Kamis , Oktober 22 2020
Breaking News
Home / Belajar Islam / Fiqih / Syarat-syarat I’tikaf bag.1
KLIK UNTUK BERINFAK

Syarat-syarat I’tikaf bag.1

Syarat-syarat I’tikaf

I’tikaf mempunyai beberapa syarat yang terkumpul dalam hadits Ummul Mukminin Aisyah – radhiallahu anha – , beliau berkata :

السنة على المعتكف : أن لا يعود مريضا , ولا يشهد جنازة , و لا يمس امرأة , و لا يباشرها , و لا يخرج لحاجة إلا لما لا بد منه , ولا اعتكاف إلا بصوم , ولا اعتكاف إلا في مسجد جامع

Artinya : “Disunnahkan atas orang yang beri’tikaf untuk tidak menjenguk orang sakit , tidak menghadiri sholat jenazah , tidak menggauli istri , tidak mencumbuinya , tidak keluar kecuali untuk kebutuhan yang mendesak yang harus ditunaikan , dan tidak ada i’tikaf kecuali dibarengi dengan puasa , serta tidak boleh beri’tikaf kecuali di masjid jami’ ” .[1]

Dan syarat-syarat ini adalah :

  1. Berpuasa, Berdasarkan perkataan Aisyah – radhiallahu anha – :

ولا اعتكاف إلا بصوم

Artinya : “Tidak ada i’tikaf kecuali dibarengi dengan puasa” .

Dan nampaknya , perkataan ini sebatas anjuran atau ini adalah pendapat Ummul Mukminin Aisyah – radhiallahu anha – , dan bukan termasuk sunnah yang telah disebutkan oleh Aisyah – radhiallahu anha – di awal hadits sebagaiman yang dipahami dari konteks hadits .

Dan telah berlalu penyebutan hadits Umar bin Khottob – radhiallahu anhu –, bahwasannya dia berkata :

 

يا رسول الله , إني نذرت في الجاهلية أن أعتكف ليلة في المسجد الحرام , فقال له النبي – صلى الله عليه و سلم – : أوف نذرك , فاعتكف ليلة

 Artinya : “Wahai Rasulullah , sesungguhnya aku bernadzar pada masa jahiliyyah untuk beri’tikaf 1 (satu) malam di masjid al haram , maka Nabi – shallallahu alaihi wa sallam – bersabda : “Tunaikanlah nadzarmu”.Kemudian Umar beri’tikaf 1 (satu) malam .

Imam Bukhari – rahimahullah – telah berdalil dengan hadits ini , atas tidak wajibnya berpuasa dalam I’tikaf , karena Nabi – shallallahu alaihi wa sallam – memerintahkan Umar bin Khottob untuk menunaikan nadzarnya , kemudian Umar beri’tikaf  malam hari, dan ini tidak mengharuskan adanya puasa , sebagaimana yang ditunjukkan oleh lafadz hadits .

Imam Bukhari telah membuat bab tentang masalah ini dalam shohihnya (2/69).[ Bab : Orang Yang Tidak Berpendapat Disyariatkannya Berpuasa Jika Beri’tikaf ] .

Al ‘Aini berkata dalam Syarah Bukhari (11/146) :

قال الكرماني : فيه أنه لا يشترط الصوم لصحة الاعتكاف

Artinya : “Al Kirmani berkata : Dalam hadits ini menunjukkan, Bahwasanya tidak disyaratkan berpuasa untuk sahnya I’tikaf “

Dan inilah yang dirajihkan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (4/322) .

Dan ini adalah pendapat yang tepat , ditambah lagi dengan dhoifnya (lemahnya) hadits yang menyebutkan wajibnya berpuasa dalam I’tikaf.[2]

Adapun Syaikhul Islam Ibnul Qoyyim – Rahimahullah –, merajihkan adanya pensyaratan berpuasa dalam beri’tikaf , beliau – rahimahullah – berkata dalam Zadul Ma’ad (2/87-88) : “Tidak pernah dinukil sama sekali dari Nabi – shallallahu alaihi wa sallam – bahwasanya beliau beri’tikaf dalam keadaan tidak berpuasa , bahkan Aisyah telah berkata : “Tidak ada I’tikaf kecuali dibarengi dengan dengan puasa” , dan Rasulullah – shallallahu alaihi wa sallam –, tidak pernah beri’tikaf kecuali dengan berpuasa , maka pendapat yang rajih berdasarkan dalil yang dijadikan sandaran oleh kebanyakan ulama salaf : bahwasannya berpuasa adalah syarat I’tikaf , dan inilah yang dirajihkan oleh Syaikul Islam Abul abbas Ibnu Taimiyyah ” .

Saya (Muallif) mengatakan : Bahkan Dalil-dalil tersebut dinukil dengan sanad-sanad yang shohih dari sekelompok salaf , diantaranya : Aisyah , sebagaimana yang telah lalu , Ibnu Abbas – Radhiallahu anhuma – , Urwah bin Az Zubair , Zuhri , dan Ibrohim An Nakho’i .[3]

Dan juga diriwayatkan dari Ibnu Umar akan tetapi dengan sanad yang tidak shohih .[4]

Dalam masalah ini terdapat 2 (dua) riwayat dari Ahmad , dan yang paling shohih adalah (berpuasa dalam I’tikaf) hukumnya sunnah , ini adalah riwayat Hanbal , Abu Tholib , Ali bin Said , dan ini adalah riwayat Ishaq An Naisaburi.[5]

Dan adapun perkataan mereka : Sesungguhnya Allah – azza wa jalla – tidaklah menyebutkan I’tikaf kecuali dengan puasa, maka tidak ada dalam ayat yang mengharuskan adanya keterkaitan antara keduanya , dan jika tidak demikian adanya , maka tidak ada puasa kecuali dengan beri’tikaf , dan tidak ada yang mengatakan demikian .[6]

 

Sumber Bahan :

  • Kutaib Fiqhul I’tikaf –  Syaikh Amr Abdul Mun’im Salim

[1] .Hadits shohih dikeluarkan oleh Abu Dawud no hadits 2473 , Baihaqi dalam Al Kubro 4/321 dari jalan Abdurrahman bin Ishaq , dari Zuhri , dari Urwah , dari Aisyah – radhiallahu anha -.

[2] yaitu hadits yang dikeluarkan oleh Abu Dawud no hadits 2474 dari jalan : Abdullah bin Budail , dari Amru bin Dinar , dari Ibnu Umar : Bahwasanya Umar – radhiallahu anhu – menetapkan untuk dirinya, beri’tikaf pada masa jahiliyyah selama 1 (satu) malam – 1 (satu) hari – di ka’bah , kemudian dia bertanya kepada Nabi , kemudian Nabi menjawab : “Beri’tikaf dan berpuasalah” .

Saya (muallif) mengatakan : Dan ini adalah riwayat yang mungkar , Abdullah bin Budail telah menyelisihi hadits yang mahfudz dari Ibnu Umar tentang kejadian ini , dan Abdullah bin Budail ini adalah orang yang dhoiful hadits(lemah haditsnya). Dan hadits ini telah didhoifkan oleh Daruquthni , Ibnu Adi , dan Al Hafidz Ibnu Hajar).

[3] .Dalam Mushonnaf Abdurrazzaq 4/353 , Ibnu Abi Syaibah 2/333.

[4] .Dalam Mushonnaf Abdurrazzaq dari riwayat Atho’ bin Abi Rabah dari Ibnu Umar , dan Atho tidak pernah mendengar dari Ibnu Umar , akan tetapi hanya melihatnya sekali.

[5] .Lihat kitab Ar Riwayataini Wal wajhaini 1/267. Dan juga lihat kitab Masail Ishaq bin Ibrahim bin Hani’ An Naisaburi no 676

[6] .Lihat Fathul Bari 4/323.

 

Tentang Penulis Bahrul Ulum Ahmad Makki

Bahrul Ulum Ahmad Makki -hafidzahullah-. Riwayat pendidikan : SDN 7 Kediri Lobar, MTs-MA Pesantren Selaparang NW kediri Lombok Barat,Ma'had Imam Syafi'i Cilacap, Ma'had Aly Al-Irsyad Surabaya, Takmily LIPIA Jakarta, Darul Hadits Republik Yaman ( Syaikh Abul Hasan Al-Ma'riby dan Syaikh Muhammad Al-Imam Ma'bar), Universitas Yemenia - Yaman, Universitas Muhammadiyah Surabaya ( Pascasarjana ) Aktifitas : Pengasuh dan pengajar di pondok Tahfidz Al-Mahmud Al-Islamy, Pembina Yayasan Al-Hakam NTB, Pengasuh Web alhakam.com

Silahkan Pilih Yang Lain

Nasehat akhir tahun

Nasehat akhir tahun إِنَّ اْلحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *