Kamis , Oktober 22 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Adab / Adab amar ma’ruf nahi munkar
KLIK UNTUK BERINFAK

Adab amar ma’ruf nahi munkar

Adab amar ma’ruf nahi munkar

Menyuruh kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran (amar ma’ruf nahi munkar) merupakan salah satu pondasi di dalam Islam. Dengannya akan tercapai kebaikan dunia dan akhirat bagi individu maupun  masyarakat sehingga menjadikan ummat ini menjadi sebaik-baik ummat. Di samping itu amar ma’ruf nahi munkar  merupakan realisasi kecintaan kepada sesama mukmin (QS. At Taubah: 71), penyebab kemenangan terhadap musuh (QS. Al Hajj: 41), menjaga keamanan dan kebaikan masyarakat (Shohih al Bukhori 2493), pencegah adzab terhadap ummat (QS. Al Maaidah: 78-79), tuntutan yang esensial bagi yang mendambakan kesuksesan (QS. Al A’raaf: 164), faktor pendorong terkabulnya do’a (Sunan at Tirmidzi 2169), Pelebur dosa dan kesalahan ( Shohih Muslim 144) dan dapat menghidupkan sunnah.

Namun untuk melakukan ibadah mulia ini diperlukan beberapa bekal bagi setiap muslim agar tidak keliru dalam mempraktekkannya -minimal di dalam sebuah keluarga-. Diantaranya:

  1. Mengetahui tentang apa yang ia perintahkan dan apa yang ia larang. Hal ini mencakup ilmu tentang apa yang ia perintahkan, ilmu tentang obyek dakwah dan ilmu tentang tata cara memerintahkan dan melarang sesuatu. Tiga hal tersebut harus ada di dalam dada seorang pendidik khususnya dan orang tua serta masyarakat pada umumnya.
  2. Mengetahui syarat-syarat dalam mengingkari kemungkaran, yaitu:
  3. Hendaknya yang ingin diingkari tersebut betul-betul mungkar secara syar’i.
  4. Kemungkaran tersebut memang terjadi dan di sini ada tiga keadaan:

Pertama, Kemungkaran tersebut memang terjadi di depan mata semisal melihat anaknya yang sudah remaja berjalan mesra bersama gadis ajnabi atau menyaksikan anggota keluarganya yang lain melihat gambar tidak senonoh di internet atau facebook, maka dalam keadaan ini hendaknya diberikan nasehat dan peringatan tentang adzab Alloh apabila melakukan perbuatan tersebut.

Kedua, Kemungkaran tersebut masih samar semisal melihat seseorang membawa minuman keras atau melihat temannya berjalan bersama wanita yang tidak ia kenal. Dalam kondisi ini sebisanya orang tersebut mengingkarinya dengan baik dengan bertanya sebelumnya selama tidak dikhawatirkan bahaya akan menimpanya.

Ketiga, Pelaku kemungkaran sudah melakukan kemungkaran tersebut dan yang tersisa hanya bekasnya saja seperti melihat di atas meja ada sisa minuman keras atau melihat seorang laki dan perempuan ajnabi keluar dari dalam rumah, maka dalam kondisi ini bukanlah tempat untuk melarang tetapi dilaporkan kepada waliyul amri atau aparat yang berwenang.

  1. Hendaknya kemungkaran tersebut nyata dan nampak bukanlah dicari-cari. Islam sangat menghormati kemuliaan seorang muslim. Oleh karena itu dilarang seseorang untuk masuk ke dalam rumah orang lain tanpa izin dan melihat-lihat isi rumah tersebut dalam rangka mencari-cari aurat orang lain. Dari Mua’wiyah ia mendengar Rasululloh bersabda: “Sesungguhnya jika kamu mencari-cari aurat kaum muslimin maka kamu akan menghancurkan mereka atau hampir-hampir membinasakan mereka” (HR. Abu Dawud 4888 dan dishohihkan oleh syaikh Albani dalam at Ta’liqur Roghib 3/177). Kecuali jika orang tersebut mujahir (Memamerkan perbuatan maksiatnya) maka tidak ada kehormatan lagi buat mereka.
  2. Kemungkaran tersebut bukan dalam masalah yang diperselisihkan ulama. Perselisihan dalam Islam ada yang diperbolehkan dan ada yang tidak diperbolehkan. Perselisihan yang tidak diperbolehkan dan wajib diingkari adalah perselisihan dalam masalah ushuluddin (pondasi agama) dan khilaf yang syadz yang menyelisihi al Qur’an dan as Sunnah, serta ijma. Seperti mengaku ada Nabi setelah Nabi Muhammad. Sedangkan perselisihan yang diperbolehkan adalah perselisihan dalam masalah ijtihadiyah. Berkata Sufyan at Tsauri : “Jika engkau melihat seseorang mengamalkan sesuatu yang masih diperselisihkan sedangkan engkau berpendapat yang lain maka jangan engkau melarangnya” (al ahkam as Sulthoniyyah Abu Ya’la hal. 297). Seperti menggerakkan jari tatkala tasyahhud, setelah rukuk apakah qobd atau irsal, posisi duduk roka’at terakhir sholat subuh dan lainnya. Dikecualikan oleh al Qodhi Abu Ya’la jika khilaf tersebut sangat lemah dan jika tidak diingkari maka akan membawa kepada sesuatu yang terlarang menurut kesepakatan ulama maka bagi waliyul amri untuk tetap mengingkarinya seperti pendapat bahwa wanita boleh menikahkan dirinya tanpa wali atau tidak adanya riba pada mata uang (al adab as Syar’iyyah 1/190). Namun bagi yang sudah mendapatkan kebenaran yang lebih kuat dari masalah ijhtihadiyah tersebut tetap disarankan untuk memberikan nasehat dan penjelasan.
  3. Mengetahui tingkatan dalam amar ma’ruf nahi munkar

Tingkatan yang paling tinggi adalah mengingkari dengan tangan seperti menumpahkan minuman keras, menghancurkan patung atau sesembahan selain Alloh, menghukum orang yang tidak  sholat berjama’ah dan lainnya. Ini tidak bisa dilakukan kecuali oleh waliyul amri yang meliputi pemerintah termasuk juga orang tua kepada anak-anaknya kalau memang dengan kata-kata sudah tidak memungkinkan dan tidak ada mafsadat yang lebih besar.

Tingkatan kedua adalah merubah kemungkaran dengan lisan dan cara ini ada beberapa tahapan:

  1. Memberikan pemahaman dengan ungkapan yang lembut dan santun bahwa perbuatan tersebut tidak diperbolehkan atau hukumnya haram. Karena bisa jadi seseorang melakukan suatu kemungkaran karena ia anggap hal itu bukanlah kemungkaran. Jika terhadap ahlul kitab kita diperintahkan untuk mendakwahi mereka dengan baik (QS. An Nahl: 125), lalu bagaimana dengan selain mereka yang tidak tahu hukum agama?!
  2. Melarang dengan memberikan wejangan, nasihat dan menakuti mereka dengan adzab Alloh. Metode ini berlaku bagi yang orang yang sudah tahu hukum tetapi melanggarnya. Namun hendaknya diupayakan untuk dinasehati empat mata dan dijelaskan kepadanya bahwa tidak lain maksud menashatinya kecuali karena cinta kepadanya. Berkata Sulaiman al Khawwas: “Barangsiapa yang menasehati saudaranya empat mata maka ia telah menasehatinya dan barangsiapa yang menasehati saudaranya di khalayak ramai maka ia telah menjelekkannya”. Berkata Abdulloh bin Mubarok: “ Dahulu jika orang-orang melihat sesuatu yang mungkar pada diri saudaranya maka mereka memerintahkan untuk merahasiakannya dan melarangnya secara rahasia, adapun hari ini jika ada seseorang melihat kemungkaran pada diri saudaranya ia lantas memarahi saudaranya dan mencabik rahasianya” (Raudatul Uqola’ Ibnu Hibban 158).
  3. Menasehati dengan lebih keras jika cara lembut tidak bisa. Namun hendaknya selalu jujur dan tidak mengeluarkan perkataan yang tidak dibutuhkan. Metode ini dicontohkan oleh Nabi Ibrohim dalam surat al anbiya: 67.
  4. Mengancam dan menakut-nakuti. Cara ini adalah tingkatan terakhir merubah kemungkaran dengan lisan jika semua metode di atas tidak mempan dengan mengatakan misalnya : “Jika kamu tidak berhenti mengerjakannya saya akan menghukummu…! atau melaporkanmu ke pihak berwenang…!dll. Tetapi hendaknya ancaman tersebut masuk akal dan harus terkesan serius di hadapan orang tersebut.
    Tingkatan ketiga adalah pengingkaran dengan hati jika dengan lisan maupun dengan tangan tidak mampu dilakukan dan semua orang bisa melakukannya. Tatkala Ibnu Mas’ud ditanya tentang orang yang hatinya mati, beliau menjawab: “Orang yang hatinya tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari kemungkaran” (al Amru bil ma’ruf Ibnu Taimiyyah hal. 9).
  5. Mengedepankan yang paling penting kemudian penting menurut skala perioritas. Hendaknya memulai amar ma’ruf nahi munkar dalam masalah aqidah dengan menyeru kepada tauhid dan melarang syirik. Setelah itu masalah ibadah dengan mengajak manusia kepada sunnah dan melarang dari perbuatan bid’ah. Kemudian mengajak kepada kebajikan dan melarang dari segala bentuk kemungkaran dan membendung kemungkaran yang akan timbul terutama di dalam keluarga.
  6. Hendaknya selalu menimbang maslahat dan mafsadat dalam amar ma’ruf nahi munkar. Jika mengingkari kemungkaran tersebut justru akan menimbulkan kemungkaran yang lebih besar maka tidak diperbolehkan mengingkarinya pada kondisi tersebut (I’lamul Muwaqqiin 3/4). Namun tetap mengingkari dengan hati (ad Duraruts tsaniyyah 8/61). Jika maslahat dan mafsadatnya sama maka tidaklah dianjurkan untuk menyuruh dan tidak juga mengingkari (Majmu’ fatawa 28/129-130).
  7. Selalu mencari kejelasan suatu permasalahan dan tidak terburu-buru mengingkari suatu kemungkaran. Barangsiapa yang merenungi kisah Musa dan Khidir, kisah hud-hud dan Sulaiman maka ia akan memahami tentang sangat pentingnya mencari penjelasan dan kebenaran suatu berita sebelum inkarul munkar sehingga tidak menimpakan kepada saudaranya sesuatu yang tidak pernah dikerjakannya. Wabillahi at taufiq.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah Bulan romadhon…bulan yang membawa suka cita bagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *