Kamis , Oktober 22 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Adab / Adab Berkunjung dan Bertamu
KLIK UNTUK BERINFAK

Adab Berkunjung dan Bertamu

Adab Berkunjung dan Bertamu

Diantara sekian sarana yang dapat mempererat ukhuwah  dan kasih sayang sesama muslim adalah dengan saling mengunjungi. Pernah suatu ketika seseorang pergi mengunjungi saudaranya di desa yang lain. Kemudian di tengah jalan malaikat yang berwujud manusia bertanya kepadanya : ‘Mau kemanakah anda?’ Ia menjawab: ‘Saya ingin mengunjungi saudara saya di desa ini’. Malaikat itu bertanya lagi: ‘Apakah anda mempunyai sesuatu keuntungan yang akan  diperoleh darinya’. Ia menjawab: ‘Tidak, Saya hanya mencintainya karena Alloh’. Malaikat itu kemudian berkata: ‘Saya adalah utusan Alloh kepadamu dan Alloh telah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu itu’ (HR. Muslim 2567).

Oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam bertamu atau berkunjung agar berbuah rahmat dan kasih sayang:

  1. Tidak berkunjung pada waktu-waktu istirahat sebagaimana yang tersebut dalam ayat Isti’dzan (minta izin) (an Nuur:58) yaitu: sebelum sholat subuh, pada waktu tidur siang dan setelah sholat Isya.
  2. Memberitahukan tuan rumah terlebih dahulu dan tidak datang secara mendadak kecuali karena urusan yang sangat penting. ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha berkata: ‘Tatkala Nabi diizinkan untuk hijrah ke Madinah, beliau mengagetkan kami karena datang siang hari kemudian Abu bakr diberitahukan perihal itu dan Abu bakr berkata:

مَا جَاءَنَا النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فِى هَذِهِ السَّاعَةِ ، إِلاَّ لأَمْرٍ حَدَثَ

Tidaklah Nabi mendatangi kita di waktu seperti ini kecuali karena ada sesuatu yang telah terjadi (HR. al Bukhori 2138).

  1. Mengucapkan salam kepada sohibul bait (tuan rumah) tatkala telah tiba (Shohih al Adab al Mufrod 420). Jika tuan rumah tidak ada atau ia menyuruh untuk kembali maka hendaknya sang tamu pulang (QS. An Nuur; 28).
  2. Tidak mengetuk pintu dengan keras. Anas bin Malik berkata:

إِنَّ أَبْوَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَتْ تُقْرَعُ بِالأَظَافِيْرِ

Sesungguhnya pintu-pintu Nabi diketuk dengan menggunakan kuku (HR. al Bukhori dalam “Al Adabul Mufrod” no.1080. Berkata Syaikh Albani: “Shohih”).

  1. Disunnahkan untuk bersalaman ketika bertemu.

Qotadah berkata : ‘Aku bertanya kepada Anas : “Apakah para sahabat Nabi bersalaman?”. Ia menjawab : ‘Ya’ (HR. al Bukhori 6263). Namun diharamkan untuk menyalami wanita yang bukan mahromnya (HR. Ahmad 26466, at Tirmidzi 1597).

  1. Tidak duduk di tempat duduk khusus buat sohibul bait kecuali dengan seizinnya. Rasululloh r bersabda:

وَلاَ يَقْعُدْ فِى بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

Janganlah duduk di rumahnya di atas tempat duduk khususnya kecuali dengan izinnya (HR. Muslim 673).

  1. Tidak diperbolehkan untuk meneliti seisi rumah sohibul bait kecuali jika diizinkan. Dari Abu Hurairah Rasululloh r bersabda:

مَنِ اطَّلَعَ فِى بَيْتِ قَوْمٍ بِغَيْرِ إِذْنِهِمْ فَقَدْ حَلَّ لَهُمْ أَنْ يَفْقَئُوا عَيْنَهُ

Barangsiapa yang meneliti rumah orang-orang tanpa izin maka telah halal untuk dicongkel matanya (HR. Muslim 2158).

  1. Dalam bercakap-cakap dengan sohibul bait hendaknya dijauhi perkataan yang terlarang secara syar’I baik itu menggibah orang lain atau berbohong untuk membuat orang tertawa. Nabi bersabda:

 وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ بِالْحَدِيثِ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ فَيَكْذِبُ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

Celaka bagi orang yang menceritakan sesuatu agar membeuat orang lain tertawa. Celaka baginya…Celaka baginya…(HR. Abu Dawud 4990 dan dihasankan oleh Syaikh Albani). Dari Jabir bin Abdillah ia berkata: ‘Kami pernah bersama Rasululloh kemudian terciumlah bau bangkai yang sangat busuk maka beliau berkata:

« أَتَدْرُونَ مَا هَذِهِ الرِّيحُ هَذِهِ رِيحُ الَّذِينَ يَغْتَابُونَ الْمُؤْمِنِينَ »

Kalian tahu bau apakah ini?Ini adalah bau orang-orang yang menggibah orang-orang yang beriman (HR. Ahmad, al Bukhori dalam ‘Al Adabul Mufrod dan dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Shohih at Targhib wat Tarhib 2840).

  1. Tidak mengapa bagi seseorang untuk berbicara sambil menikmati hidangan yang diberikan oleh sohibul bait.

Ishaq bin Ibrohim berkata: ‘Saya pernah makan malam bersama Abu Abdillah (Imam Ahmad) dan kerabatnya. Kemudian kami diam sedangkan beliau makan sambil mengucapkan: “Alhamdulillah wa bismillah”. Kemudian ia berkata: “Makan dan bertahmid lebih baik daripada makan sambil diam” (Al Adab as Syar’iyyah 3/163).

  1. Disunnahkan untuk mendoakan sohibul bait yang telah menghidangkannya sesuatu sekalipun hanya air putih. Diantara do’a tersebut adalah:

اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى

Ya Alloh, berilah makan orang yang telah memberikan saya makan dan berilah minum orang yang telah memberikan saya minum (HR. Muslim 2055).

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَبَارِكْ لَهُمْ فِيمَا رَزَقْتَهُمْ

Ya Alloh, ampunilah mereka, rahmatilah mereka dan berkahilah apa yang Engkau rizqikan kepada mereka (HR. Muslim 2042, Ahmad 17220).

أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ

Orang-orang yang berpuasa telah berbuka di sisimu, Orang-orang yang baik telah memakan makananmu dan malaikat telah berdo’a buatmu (HR. Abu Dawud 3854 dan dishohihkan Albani rohimahulloh). Sebagian Ulama mengkhususkan do’a yang ketiga ini hanya tatkala berbuka puasa di rumah orang lain namun kebanyakan Ulama menggunakannya secara umum baik tatkala berbuka puasa maupun yang lainnya (Al Adab as Syar’iyyah3/218).

  1. Dianjurkan untuk mengucapkan do’a kaffaratul majelis tatkala akan beranjak keluar rumah.

Dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anhu ia berkata: ‘Bahwasanya Rasululloh jika duduk dalam suatu majelis atau sholat, beliau mengucapkan beberapa kalimat”. Maka ‘Aisyah menanyakan tentang kata-kata tersebut. Maka beliau menjawab : “Jika berbicara kebaikan maka itu adalah stempelnya sampai hari kiamat dan jika berbicara yang jelek maka itu sebagai peleburnya yaitu :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Maha Suci Engkau, ya Alloh dan dengan pujianMu saya minta ampun dan bertaubat kepadaMu (HR. an Nasai 1344, Shohih at targhib 1518).

  1. Tidak terlalu sering berkunjung atau bertamu . Namun jika sahabat karib maka tidak mengapa.

Dari Habib bin Maslamah Rasululloh bersabda:

زُرْ غِبًّا تَزْدَدْ حُبًّا

Berkunjunglah jarang-jarang karena akan menambah kecintaan (HR. Ibnu Hibban 620, at Thobroni, Shohih lighairihi, lihat Shohih at Targhib 2583).

Dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha Ia berkata:

وَلَمْ يَمُرَّ عَلَيْنَا يَوْمٌ إِلاَّ يَأْتِينَا فِيهِ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – طَرَفَىِ النَّهَارِ بُكْرَةً وَعَشِيَّةً

Tidaklah berlalu suatu hari kecuali Rasululloh selalu mendatangi kami pagi maupun sore (HR. al Bukhori 6079).

Ibnu Baththol berkata: ‘Sahabat karib tidaklah banyaknya berkunjung kecuali akan menambah kecintaan berbeda dengan selain mereka’ (Al Fath 10/515). Walhamdulillah.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah Bulan romadhon…bulan yang membawa suka cita bagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *