Kamis , Oktober 22 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Adab / Adab –adab ketika jiwa ditimpa Futur
KLIK UNTUK BERINFAK

Adab –adab ketika jiwa ditimpa Futur

Adab –adab ketika jiwa ditimpa Futur

Manusia telah diciptakan oleh Alloh Ta’ala dalam keadaan lemah. Mereka cepat merasa letih dan bosan apalalagi jika melakukan rutinitas yang monoton. Penyakit ini dapat menimpa semua muslim dan fatalnya lagi jika hal ini telah merembet dalam aktivitas ibadah. Diriwayatkan oleh Abdulloh bin ‘Amr t bahwasanya Nabi bersabda:

لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَةٌ وَلِكُلِّ شِرَةٌ فَتْرَةٌ فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتِى فَقَدْ أَفْلَحَ وَمَنْ كَانَتْ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ

Setiap pekerjaan ada waktu semangatnya dan di setiap waktu giat itu akan  ada futurnya. Barangsiapa yang futurnya kepada sunnahku maka ia telah beruntung dan barangsiapa yang bukan berdasarkan sunnahku maka ia telah celaka (HR. Ahmad 2/157,165 dan dishohihkan oleh Syaikh Albani dalam Shohihul Jaami’ 2152).

Oleh karena bahayanya futur ini jika dibiarkan, Nabi berlindung kepada Alloh Ta’ala dari jiwa yang lemah dan malas. Maka selayaknya bagi kita untuk berusaha meniru beliau dan berusaha mengobati penyakit tersebut.

Definisi futur…

Berkata Ar Roghib mendefinisikan “Futur” dalam surat Al Anbiya’: 20 yaitu ‘Tidak tetap semangat dalam beribadah’ (Al Mufrodat fi Ghoribil Qur’an hal.371).

Futur adalah malas, mengakhirkan dan melambat-lambatkan setelah sebelumnya bersungguh-sungguh, giat dan bersemangat (Afaatut Thoriq, Dr. Sayyid Muhammad Nuh I/9). Penyakit futur ini ada yang membuat penderitanya terhenti sama sekali dari aktivitasnya, ada tetap eksis namun lemah dan tidak bergairah dan ada yang bisa kembali normal ke keadaan semula.

Macam-macam futur…

  1. Futur dan malas dalam semua keta’atan karena memang ia tidak suka dengan ibadah tersebut. Ini adalah keadaan orang-orang munafik yang difirmankan oleh Alloh ta’ala:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلا قَلِيلا

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali (QS. An Nisaa’: 142).

  1. Malas dan futur dalam sebagian ibadah sekalipun ia sebenarnya senang dengan ibadah tersebut dan merasa sedih tatkala luput darinya seperti gemarnya ia untuk sholat malam atau mengkhatamkan Al Qur’an namun ia tidak mengerjakannya-sekalipun ia bisa bangun atau mengingatnya-. Ia lebih banyak meninggalkannya daripada mengerjakannya. Hal ini kemudian berkelanjutan Keadaan ini menimpa kebanyakan kaum muslimin –nas’alulloh as salaamah wal’aafiah-. Alloh Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الأرْضِ أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الآخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلا قَلِيلٌ

Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal kenikmatan hidup di dunia Ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit (QS. at Taubah:38).

  1. Futur dan malas yang dirasakan seseorang pada waktu-waktu tertentu karena sebab sibuk, sakit, capek dan yang lainnya namun keadaan ini tidak berkelanjutan dan tidak membuatnya terjatuh dalam kemaksiatan ataupun meninggalkan kewajibannya sebagai seorang muslim. Futur jenis yang ketiga ini adalah sesuatu yang wajar dan tidak tercela.

Diriwayatkan oleh Muslim dari sahabat Handzholah bahwasanya ia pernah bertemu Abu Bakr lalu ia bertanya: ‘Bagaimana keadaanmu wahai handzholah?’. Ia menjawab: ‘Handzholah munafiq!’. Abu Bakr berkata: ‘Subhanalloh, apa yang engkau katakan…?!. Handzholah berkata: ‘Kita di sisi Rasululloh diingatkan tentang neraka dan surga seolah-olah di depan mata kita. Namun ketika kita keluar dari sisi Rasululloh kita dilalaikan oleh istri, anak dan perkerjaan sehingga kita banyak lupa’. Berkata Abu Bakr: ‘Demi Alloh, kami juga mengalami hal serupa’. Maka aku dan Abu Bakr menuju Rasululloh sampai kami masuk ke Rasululloh dan Handzholah mengatakan sebagaimana yang ia katakan kepada Abu Bakr. Maka Rasululloh bersabda:

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِى وَفِى الذِّكْرِ لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِى طُرُقِكُمْ وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً

Demi Alloh yang jiwaku di tanganNya, jika engkau konsisten sebagaimana engkau disisiku dan dalam berdzikir maka malaikat akan menyalamimu di tempat tidur dan di jalan-jalanmu tetapi wahai Handzholah sejenak…sejenak…(3 kali) (HR. Muslim 2750).

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha bahwasanya ia berkata kepada Abdulloh bin Qois : “Janganlah engkau meninggalkan sholat malam karena Rasululloh tidak pernah meninggalkannya. Jika beliau sakit atau malas beliau sholat dengan duduk” (HR. Ahmad 6/249 dan Abu Dawud 1307, Shohih Abi Dawud 1180).

Obat Penyakit Futur…

Futur dapat berdampak negatif seperti  malasnya ibadah, kerasnya hati sehingga sulit menerima nasihat, menganggap ringan dosa-dosa, mengentengkan beban yang dipundaknya dan meremehkan amanah, melemahnya rasa cinta kepada saudaranya sesama muslim bahkan memusuhinya, menfokuskan dirinya untuk sekedar mengejar dunia dan melemahnya semangat menuntut ilmu dan berdakwah, suka berdebat, banyak komentar tanpa beramal, perhatian berlebihan kepada makanan, minuman dan pakaiannya, padamnya rasa cemburu terhadap agama, menyia-nyiakan waktu dan tidak mengambil manfaat darinya, tidak ada persiapan untuk melakukan suatu amalan, semerawut dalam bekerja tanpa ada manajemen dan tujuan yang jelas, banyak berangan-angan, membatalkan amalan yang mulia dan perhatian terhadap hal-hal mubah saja.

Karena begitu bahayanya penyakit ini maka diperlukan obat untuk menyembuhkannya dengan izin Alloh Ta’ala yaitu:

  1. Menguatkan keimanan dan memperbaharuinya. Dari Abdulloh bin ‘Amr bin Al Ash rodhiyallohu ‘anhum bahwasanya Rasululloh bersabda:

إِنَّ الإِيْمَانَ لَيَخْلُقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلُقُ الثَّوْبَ ، فاَسْأَلُوا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيْمَانَ فِي قُلُوْبِكُمْ  

Sesungguhnya iman diciptakan dalam hati kalian seperti menciptakan pakaian maka mintalah kepada Alloh untuk memperbaharui iman dalam kalian hati kalian (HR. al Hakim dalam Al Mustadrok 1/4 dan dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Silsilah As Shohihah 1585). Menguatkan keimanan dapat dilakukan dengan memperbanyak ibadah fardhu maupun rowatib, shodaqoh sunnah, menyambung silaturrahim, menyantuni fakir miskin, menuntut ilmu dan ibadah lainnya.

2. Muroqobah (selalu mawas diri) dan memperbanyak mengingat Alloh Ta’ala. Muroqobatulloh mencakup rasa khauf (takut) kepadaNya, mengagungkanNya, beriman kepada takdirnya dan mencintai serta berharap kepadaNya. Adapun dzikrulloh (mengingat Alloh) dapat dilakukan dengan membaca Al Qur’an dan mentadabburinya. Alloh Ta’ala berfirman:

وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ 

Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa (QS. Al Kahfi: 24).

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang ditinggalkan” (QS. Al furqon: 30). Ditinggalkan baik dalam membacanya, mentadabburi dan mengamalkannya.

Ibnul Qoyyim berkata : ‘Sesungguhnya berdzikir akan memberikan pelakunya kekuatan sehingga ia bisa melakukan suatu amalan yang ia tidak sanggupi jika tidak berdzikir’. Beliau juga berkata: ‘Dzikir itu adalah kekuatan ruh dan jiwa, jika hilang dari seorang hamba maka menjadilah ia tubuh yang dihalangi dari kekuatannya’ (Al Wabilu as Sayyib hal.85, 155).

Diantara dzikir mutlak yang bisa diucapkan dalam menghadap persoalan yang berat dan pelik adalah dzikir perbendaharaan surga yaitu Laa haula wala quwwata illa billah.

3. Ikhlas dan bertaqwa

Hilangnya keikhlasan adalah penyebab dari penyakit futur. Oleh karena itu diperlukan penguatan dan pembaharuan niat dalam semua amalan. Karena orang yang ikhlas dan bertaqwa akan diberikan cahaya dalam hati dan dapat membedakan yang haq dan yang bathil. Alloh ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ

 Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan (QS. al Hadid: 28).

4. Penyucian hati dari dengki, hasad dan buruk sangka sehingga hati akan lapang. Oleh karena itu mempererat tali persaudaran antara sesama muslim mutlak diperlukan demikian pula banyak memberikan udzur kepada orang lain dan berusaha membalas kejahatan dengan kebaikan serta menghindari gosip serta desas desus terutama jika mengenai kehormatan saudaranya. Alloh Ta’ala berfirman mensifati orang mukmin yang senantiasa mengatakan:

ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا

“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman (QS. Al Hasyr: 10). Ingatlah selalu bahwasanya salah seorang shahabat ada yang dipersaksikan oleh Nabi masuk surga -padahal ibadahnya bisa-biasa saja,- karena selalu di malam hari ia bermalam dalam keadaan hatinya tidak pernah ada rasa hasad, dengki kepada seorangpun lain…!

5. Menuntut ilmu dan menghadiri pengajian atau ceramah agama

Ilmu adalah cahaya yang dapat mengangkat pemiliknya ke derajat yang tinggi. Semakin tinggil ilmu seseorang semakin banyak dan bagus amalannya karena pengetahuannya kepada Alloh semakin besar sehingga ia semakin takut kepadaNya. Dengan mengetahui keutamaan beramal dan ganjaran jika bersabar dalam keta’atan dan menjauhi maksiat seseorang akan berusaha mengamalkannya dengan giat dan tekun. Alloh Ta’ala berfirman (artinya) :

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) (QS. Al Anfaal:2). Rasululloh menyebutkan:

وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِى الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

Jika mereka mengetahui pahala dalam sholat isya dan subuh maka mereka akan mendatanginya sekalipun merangkak (HR. Al Bukhori 1/160, Muslim 252). Rasululloh menjadikan  pengetahuan tentang keutamaan beramal merupakan sebab untuk menghindari futur dan rasa malas.

6. Manapaki manhaj salafus sholih yang selamat dan lurus. Setiap kali seorang muslim berusaha mengikuti cara hidup para pendahulunya yang sholih dari kalangan para nabi, para shahabat dan ulama-ulama sunnah maka semakin lega dan tenang jiwanya dan keyakinannya semakin kuat dan mantap sehingga tidak terombang-ambing dalam lautan syubhat dan keragu-raguan dalam beragama.

7. Berusaha untuk bersikap pertengahan dalam beribadah dan menghindari sikap ghuluw. Alloh ta’ala berfirman (artinya) :

Wahai ahli kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu (QS. An Nisaa’:171).

Dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha Nabi  bersabda:

وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دَامَ وَإِنْ قَلّ

Dan sesungguhnya amalan yang dicintai oleh Alloh adalah yang kontinyu sekalipun sedikit (HR. Muslim 782, 216).

8. Manajemen waktu dan introspeksi diri

Jika seorang muslim kehilangan satu jam saja dari waktunya ia akan merasa rugi apalagi sampai berhari-hari. Lihatlah bagaimana generasi terbaik dari ummat ini bagaimana kehidupan mereka anda akan dapatkan kekikiran mereka dalam masalah waktu lebih dari yang lain. Mereka digambarkan seperti singa di siang hari dan ahli ibadah di malam hari, tidak pernah futur dan mengeluh.

9. Menvariasikan ibadah dan amalan

Rasululloh menunjuki ummatnya jika mereka jenuh dengan suatu amalan hendaknya beralih ke amalan yang lainnya dan jika telah kuat berusaha untuk kembali mengerjakannya. Abu dzar tatkala bertanya kepada kepada beliau: ‘Wahai Rasululloh, bagaimana kalau aku lemah dari mengerjakan sebagian amalan?. Maka beliau menjawab:

تَكُفُّ شَرَّكَ عَنِ النَّاسِ فَإِنَّهَا صَدَقَةٌ مِنْكَ عَلَى نَفْسِكَ

Tahan kejelekanmu terhadap orang lain  karena itu akan menjadi shodaqoh bagi dirimu (HR.Muslim 136).

10. Mengingat kematian dan khawatir dari su’ul khotimah

Mengingat kematian akan membuahkan tiga sifat mulia seperti menyegerakan bertaubat, hati yang qona’ah dan semangat dalam beribadah sedangkan melupakan kematian akan berakibat tiga sikap berbahaya yaitu menunda taubat, tidak qona’ah dan malas dalam beribadah. Salah satu yang dapat menguatkan semangat dalam beribadah adalah menyaksikan orang yang sedang sakratul maut.

Al Hasan Al Bashri pernah menjenguk seseorang yang sakit sedang mengalami sakratul maut. Beliau menyaksikan bagaimana kesusahan dan dahsyatnya. Lalu ia kembali pulang dengan wajah yang berubah. Maka keluarganya mempersilahkannya makan kemudian beliau berkata: “Wahai keluargaku, makan dan minumlah sesungguhnya aku telah melihat pemandangan yang menakutkan yang membuatku akan terus beramal sampai aku menemuinya nanti” (At Tadzkiroh Al Qurthubi hal. 17).

11. Berdo’a dan meminta perlindungan kepada Alloh dari penyakit futur dan rasa malas. Wallohul Musta’an.

Tentang Penulis Ali Sulistiono

Ustadz Ali Sulis Abu Bakr Al Atsary -hafidzahullah-. Pendidikan : S1 UNRAM, Ma'had 'Ali AL-Furqon Al-Islamy Gresik JATIM. Aktifitas dakwah : Staf pengajar di Ponpes Abu Hurairah Mataram, Pemateri kajian di masjid Imam Syafi'i karang anyar dan dewan redaksi majalah Al-Furqon Al-Islamy

Silahkan Pilih Yang Lain

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah

Kiat-kiat meraih kelezatan ibadah di bulan penuh berkah Bulan romadhon…bulan yang membawa suka cita bagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *