makanlah dan jangan terburu-buru sampai makannya selesai” (HR. al Bukhori 674).

Berkata Abu Darda’: “Termasuk kefakihan seseorang adalah menunaikan hajatnya sehingga ia masuk ke dalam sholat sedangkan hatinya telah kosong” (Fathul Bari 2/187).

Berkata Syaikh Muhammad al Utsaimin : “(Namun) jangan sampai ini dijadikan kebiasaan karena menjadikannya kebiasaan berarti bersengaja meninggalkan sholat” (Syarhul Mumti’ 4/312).

12. Tidak boleh duduk di suatu meja atau tempat hidangan yang di sana ada makanan atau minuman yang haram.

Dari ‘Umar bin Khoththob -Radhiallahu ‘Anhu-, ia berkata: “Rasululloh -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, melarang orang-orang yang makan dari duduk di meja tempat khomer diminum dan makan dengan telungkup di atas perutnya” (HR. Abu Dawud 3774 dan dishohihkan oleh Syaikh Albani).

Demikian beberapa etika seputar makan dan minum. Semoga Alloh selalu memberikan taufiqNya. Amin.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah Bulan romadhon…bulan yang membawa suka cita bagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *